1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Prevalensi HIV di Eropa Naik di Afrika Turun

Penyakit melemahnya kekebalan tubuh HIV/AIDS tetap menduduki peringat paling atas dalam masalah kesehatan sedunia. Yang menarik, penelitian UNAIDS menunjukan, kasus infeksi baru justru meningkat di Eropa.

default

Penggunaan kondom dan mengubah perilaku berisiko terbukti dapat mengurangi prevalensi baru HIV.

Jajak pendapat yang diikuti sekitar 12.000 responden orang dewasa menunjukkan, 30 tahun setelah menjalarnya epidemi AIDS, penyakit itu masih tergolong isu paling penting yang dihadapi masyarakat internasional. Lebih jauh lagi, direktur eksekutif badan PBB urusan penyakit AIDS-UNAIDS, Michael Sidibe memaparkan, lebih separuh responden menyatakan optimis, penyebaran HIV akan dapat diredam pada tahun 2015.

“Walaupun begitu, separuh dari responden menyatakan kurangnya pendanaan sebagai hambatan. Dan lebih dari 70 persen mengatakan sumber daya harus diarahkan untuk pencegahan HIV. Ini menonjolkan pentingnya langkah menghentikan infeksi baru“, ujar Sidebe menambahkan.

Jajak pendapat itu menunjukan, sekitar 30 persen responden menilai, kepedulian publik terhadap AIDS sejauh ini merupakan prestasi cukup besar. Kemudian diikuti oleh penerapan program pencegahan AIDS dan pengembangan obat baru anti-retrovirus. Lebih dari 50 persen responden menilai, kurangnya layanan pencegahan merupakan kendala besar. Sementara praduga buruk dan diskriminasi merupakan hambatan berat berikutnya.

Dalam laporan terbaru UNAIDS itu juga ditunjukkan, prevalensi HIV di kalangan generasi muda mengalami penurunan, terutama di negara-negara kawasan sub-Sahara di Afrika. Sidibe mengatakan, laporan itu secara signifikan menunjukkan penurunan infeksi HIV sebesar 25 persen di kalangan generasi muda di 15 negara yang paling parah kasus penularannya. Diantaranya di Botswana, Pantai Gading, Ethiopia, Kenya, Malawi dan Zimbabwe. Sidibe memaparkan penyebabnya ; “Hasil yang bagus dalam laporan ini, dapat terjadi karena generasi muda melaksanakan perilaku sex aman, melakukan hubungan sexual dalam usia lebih tua, memiliki lebih sedikit pasangan sex dan juga memakai kondom.“

Di saat sebagian Afrika mengalami kemajuan dengan menurunnya laju penularan, kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah tetap menghadapi masalah besar. Wakil direktur eksekutif UNAIDS, Paul de Lay mengatakan sekitar 57 persen kasus infeksi baru HIV di kawasan itu, terjadi di kalangan pecandu narkoba pengguna jarum suntik.

“Sejauh ini kami melihat peningkatan kasusnya di kalangan generasi muda berusia 15 hingga 24 tahun khususnya di negara-negara Eropa Timur, yakni di Federasi Rusia, Ukraina, Georgia dan Belarusia. Di negara lainnya di dunia, terlihat kasusnya stabil bahkan menurun, yang dapat kami kaitkan dengan kebijakan pengurangan perilaku berisiko“, kata De Lay.

Walaupun program pencegahan dan pengobatan AIDS menunjukan hasil positif, namun pandemi global itu tetap menjadi ancaman serius. UNAIDS memperkirakan pada tahun 2008 lalu sekitar 33,4 juta orang di seluruh dunia mengidap HIV-AIDS. Sekitar 2,7 juta merupakan kasus infeksi baru dan dua juta orang meninggal akibat penyakit ikutan dari AIDS.

Lisa Schlein/Agus Setiawan

Editor : Asril Ridwan