PKS Perluas Basis Lewat Perekrutan Non Muslim, | dunia | DW | 18.06.2010
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

PKS Perluas Basis Lewat Perekrutan Non Muslim,

Musyawarah Nasional ke 2, Partai Keadilan Sejahtera PKS dibuka Kamis Malam. Sejumlah isu strategis dibahas, termasuk rencana PKS membuka diri bagi warga non muslim menjadi anggota dan pengurus partai.

default

Tak harus Islam bila ingin jadi anggota PKS

Rencana PKS untuk membuka pintu bagi warga non muslim menjadi anggota dan pengurus partai, sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Pada pemilu lalu, PKS telah memiliki sejumlah anggota DPRD non muslim, meski terbatas di daerah tertentu, di luar Jawa. Kini melalui Munas ini, partai berbasis Islam itu, menimbang untuk meluaskan dukungan dari warga non muslim di wilayah lain, termasuk dari Pulau Jawa. Sekjen PKS, Anis Matta mengakui, langkah ini untuk kepentingan perluasan basis PKS.

“Pada dasarnya keterbukaan itu kan sudah ada di konstitusi kami sejak awal. Karena partai ini dibuat untuk seluruh warga Negara Indonesia tanpa kecuali. Tetapi karena pada periode yang lalu, karena untuk menata suatu pertumbuhan yang bertahap maka isu ini memang tidak kita munculkan, karena memang tahapan pertumbuhan kami adalah membangun basis konstituen yang kokoh dulu, setelah itu baru kita ekspansi. Nah sekarang kami merasa basis konstituen kami sudah relatif kokoh, maka kita ingin ekspansi basis konstituen yang lebih luas daripada yang sekarang ini ada”

Atas nama perluasan basis itu pula PKS, terus mencoba melepaskan diri dari cap partai tertutup antara lain dengan mengundang, Dan dengan semua upaya itu, Sekjen PKS Anis Matta berharap, target PKS menjadi partai pemenang ketiga pada pemilu mendatang akan tercapai.

Akan tetapi, pengamat politik Arbi Sanit menganggap langkah PKS untuk menggeser basis dukungannya itu sulit diwujudkan. Arbi Sanit menyebut rencana PKS untuk membuka pintu bagi warga Non Muslim bukan sesuatu yang subtansial untuk menunjukan PKS sebagai partai terbuka.

“Karena subtansinya tidak diubah, yaitu, Ideologi PKS tetap saja islam yang tergolong radikal. Lalu sumber - sumber pemimpin nya masih sejak awal berlangsung, yaitu lulusan pendidikan Timur Tengah dari pesantren pesantren disini atau aktivis masjid di kampus. Nah kalau itu yang fundamental di partai itu tidak ada perubahan, nah bagaimana orang berharap kalau dia (PKS) termasuk dalam golongan yang ekslusif.”

Lebih jauh, Arbi Sanit, mengingatkan, upaya PKS menggeser dukungan politik itu sebelumnya juga pernah dilakukan oleh dua partai berbasis pemilih agama, yaitu PAN dan PKB dan kedua partai itu gagal menambah suara. PKS sendiri, kata Arbi Sanit, gagal meluaskan dukungan politiknya ke pedesaan. Arbi Sanit menduga, munculnya wacana menjadi partai yang lebih terbuka itu, karena kepanikan di tingkat elit.

“Ya ada semacam panik di dalam para pada elit PKS. Dia sudah terkenal sebagai partai yang sukses. Dan banyak orang menilai (PKS) sebagai partai masa depan tetapi pemilihnya tidak bertambah signifikan. Jadi panik dia. Ya saya kira mereka di khawatir pemilih nya tidak akan nambah lagi atau kalau menambah tidak akan punya arti”

Betapapun, dalam dua pemilu yang lalu, perolehan suara PKS yang berbasis kaum muslim perkotaan, terus meningkat. Pada pemilu lalu, PKS menempati peringkat ke empat dengan perolehan sekitar 8 persen suara

Zaki Amrullah/Ayu Purwaningsih

Editor: Hendra Pasuhuk