Presiden Ukraina Tawarkan Gencatan Senjata | dunia | DW | 17.06.2014
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Presiden Ukraina Tawarkan Gencatan Senjata

Presiden Ukraina menawarkan gencatan senjata kepada kubu separatis pro Rusia. Tapi militer Ukraina lebih dulu harus mengamankan kawasan perbatasan ke Rusia.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengatakan, begitu perbatasan ke Rusia bisa diamankan, segera akan dilakukan gencatan senjata sementara dengan kelompok-kelompok yang memberontak. Tujuan gencatan senjata adalah untuk membahas rancangan agenda perdamaian.

Hal itu disampaikan Poroshenko setelah melakukan pertemuan dengan Dewan Keamanan Nasional di Kiev.

"Melakukan gencatan senjata selama perbatasan (dengan Rusia) masih terbuka, adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab", kata Poroshenko. Ia telah memerintahkan militer untuk mengamankan seluruh perbatasan dalam minggu ini.

Gencatan senjata yang ditawarkan adalah bagian dari agenda perdamaian untuk menyelesaikan krisis di Ukraina. Ia menerangkan, rancangan perdamaian itu termasuk juga reformasi konstitusi yang akan menerapkan desentralisasi dan memberi wewenang lebih besar kepada daerah.

Ia juga mengulangi tawaran untuk memberi amnesti kepada para pejuang separatis "yang tangannya tidak berlumur darah".

Separatis rebut kantor cabang Bank Nasional

Kubu separatis pro Rusia di Donetsk hari Senin (16/06) merebut kantor cabang Bank Nasional di kota itu. Bank Nasional menyimpan dana dari pengumpulan pajak dan anggaran daerah.

"Kami sudah mempersiapkan serangan ini lebih dari satu bulan", kata anggota separatis Oleksandr Matyushyn kepada kantor berita AFP. Puluhan orang bersenjata menyerang dan menduduki gedung Bank Nasional yang diduga menyimpan dana bernilai ratusan juta dolar.

"Kami akan mengambil alih sistem perbankan di Donetsk", kata Matyushin.

Krisis di Ukraina timur sampai saat ini sudah menewaskan lebih dari 300 orang, termasuk 49 serdadu Ukraina yang tewas ketika pesawat mereka ditembak jatuh separatis di bandar udara Luhansk.

Rusia ajukan rancangan resolusi

Rusia mengajukan rancangan resolusi ke Dewan Keamanan PBB dengan alasan, eskalasi konflik di Ukraina timur telah menyebabkan krisis kemanusiaan.

Duta Besar Rusia di PBB Vitaly Churkin menerangkan, resolusi itu menuntut gencatan senjata dan bantuan kemanusiaan bagi penduduk di kawasan konflik.

Sebaliknya, negara-negara Barat dan pemerintah Ukraina menuduh Rusia memberi bantuan logistik dan senjata kepada kelompok separatis, Rusia juga dituduh membiarkan masuknya relawan militan dari Cehnya untuk membantu kubu separatis.

Hari Senin (16/06) pembicaraan gas antara Ukraina dan Rusia gagal mencapai kesepakatan. Perusahaan gas Rusia Gazprom kemudian menghentikan pemasokan gas ke Ukraina dengan alasan, masih ada utang yang belum dibayar. Gazprom selanjutnya hanya akan memasok gas dengan pembayaran dimuka.

hp/ab (rtr, afp)

Laporan Pilihan