1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Presiden Jerman Horst Köhler di India

Presiden Jerman Horst Köhler melanjutkan lawatannya di India dalam rangka pertukaran budaya dan ilmu pengetahuan.

Presiden Horst Köhler, tengah, didampingi Ibu Negara Eva Luise Kohler, mengunjungi Prasasti Penghormatan terhadap Mahatma Gandhi di India.

Presiden Horst Köhler, tengah, didampingi Ibu Negara Eva Luise Kohler, mengunjungi Prasasti Penghormatan terhadap Mahatma Gandhi di India.

"Sprechen alle Deutsch? Ja!"

Begitulah Presiden Jerman Horst Köhler menyapa para siswa sekolah bahasa Jerman Goethe Institut di New Delhi.

"Apa yang Anda sukai dari bahasa Jerman?" tanya Köhler. Siswa-siswa menjawab serentak, "Saya pikir semuanya, tapi saya sangat suka tata bahasa."

Para remaja itu menunggu kedatangan Köhler dengan sabar. Kemudian kemampuan bahasa Jerman para siswa Goethe Institut New Delhi membuat Köhler terkesima.

"Jika saya melihat Anda, dapat saya simpulkan, bahwa Anda adalah masa depan, bagi India, juga bagi wilayah lain di dunia dan juga mungkin bagi Jerman," kata Köhler mengomentari para remaja itu.

Kepuasan juga dirasakan para siswa. Salah seorang siswa mengomentari Presiden Köhler dengan, "Beliau sangat luar biasa, sangat baik."

Agenda utama hari kedua lawatan Presiden Jerman Horst Köhler di India adalah pertukaran budaya dan ilmu pengetahuan.

Pembicaraannya dengan cendikiawan India antara lain mengenai peranan India dalam menciptakan tatanan dunia baru yang kooperatif. Köhler menggarisbawahi pentingnya saling mendengarkan dan berjalan berdampingan.

Presiden Köhler dalam pidatonya di India mengungkapkan bahwa dirinya merasakan kemajuan India untuk bekerja sama dengan masyarakat internasional dan siap menyelesaikan masalah-masalah dalam negerinya.

"Dalam waktu tertentu, satu miliar manusia tidak dapat diisolasi dari perekonomian, dan itu berarti perbaikan sosial, perbaikan standar hidup dan menurut saya, terlalu banyak manusia, jutaan di antara mereka yang harus hidup secara manusiawi dan maka dari itu kami semua memiliki satu kepentingan, terutama untuk bekerja sama dengan India, kepentingan bahwa India akan maju," ungkapnya.

Saat ini sekitar 900 juta warga India hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara itu sekitar 100 juta warga India berada di tingkat kesejahteraan yang tinggi. Köhler yakin, India sangat ingin menyelesaikan masalah ini. Semua mitra bicaranya di India, yaitu presiden, perdana menteri, hingga para pemimpin partai telah meyakinkannya, demikian dikatakan Presiden Köhler.

"Semua pihak menempatkan pengentasan kemiskinan sebagai pusat perhatian kesadaran politisnya dan mereka sebenarnya ingin menuntaskan kewajiban ini, terutama melalui pendidikan generasi muda, terutama itu dan saya yakin , ini merupakan inti pendekatan yang tepat," papar Köhler.

Tidak hanya India yang diimbau untuk mengatasi masalah sosialnya. Dunia perindustrian juga diharapkan menyumbangkan andil bagi tatanan dunia yang lebih adil. Ini ditunjukkan terutama dalam perlindungan iklim, yaitu tema yang selalu disinggung Köhler dalam pertemuan politisnya.

Köhler menjelaskan, "Kami harus mengurangi emisi gas karbondioksida, dengan begitu dipahami bahwa kami mengupayakannya dengan tidak mudah. Karena kami yang awalnya mengeluarkan emisi gas karbondioksida dan dengan begitu menyebabkan pemanasan bumi di utara. Jadi kami harus bekerja sama dan membantu, bahwa India adalah negara yang memerlukan pertumbuhan ekonomi yang tidak menyebabkan emisi gas karbondioksida secara tidak terkontrol, melainkan membantu mereka memisahkan pertumbuhan ekonomi dari emisi karbondioksida."

Agenda lawatan Presiden Jerman Horst Köhler selain kunjungan ke Goethe Institut, juga pertemuan dengan para penerima beasiswa Yayasan Alexander von Humboldt dan DAAD, serta peresmian gedung Pusat Penelitian Ilmu Komputer Max Planck, suatu lembaga penelitian gabungan India dan Jerman.

Bettina Marx/Luky Setyarini

Editor: Christa Saloh-Foerster