1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Pestisida Biang Kematian Massal Lebah Madu?

Tahun 2004 peternak lebah madu Eropa, Amerika dan Asia melaporkan kematian massal lebah madu yang misterius. Ketika itu diperkirakan beragam penyebabnya, dari mulai serangan virus, bakteri, kutu, jamur hingga pestisida.

default

Terutama para peternak lebah madu di Perancis yang sejak beberapa tahun terakhir ini menuding pestisida sebagai penyebab utama kematian massal lebah. Tidak mengherankan, karena Perancis merupakan negara Eropa yang paling banyak menggunakan pestisida kimiawi dalam sektor pertaniannya. Bahkan di seluruh dunia, konsumsi pestisida kimiawi Perancis hanya kalah oleh Amerika Serikat. Tidak mengherankan jika belum lama ini para peternak lebah madu Perancis menggelar aksi demonstrasi di Paris untuk menentang penggunaan pestisida terbaru yang amat ampuh mematikan serangga dalam sektor pertanian.

Para peternak lebah Perancis menuntut dihentikannya penggunaan pestisida secara tidak rasional. Aksi demonstrasi digelar terus menerus, untuk menentang penggunaan racun kimia pembunuh serangga secara besar-besaran oleh para petani di Perancis. Aksi protes ini memang amat kuat alasannya, sebab sejak pertengahan tahun 90-an, nyaris semua ternak lebah madu mengalami kemusnahan. Sebagian besar mati secara massal, dan sisanya kabur dan tidak kembali lagi. Para peternak lebah menyebutkan, kematian massal lebah madu di Perancis mulai terjadi tahun 1995 bersamaan waktunya dengan mulai digunakannya racun anti serangga berdaya bunuh tinggi.

Jean-Marc Bonmatin peneliti di pusat riset bio-fisika molekuler di Orleans juga melihat adanya kaitan antara kematian massal ternak lebah madu dengan penggunaan pestisida dengan daya bunuh tinggi itu. Bonmatin yang sejak 9 tahun melakukan penelitian dalam tema kesehatan ternak lebah dikaitkan dengan penggunaan pestisida itu mengatakan: “Tentu saja kematian massal lebah madu global itu penyebabnya berbeda-beda. Tapi kami menemukan penyebab utama yang identik. Di seluruh dunia dapat diamati tanpa keraguan lagi, di kawasan-kawasan di mana disemprotkan pestisida, terbukti kesehatan lebah madu lebih buruk dibanding di tempat yang bebas pestisida. Semakin intensif penyemprotan pestisidanya, semakin buruk pula kesehatan lebah madu tersebut.“

Perhimpunan peternak lebah madu Perancis UNAF mempresentasikan sebuah peta dunia dengan fakta menakutkan. Di sana dicantumkan, kematian massal lebah madu paling tinggi, dilaporkan dari kawasan di mana pertanian dilakukan dengan cara industrial yang intensif. Tentu saja tidak semua peneliti kematian massal lebah madu mendukung teori yang diajukan UNAF itu. Para peneliti juga mengajukan berbagai fakta lainnya yang diduga menjadi penyebab kematian massal kawanan lebah madu. Diantaranya serangan parasit dari keluarga kutu-Varroa, infeksi, rusaknya lingkungan serta perubahan iklim. Tentu saja diskusi mengenai hal itu berlangsung amat seru.

Di tengah ramainya polemik mengenai penyebab utama kematian massal lebah madu itu, perhimpunan peternak lebah madu Perancis UNAF berupaya menunjukkan bukti lebih nyata mengenai pengaruh pestisida pada kematian massal lebah. Ketua UNAF, Henry Clement, pada bulan Mei lalu menempatkan enam buah sarang lebah madu berisi 300.000 ekor lebah di kawasan pusat ibukota Perancis, Paris. Programnya diberi nama lebah-lebah pemantau lingkungan, dan sudah dimulai sejak tahun 2005 yang lalu. Dalam program itu para peternak lebah menempatkan sarang lebah di sejumlah kota besar. Dengan program lebah pemantau lingkungan ini, terutama juga hendak dibuktikan bahwa penggunaan pestisida dengan daya bunuh kuat yang memusnahkan hampir seluruh serangga, juga mengancam keberadaan lebah madu.

Argumen terpenting dari para peternak lebah adalah, sekitar 80 persen penyerbukan tanaman dilakukan oleh serangga khususnya lebah madu. Jika serangga yang berfungsi melakukan penyerbukan bunga agar menjadi buah ini musnah, akan muncul ancaman gagal panen. Karena itulah dimulai awal tahun 2009 lalu sejumlah organisasi pelindung lingkungan Perancis serta perhimpunan peternak lebah UNAF menggelar kampanye petisi untuk menentang penggunaan pestisida secara tidak rasional. Sejauh ini aksi kampanye ini sudah berhasil mengumpulkan 45.000 tanda tangan.

Menanggapi silang-sengketa itu, di Jerman yang juga menghadapi masalah yang sama, pada tahun 2008 lalu digelar simposium lebah madu. Jawatan pelindung konsumen mula-mula meyakini pestisida terbaru jenis neonikotinoid tersebut aman bagi lebah. Kesalahan justru ditimpakan kepada para peternak lebah, yang dituding tidak menggunakan kombinasi bahan kimia yang tepat utuk memberantas penyakit kutu Varroa pada lebah. Namun kemudian muncul fakta yang mengejutkan, karena terbukti kematian massal ternak lebah di negara bagian Bayern yang membuat 700 peternaknya bangkrut justru dipicu pestisida jenis baru itu.

Kini di Jerman pestsida terbaru dengan daya bunuh kuat itu sudah dilarang digunakan untuk tanaman jagung dan hanya diizinkan penggunaan terbatas untuk tanaman bunga matahari. Namun hingga kini silang-sengketa kematian massal lebah madu di berbagai benua belum tuntas. Karena masih banyak faktor lain yang juga harus dimasukkan sebagai penyebab kematian massal lebah penghasil madu itu.

Suzanne Krause/Agus Setiawan

Editor: Yuniman Farid