1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Presiden Jokowi Ingatkan Semangat Solidaritas Asia Afrika

Semangat solidaritas antara negara-negara Asia Afrika harus terus dibangun, kata Presiden Joko Widodo dalam acara peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung.

Para kepala negara dan pemerintahan serta delegasi dari 91 negara hadir dalam acara peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berakhir di Bandung hari Jumat (24/04).

Dalam pidatonya, Presiden Jokowi mengenang kembali solidaritas Asia-Afrika tahun 1955 melawan kolonialisme.

"Pada 60 tahun lalu hanya 29 negara yang menghadiri Asia Afrika, bahkan Sudan hadir dengan kain putih bertuliskan 'Sudan'. Dia belum merdeka dan tidak punya bendera. Kini peta dunia sudah berubah," kata Jokowi di Gedung Merdeka, Bandung, lokasi Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.

Jokowi selanjutnya mengatakan, 91 negara yang menghadiri KAA sekarang ini memiliki semangat yang sama, walaupun menghadapi tantangan yang berbeda. Para pelopornya, seperti Nehru (India), Sir John Kotelawala (Sri Lanka), Muhammad Ali Bogra (Pakistan), Soekarno (Indonesia), dan U Nu (Burma) menggerakan rasa solidaritas di kedua kawasan.

Semangat Bandung

"Sebagai Presiden RI yang memimpin lebih dari 250 juta penduduk, saya sadari Indonesia belum bebas dari kemiskinan, kami masih ketinggalan dari negara-negara lain. Permasalahan ini pun masih dirasakan negara Asia Afrika," kata Jokowi.

Karena itu, dia meminta negara-negara Asia-Afrika bekerja sama di bidang ekonomi, agar bangsa-bangsa di Asia dan Afrika sejajar dengan bangsa lainnya.

"Mari kita perjuangkan semangat 60 tahun lalu, agar segala bentuk kekerasan dihentikan, kemerdekaan Palestina harus terus diperjuangkan," ujarnya.

Pada acara peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60, para kepala negara dan kepala pemerintahan melakukan historical walk dengan berjalan kaki sekitar 100 meter dari Hotel Savoy Homann menuju Gedung Merdeka.

Monumen Solidaritas

Presiden Joko Widodo meresmikan sebuah Monumen Solidaritas Asia Afrika di Jalan Asia Afrika, Bandung, dengan pembubuhan tanda tangan pada prasasti yang sudah disiapkan. Jokowi didampingi Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan sejumlah undangan.

Setelah penandatanganan, Jokowi dan Ridwan Kamil disambut dengan tepuk tangan dan ucapan selamat oleh para tamu negara yang mendampingi. Hadirin kemudian antusias melakukan foto bersama di sekitar kawasan Monumen Solidaritas.

Konferensi Asia Afrika diselenggarakan bersama-sama oleh Indonesia, Burma, Sri Lanka, India dan Pakistan, dan berlangsung 18 April sampai 24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung. Tujuannya antara lain mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika, dan melawan kolonialisme serta neokolonialisme.

Rencana eksekusi mati mengundang protes

Sebanyak 29 negara hadir dalam konferensi bersejarah itu, yang kemudian melahirkan deklarasi yang dikenal sebagai Dasasila Bandung. Isinya antara lain menghormati hak-hak dasar manusia yang termuat di dalam piagam PBB, Mengakui kesetaraan semua suku bangsa dan semua bangsa, besar maupun kecil, dan menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB.

Sementara di Jakarta, para diplomat dari Filipina dan negara-negara Afrika menunggu eksekusi mati warganya di Pulau Nusakambangan. Perancis memperingatkan Indonesia agar tidak melakukan eksekusi mati.

Filipina kembali memohon Presiden Jokowi memberi pengampunan kepada warganya Mary Jane Veloso, pembantu rumah tangga asal Filipina yang tertangkap membawa 2,6 kg heroin di Yogyakarta dan dijatuhi hukum mati.

hp/yf (kompas, detik, tempointeraktif)

Laporan Pilihan