1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Presiden Baru Parlemen Eropa

Presiden terpilih baru Parlemen Eropa, Martin Schulz dari Jerman menyerukan agar parlemen lebih aktif dalam mengatasi krisis utang di zona Euro. Schulz yang dari partai sosial demokrat, memenangkan 387 dari 670 suara.

Martin Schulz tumbuh dewasa di Eropa yang perbatasan negaranya masih dijaga. Justru karena itu, dalam pidato pemilihannya ia menekankan pentingnya Uni Eropa. Pelajaran dari rangkaian konflik di bagian pertama abad ke 20 hingga kini tetap berlaku, dan hanya kebersatuan Eropa bisa menyelesaikan konflik baru.

Martin Schulz, presiden baru Parlemen Eropa ini menilai karya besar kebersatuan ini terancam oleh krisis Euro. "Untuk pertama kali setelah pembentukannya, kegagalan Uni Eropa secara realistis bisa terjadi. Sejak beberapa bulan, berlangsung rangkaian pertemuan puncak. Keputusan berulang kali diambil oleh para kepala negara, dibalik pintu tertutup“

Parlemen yang Lebih Berperan

Schulz ingin mengubah ini dengan mengembangkan peran parlemen Eropa. Parlemen, yang ia ingatkan, adalah satu-satunya lembaga Uni Eropa yang dipilih secara demokratis. Perjuangan ini sudah dimulainya, sejak ia masih menjabat sebagai ketua fraksi Sosial Demokrat di parlemen Uni Eropa. "Siapapun yang meyakini bahwa Uni Eropa akan menjadi lebih kuat dengan mengurangi peran parlemen, mulai saat ini juga akan saya lawan. Dan saya harap, dengan bantuan Anda bersama.“

Martin Schulz

Presiden Parlemen Eropa, Martin Schulz

Secara konkrit, Schulz akan mendorong perubahan dengan menghadiri pertemuan-pertemuan puncak sebagai Presiden Parlemen Eropa. Kesepakatan Lisbon, yang berlaku sejak dua tahun lalu telah memberikan kewenangan lebih besar pada Parlemen Eropa. Namun menurut dia, hak-hak baru itu belum seluruhnya digunakan oleh para anggota parlemen.

Sebagai perwakilan dari warga Eropa, Schulz ingin agar parlemen yang bermarkas di Strasbourg itu bisa berunding secara sejajar dengan Dewan Eropa, persisnya wakil dari pemerintahan negara-negara Eropa. Yang pasti, ia tidak akan menjadi Presiden Parlemen yang penurut, begitu ungkap Martin Schulz.

Posisi yang disambut Komisi Eropa

Sikap ini disambut oleh Ketua fraksi Hijau di parlemen Eropa. Dukungan serupa juga datang dari Presiden Komisi Eropa, José Manuel Barroso, yang juga merasa terdesak oleh kumpulan kepala negara di Dewan Eropa. "Ia betul untuk memiliki visi yang ambisius bagi peran parlemen. Dalam memperjuangkannya, ia dan seluruh parlemen Eropa bisa selalu mengandalkan Komisi Eropa.“

Konflik berikut tampaknya sudah di ambang pintu. Martin Schulz dikenal menentang hampir semua kebijakan pemerintahnya dalam memecahkan masalah utang negara Euro. Dalam perundingan kesepakatan fiskal mendatang. Schulz akan turut angkat suara. Sementara banyak pemerintahan Eropa yang mendukung penetapan pembatasan utang negara, yang seperti di Jerman tercantum dalam konstitusi.

Menggantikan rekannya dari Polandia, Jerzy Buzek, masa jabatan baru Presiden Parlemen Eropa Martin Schulz berlangsung hingga 2014.

Wolfgang Landmesser / Edith Koesoemawiria
Editor: Carissa Paramita