1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

270910 EU Afrika Partnerschaft

28 September 2010

Konferensi dengan moto kemitraan Afrika membuka lembaran kerjasama baru antara UE dengan Afrika juga di dalam Afrika. Belakangan perubahan politik pembangunan mengurangi bobot jumlah dana tapi lebih menekankan efisiensi

https://p.dw.com/p/POtn
Simbol gambar Uni Eropa - AfrikaFoto: Montage DW / AP

Belakangan ini banyak disebut-sebut mengenai kelelahan pemberian dana. Sasaran PBB mengeluarkan paling sedikit 0,7 persen produk sosial bruto untuk bantuan pembangunan, hanya berhasil dicapai sedikit negara industri. Alasannya seringkali situasi anggaran negara tapi juga kekecewaan bahwa bantuan berpuluh-puluh tahun yang diberikan, tidak berhasil mengatasi kemiskinan di negara penerima bantuan. Komisaris urusan bantuan pembangunan Uni Eropa hanya dapat membenarkan hal itu

"Bantuan saja tidak cukup jika kita tidak mengatasi masalah sampai ke akarnya. Tanpa negara hukum, keamanan dan keuangan yang sehat bantuan yang diberikan tidak akan pernah memiliki masa depan."

Sebetulnya sejak beberapa tahun terakhir Afrika menunjukkan kemajuan ekonomi yang mengejutkan. Hal ini memberi harapan banyak negara Afrika untuk dapat melepaskan diri dari ketergantungan dan kemiskinan. Tapi Mark Plant dari Dana Moneter Internasional menekankan, tidak pada semua negara Afrika.

“Negara-negara yang menarik keuntungan dari pertumbuhan ekonomi ini mencapai perdamaian, baik di dalam negeri maupun dengan negara tetangganya. Oleh sebab itu harus menjadi tugas utama organisasi internasional untuk mencari solusi konflik yang terjadi di benua tersebut."

Tapi perdamaian sendiri bukan jaminan untuk kesejahteraan. Maxwell Mkewzalamba adalah komisaris ekonomi Uni Afrika. Perhimpunan negara Afrika itu ingin mengembangkan kerjasama lebih baik di antara anggotanya seperti halnya Uni Eropa. Tapi dari pasar bersama, Uni Afrika masih jauh dari Uni Eropa

"Saya yakin bahwa kesejahteraan Afrika di masa depan semakin tergantung pada bagaimana kerjasama antar negara-negara Afrika dan dengan negara-negara dunia ketiga."

Dulu Eropa dapat mengandalkan bahwa sebagai bekas penguasa koloni, mereka merupakan satu-satunya mitra bicara di Afrika. Tapi kini Eropa bersaing dengan Cina, India atau Brasil untuk sumber daya dan proyek-proyek di Afrika. Andreas Proksch pimpinan Lembaga Kerjasama Teknis Jerman GTZ

"Eropa mulai kehilangan posisi istimewanya. Saat ini Afrika memiliki pilihan dan saya pikir itu juga akan mengubah sikap kami terhadap benua Afrika."

Salil Shetty, Sekjen Amnesti International berpendapat itulah yang terjadi tapi dalam konteks negatif. Ia melihat Uni Eropa bermoral ganda

“Jika Uni Eropa melakukan perundingan dan KTT dengan Cina, Eropa cukup diam dalam tema Hak Asasi Manusia. Tapi jika menyangkut peran Cina dalam hak asasi manusia di Afrika, Eropa banyak membuka mulut. Maksud saya, kami sebaiknya memiliki tuntutan yang sama dalam menyikapi hak asasi manusia, apakah itu mengenai sikap Cina di Afrika ataupun menyangkut hubungan Eropa dengan Cina dalam hal hubungan dagang."

Semua pembicara sepakat bahwa hubungan antara Eropa dengan Afrika sedang mengalami perubahan mendasar. Afrika juga lebih percaya diri dan memiliki peluang untuk melepaskan dirinya dari penderitaan. Dan dengan demikian mungkin untuk pertama kalinya sejak kemerdekaan, terjadi hubungan kemitraan yang benar-benar seimbang.

Christoph Hasselbach/Dyan Kostermans

Editor: Ridwan