1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pertemuan Obama-Netanyahu Berjalan Penuh Keakraban

Ketegangan yang dulu secara nyata dipertontonkan, kini disangkal. Obama menampik adanya keretakan dalam hubungan Netanyahu dan berharap perundingan langsung Israel dan Palestina dapat dimulai sebelum akhir September.

default

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) bersama Presiden AS Obama di Ruang Oval, Gedung Putih (06/07)

Kedua pemimpin duduk berdekatan di Ruang Oval, Selasa (06/07), memperagakan jabat tangan erat, cukup lama untuk diabadikan kamera. Keduanya berusaha mengkoreksi penampilan pada pertemuan terakhir di bulan Maret. "Tidak", tandas Obama terhadap pertanyaan seorang jurnalis Israel yang mengesankan Obama mengambil jarak dari Netanyahu.

"Jika Anda perhatikan semua pernyataan saya dalam satu setengah tahun terakhir, semua merupakan penegasan konstan tentang hubungan khusus antara Amerika Serikat dan Israel. Komitmen Amerika dalam hal keamanan Israel tidak berubah,“ tandas Obama.

Obama juga menekankan bahwa AS tidak akan meminta Israel mengambil langkah apapun untuk keluar dari rencana pertahanannya. Israel punya kebutuhan yang unik, kata Obama. Secara tidak langsung, tapi tidak salah lagi, ia menanggapi senjata nuklir yang kepemilikannya sampai sekarang tidak diakui resmi oleh Israel.

Sudah barang tentu Netanyahu berterimakasih atas sikap pengertian Obama yang luar biasa untuk tidak mengubah kebijakan AS terhadap Israel, juga di masa depan. Obama kembali membantah adanya ketegangan antara dirinya dan Netanyahu.

"Faktanya, saya mempercayai PM Netanyahu sejak saya bertemu ia untuk pertama kalinya, sebelum saya terpilih sebagai presiden. Saya berulang kali mengatakan, secara terbuka maupun pribadi, bahwa ia menghadapi sitausi yang sangat rumit, di lingkungan yang sangat keras," jelas Obama.

Termasuk di dalamnya ancaman dari Iran dan program nuklirnya, Hamas, dari negara-negara tetangga Arab, walaupun tidak terlalu sering. Juga dari pemukim kanan keras di dalam negeri Israel, yang sampai kini menyerang setiap upaya perdamaian dengan pihak Palestina. Tapi akan ada pendekatan baru, kata Presiden Obama. Dari perundingan tak langsung akan segera menjadi perundingan langsung.

Obama menyatakan kepercayaannya bahwa Netanyahu siap mengupayakan usaha mencari jalan menuju perdamaian. Dan menurut Israelpun, negara ini tidak akan menghalangi proses perdamaian ini, dengan syarat, "Kami merasa terikat pada perdamaian ini. Perdamaian ini akan memperbaiki kehidupan warga Israel dan Palestina, dan tentu akan mengubah kawasan kami. Tetapi Israel ingin yakin bahwa pada akhirnya akan mendapat kemanan. Kami tidak ingin mengulang situasi dimana kami mengosongkan wilayah yang lalu diambil alih wakil Iran dan digunakan untuk melancarkan serangan teroris atau serangan roket," dikatakan Netanjahu.

Obama berharap perundingan langsung Israel-Palestina bisa dimulai, sebelum akhir September. Pada kurun waktu itu, akan berakhirlah moratorium Israel yang membekukan pembangunan pemukiman Yahudi. Netanyahu mendapat tekanan keras dari partai kanan keras yang menjadi mitra koalisinya untuk tidak mematuhi desakan AS yang ingin moratorium diperpanjang.

Tantangan saat ini adalah mengupayakan agar Palestina menerima kerangka waktu yang diajukan Obama. Reaksi awal Palestina mengisyaratkan kesulitan. Presiden Mahmud Abbas mendesak dibutuhkannya kemajuan dalam perundingan tidak langsung menyangkut isu utama, seperti perbatasan dan keamanan, sebelum melangkah ke perundingan langsung, demikian kata juru bicara Abbas, Nabil Abu Rudeina, lewat telepon kepada AFP.

Silke Hasselmann/ Renata Permadi/ afp/rtr

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan