1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

PM Israel Tamu Tak Diharap di Washington

Dukungan terhadap Israel lazimnya menjadi salah satu sokoguru politik luar negeri Amerika Serikat. Tapi kunjungan PM Netanyahu ke Washington merupakan tantangan baru bagi kemitraan yang sudah buruk dengan Gedung Putih.

Kunjungan seorang PM Israel ke Washington lazimnya disambut terbuka oleh kedua partai besar AS Demokrat dan Republik. Tapi kunjungan PM Benjamin Netanyahu kali ini ditanggapi dingin bahkan dengan aksi boykot demonstratif.

Puluhan anggota parlemen dari Partai Demokrat sudah menyatakan, tidak akan hadir dalam sidang Kongres Selasa (3/3) dimana Netanyahu menyampaikan pidatonya. Wakil Presiden Joe Biden secara mendadak melakukan kunjungan ke Amerika Selatan. Sementara presiden Barack Obama menolak bertemu dengan Netanyahu.

Kontroversi pecah Januari lalu, saat John Boehner ketua fraksi Republik di parlemen AS mengundang Netanyahu berkunjung ke Washington, untuk berpidato di depan Kongres mengenai "ancaman serius dari kaum radikal Islam dan dari Iran bagi keamanan dan gaya hidup barat". Boehner tidak melakukan koordinasi dengan Gedung Putih terkait undangan itu. Alasan tokoh Republik itu, Obama tidak cukup keras mengecam kelompok Islamis dalam pidato nasionalnya.

Picu Kemarahan

Provokasi partai Republik itu memicu kemarahan tokoh partai Demokrat. Bukan hanya terkait penghinaan kepada presiden Obama oleh kubu Republik. Melainkan juga pidato Netanyahu di depan Kongres dilakukan hanya dua minggu menjelang pemilu parlemen di Israel.

Penasehat keamanan nasional Susan Rice menyebutkan, undangan partai Republik itu sangat memihak dan merugikan bagi hubungan Israel-Amerika Serikat. "Kontroversi itu sebagian besar berpusar pada manuver politik Boehner untuk memojokkan partai Demokrat", ujar William Quandt mantan penasehat keamanan di bawah presiden Nixon dan Carter. Jajak pendapat yang digelar stasiun televisi CNN menunjukan 83 persen responden menilai undangan partai Republik itu salah.

Pasalnya, pidato Netanyahu di depan Kongres dilakukan bersamaan dengan sebuah fase kritis dalam perundingan sengketa atom dengan Iran. Pemerintahan Obama menghendaki, hingga akhir bulan Maret ini tercapai sebuah kerangka kesepakatan dengan Teheran.

Kritik Netanyahu terhadap politik Iran dari Obama makin memperburuk situasi. Sebelumnya hubungan sudah tegang, menyangkut dilanjutkannya pembangunan pemukiman Yahudi di tepi barat Yordan dan tindakan Israel dalam perang Gaza pada tahun lalu.

Netanyahu kini ibaratnya tamu yang tidak diharapkan kedatangannya oleh Gedung Putih. Obama juga sudah mengumumkan, akan memveto setiap rancangan resolusi terhadap Iran, yang dinilai menghambat program politiknya. Bagi Israel langkah tersebut berarti kerugian besar, karena kehilangan dukungan dari mitra terpentingnya, di saat paling diperlukan sekarang ini.

Laporan Pilihan