1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Polisi Tangkap Ratusan Demonstran Anti-Putin

Polisi anti huru-hara Rusia menangkap ratusan demonstran termasuk penyelenggara unjuk rasa, Alexei Navalny. Mereka memprotes kemenangan Vladimir Putin dalam pemilihan presiden.

Polisi Rusia menggunakan kekerasan dalam menangkap pengunjuk rasa anti-Putin

Polisi Rusia menggunakan kekerasan dalam menangkap pengunjuk rasa anti-Putin

Para pemimpin oposisi menyebut 20 ribu orang ikut serta dalam unjuk rasa di lingkaran Pushkin di Moskow hari Senin (5/3). Mereka menyerukan digelarnya pemilu ulang dan pemberlakuan sistem politik yang berbeda dari masa kepemimpinan Vladimir Putin dalam 12 tahun terakhir.

"Mereka merampas hak kita," ujar Alexei Navalny (35), seorang blogger anti-korupsi, kepada kerumunan pengunjuk rasa sebelum ia ditangkap. "Kita lah kekuasaan," tambahnya disambut teriakan 'Rusia tanpa Putin.'

Berbuntut rusuh

Atmosfer unjuk rasa cukup tenang pada awalnya, namun berubah tegang saat polisi anti huru-hara menerobos kerumunan massa untuk membubarkan ribuan aktivis yang ingin bertahan di lokasi unjuk rasa hingga Putin mundur. Polisi berhelm hitam langsung menahan Navalny dan pendukungnya. Pimpinan oposisi melaporkan hingga seribu orang ditangkap, namun polisi menyebut 250 orang ditangkap dari total 14 ribu orang yang ikut unjuk rasa di lingkaran Pushkin.

Alexei Nawalny sempat mengirim gambar dari dalam mobil tahanan melalui akun Twitter

Alexei Nawalny sempat mengirim gambar dari dalam mobil tahanan melalui akun Twitter

Ribuan pendukung Perdana Menteri Vladimir Putin menggelar unjuk rasa tandingan tak jauh dari dinding merah Kremlin, menyanyikan lagu-lagu seraya mengibarkan bendera Rusia dan meneriakkan nama Putin.

Sedikitnya 350 orang ditangkap polisi di St. Petersburg, kampung halaman Putin. Lebih dari 3 ribu orang dilaporkan turut serta dalam demonstrasi anti-Putin di St. Petersburg. Sementara 50 orang juga ditangkap di lingkaran Lubyanka, Moskow.

Kekerasan yang dilancarkan polisi dapat memicu amarah oposisi dan unjuk rasa yang lebih besar. Namun juga menggarisbawahi tantangan besar bagi oposisi. Putin memiliki loyalitas polisi dan militer yang baru-baru ini mendapat kenaikan gaji dua kali lipat. Warga perkotaan kelas menengah yang selama ini ikut unjuk rasa mungkin saja merasa enggan setelah melihat respon polisi.

Berpindah hati

"Saya dulu cinta Putin, seperti perempuan manapun menyukai lelaki karismatik. Tapi saya rasa Putin menjadi pikun. Tidak ada orang yang bisa berkuasa selamanya," jelas Vasilisa Maslova, seorang pengunjuk rasa yang bekerja di bidang mode. "Dalam pemilu kemarin, saya merasa seperti memilih toilet yang paling tidak kotor di stasiun kereta yang sibuk."

Para pengunjuk rasa mengusung spanduk bertuliskan: '12 tahun lagi, tidak terima kasih.' dan 'Kami butuh seorang presiden Rusia dan bukan pemimpin seumur hidup.' Putin yang mendapat hampir 64 persen suara hari Minggu (4/3) menggambarkan kembalinya dirinya ke kursi presiden sebagai kemenangan atas para lawan politik yang berusaha merebut kekuasaan.

Putin menilai kemenangannya untuk menjabat 6 tahun lagi di Kremlin sebagai kontes yang adil dan terbuka. Namun para pengamat dari Organisasi Keamanan dan Kerjasama di Eropa senada dengan keluhan oposisi bahwa pemilu diatur untuk menguntungkan Putin.

"Intinya pemilu adalah hasil yang tidak pasti. Beda kasusnya di Rusia," tegas Tonino Picula, salah seorang pengamat. "Menurut kajian kami, pemilu ini tidak adil." Para pengamat memang mengatakan ada peningkatan dibandingkan pemilihan parlemen Rusia bulan Desember lalu, namun Putin tetap diuntungkan oleh peliputan media serta penggunaan sumber daya negara.

Carissa Paramita/rtr/ap

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan