1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Presiden Baru Mesir dari Ikhwanul Muslimin

Calon Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi terpilih menjadi presiden Mesir setelah memenangkan pemilu ulang. Hal itu diumumkan komisi pemilu, Minggu (24/06) di Kairo.

Presidential candidate Mohamed Morsy of the Muslim Brotherhood waves to his supporters after casting his vote at a polling station in a school in Al-Sharqya, 60 km (37 miles) northeast of Cairo in this June 16, 2012 file photo. Islamist Mohamed Morsy of the Muslim Brotherhood was elected president of Egypt after he defeated former general Ahmed Shafik in last weekend's run-off vote, the state election committee said on June 24, 2012. REUTERS/Ahmed Jadallah/Files (EGYPT - Tags: POLITICS ELECTIONS)

Muhammad Mursi

Lebih dari 80 juta rakyat Mesir menunggu pengumuman hasil akhir pemilu ulang dengan tegang. Komisi pemilu membutuhkan waktu sepekan untuk menghitung kertas suara. Sekarang hasil resmi sudah diumumkan. Muhammad Mursi adalah presiden baru Mesir. Ia anggota Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) dan ketua Partai untuk Kebebasan dan Keadilan.

Tiga puluh tahun yang lalu, insinyur bergelar doktor itu sudah bergabung dengan Ikhwanul Muslimin. Sampai sekarang ia sudah memangku beberapa posisi dalam Ikhwanul Muslimin. Awalnya ia bertugas di bagian agama, kemudian di kantor pimpinan, dan akhirnya menjadi calon resmi anggota parlemen Mesir.

Karir dalam Ikhwanul Muslimin

Karirnya tidak berhenti di situ. Tahun 2005, Mursi yang juga pernah tinggal di AS, menjadi juru bicara resmi Ikhwanul Muslimin. Karena di tahun sama ia mendukung aksi protes terhadap manipulasi pemilu parlemen, ia ditangkap tahun 2006, dan dipenjara tujuh bulan. Setelah kerusuhan dan jatuhnya mantan penguasa Hosni Mubarak, April 2011 Muhammad Mursi menjadi ketua Partai untuk Kebebasan dan Keadilan, yang didirikan di kalangan Ikhwanul Muslimin. Akhir tahun lalu, ia memimpin partai itu dalam kampanye pemilu parlemen, dan berhasil mendapat 45% suara.

Supporters of Muslim Brotherhood's presidential candidate Mohamed Morsy celebrate his victory at the election at Tahrir Square in Cairo June 24, 2012. REUTERS/Ahmed Jadallah (EGYPT - Tags: POLITICS ELECTIONS)

Pendukung Mursi mengelu-elukan calon dari Ikhwanul Muslimin itu (24/06).

Tetapi tidak ada yang menyangka, bahwa Mursi, yang berusia 60 tahun, akhirnya menjadi pengganti Hosni Mubarak. Dalam Ikhwanul Muslimin sendiri, Mursi sebenarnya hanya pilihan kedua. Partai untuk Kebebasan dan Keadilan baru menempatkannya sebagai kandidat, setelah wakilnya, Chairat al Shater tidak boleh dicalonkan dalam pemilihan presiden. Al Shater dianggak karismatik, sedangkan Mursi pragmatik.

Kontinuitas, Bukan Perubahan

"Muhammad Mursi adalah sosok yang tidak menonjol." Itu juga dikatakan Hamadi al Aouni, pakar Mesir di universitas Jerman, Freie Universität Berlin, dalam wawancara dengan Deutschen Welle. "Ia berusaha mengadakan dialog, tetapi ia tetap fundamentalis." Al Aouni memperkirakan, setelah Mursi menang, ia tetap akan setia pada program Ikhwanul Muslimin. Kondisi sekarang memang memungkinkan hal itu. Ikhwanul Muslimin adalah kekuatan terbesar dalam politik Mesir, dan mereka memiliki hubungan paling luas di Mesir. Selain itu, Ikhwanul Muslimin berakar kuat dalam bagian masyarakat Mesir yang konservatif.

Karena di masa kekuasaan Hosni Mubarak Ikhwanul Muslim dilarang, gerakan itu menimbulkan kesan bisa dipercaya di mata banyak warga Mesir. Tetapi Muhammad Mursi tidak bisa menjadi wajah awal baru Mesir. Demikian pendapat Andrea Teti, dosen di bidang hubungan internasional di Universitas Aberdeen und pengajar senior pada European Center for International Affairs. "Ikhwanul Muslim selalu memutuskan untuk berkompromi dengan rezim yang lalu, dan tidak menantang," demikian dikatakan Andrea Teti dalam wawancara dengan Deutsche Welle. Jadi Muhammad Mursi, yang juga menentang rezim tua, dipandang lebih mendukung kontinuitas, dan bukan perubahan.

Anne Allmeling / Marjory Linardy

Editor: Hendra Pasuhuk