1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Petunjuk Mengarah ke Kaukasus Utara?

Ketika Senin (29/03) bom meledak di dua stasiun Moskow, dua perempuan asal Chechnya menjadi tersangka pelaku. Dengan demikian Chechnya kembali mendapat perhatian. Juga pertanyaan, apa konflik di sana telah berakhir.

default

Jalan besar bernama Vladimir Putin Boulevard di ibukota Chechnya, Grozny.

Pemerintah Rusia segera menemukan tersangka. Dua pelaku serangan bunuh diri, kemungkinan dari Chechnya. Tahun 2004 lalu dalam serangan di kereta bawah tanah Moskow, oleh sejumlah orang yang diduga berasal dari Chechnya, sedikitnya 50 orang tewas.

Pendapat Lain

Para pembaca koran internet yang independen, "gazeta.ru" sama cepatnya dalam menemukan tersangka. Tetapi komentar mereka jauh berbeda. Sejumlah pembaca menduga, dinas rahasia Rusia, FSB berada di balik serangan yang terjadi Senin lalu.

FSB-Hauptquartier in Moskau

Kantor pusat FSB di Moskow, di dekat lokasi ledakan pertama Senin (29/03).

Seorang pembaca berpendapat, serangan dapat menjadi alasan bagi pemerintah untuk menekan lebih keras lagi orang-orang yang punya pandangan lain, melarang demonstrasi dan menyamakan oposisi dengan teroris. Pembaca lain bertanya, "Jika benar situasi di Chechnya tenang dan damai, lalu siapa pelaku serangan?" Yang jelas, situasi di bekas republik Uni Sovyet itu tidak tenang. Perlawanan terus berlangsung.

Tanpa Dasar Hukum

Presiden Ramzan Kadyrov memerintah tanpa dasar hukum, demikian diceritakan seorang mantan anggota gerakan bawah tanah Chechnya, yang setengah tahun lalu melarikan diri ke Jerman. Pemerintah menuduh warga sebagai pemberontak atau teroris tanpa dasar.

Ia menceritakan, setiap orang yang menghianati orang lain kepada pemerintah mendapat uang sampai 5.000 atau 6.000 Dollar. Dan gerakan perlawanan terhadap Rusia tetap ada. Mereka memperjuangkan kemerdekaan Republik Chechnya.

Bagi pemberontak, Presiden Kadyrov melancarkan tekanan dan menyebabkan ketakutan, tetapi musuh sesungguhnya ada di Moskow. Politisi Chechnya Ahmed Zakajev, yang tinggal di pengasingan di London, berpendapat sama. Tahun 90an lalu ia menjadi menteri di Republik Chechnya.

Rusia Berkuasa di Chechnya

Tschetschenischer Präsident Ramzan Kadyrov

Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov

Zakajev mengatakan, "Pemerintah Rusia bertanggungjawab atas semua yang terjadi di Chechnya dan Kaukasus utara. Percayalah pada saya, Ramzan Kadyrov ada di bawah kuasa Kremlin. Kadyrov tidak akan menyebabkan Vladimir Putin ragu akan loyalitasnya. Kadyrov mendapat kuasa, melakukan apapun di Chechnya.

Ia mengambahkan, "Sebagai imbalannya, Kadyrov menjunjung tinggi persahabatan dengan Rusia. Perjuangan kami untuk merdeka akan terus berlanjut hingga jalan keluar politis ditemukan, yang memuaskan bagi Chechnya dan Rusia."

Politisi Dianggap Teroris

Zakayev mengutuk kekerasan. Tetapi Rusia menganggap mantan politisi itu tersangka teroris, dan sejak lama menuntut Zakayev diekstradisi ke Rusia. Tahun lalu tanpa disangka ada pembicaraan antara Zakayev dan pemerintah Rusia. Zakayev mengajukan syarat-syarat. Rusia harus menyerahkan jenasah warga Chechnya agar dapat dikubur dengan cara mereka sendiri.

Ausschnitt Der russische Präsident Wladimir Putin

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin

Syarat kedua, Rusia harus membebaskan lebih dari 20.000 tahanan Chechnya yang dipenjara dalam kondisi sangat buruk, seperti dibenarkan aktivis hak asasi. Ketiga, anggota keluarga pejuang Chechnya yang masih tinggal di negara itu tidak boleh ditekan. Karena Rusia tidak memenuhi tiga tuntutan itu, pembicaraan terhenti.

Hanya Ingin Kedamaian

Zakayev sekarang berusaha mengorganisir warga Chechnya di Eropa barat. Sebuah kongres internasional akan diselenggarakan untuk memperkuat tuntutan kemerdekaan Chechnya. Tetapi warga Chechnya yang menjadi pengungsi sangat pasif. Mereka terutama hanya ingin kedamaian.

Mereka juga tidak mau menyatakan pandangan politik apapun. Mungkin karena takut, demikian dugaan Zakayev. Banyak warga Chechnya tidak mau membahayakan keselamatan diri sendiri dan keluarganya. Namun demikian, sebagian besar dari mereka tidak akan melupakan ide kemerdekaan Chechnya.

Gesine Dornblüth / Marjory Linardy

Editor: Asril Ridwan