1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Pertemuan Gereja Protestan di Hamburg

Di Hamburg Evangelischer Kirchentag (Pertemuan Gereja Protestan) ke-34 digelar 1-5 Mei. Lebih dari 100 ribu peserta berkumpul di kota di tepi Sungai Elbe Hamburg.

Kirchentagsbesucher verfolgen am 01.05.2013 in der Hafencity in Hamburg den Abendsegen mit Kerzen in den Händen. Insgesamt werden bis zum Sonntag mehr als 100.000 Dauerteilnehmer zu dem Glaubensfest erwartet. Foto: Bodo Marks/dpa +++(c) dpa - Bildfunk+++

Peserta Pertemuan Gereja Protestan di Hamburg 2013

Ketua Pertemuan Gereja Protestan (Evangelischer Kirchentag) Jerman Gerhard Roberts memandang bahwa di masa smartphone dan internet, "Perlu orang-orang saling bertemu, mengalami bersama-sama," dikatakannya, "untuk itu pertemuan gereja adalah bentuk yang amat modern, bentuk yang tidak bisa dikesampingkan." Lima hari lamanya umat Protestan berdoa, berpesta dan berdiskusi di Hamburg. Di kota di tepi Sungai Elbe tersebar sekitar 2500 acara, mulai dari kebaktian sampai pendalaman Kitab Suci, dari diskusi politik sampai acara budaya.

Kirchentagsbesucher verfolgen am 01.05.2013 in Hamburg an der Binnenalster den Abendsegen mit einem Lichtermeer. Insgesamt werden bis zum Sonntag mehr als 100.000 Dauerteilnehmer zu dem Glaubensfest erwartet. Foto: Angelika Warmuth/dpa

Peserta Pertemuan Gereja Protestan 2013 di Hamburg

Banyak tokoh politik dan selebritis yang hadir, diantaranya Presiden Jerman Joachim Gauck yang di masa Jerman Timur bekerja sebagai pendeta di Rostock juga pernah menggelar pertemuan Protestan. Tema bahasannya: "Bagaimana wujud masyarakat yang kuat?". Kanselir Jerman Angela Merkel yang juga Protestan, berbicara kepada peserta Pertemuan Gereja Protestan tentang "Penciptaan dalam Dunia yang Terglobalisasi." "Siapa yang Menguasai Uang?" itu pertanyaan yang dilontarkan kandidat kanselir Peer Steinbrück. Pemilihan umum Jerman September mendatang sudah membayangi dengan pra kampanye pemilu.

Dalam rangka Evangelischer Kirchentag, di Hamburg juga digelar banyak pertunjukan musik. Kelompok a kapela Köln "Wise Guys" menggelar konser besar di Stadtpark. Sebagai puncak acara musik adalah tampilan perdana Opera Bonhoeffer "Akhir dari Ketidakbersalahan" karya komponis Stephan Peiffer. Opera itu berlatar belakang kehidupan dan pemikiran teolog dan pejuang pemberontak Jerman Dietrich Bonhoeffer yang tahun 1945 dibunuh NAZI.

Sie folgen dem Tyrannen Drako und bestrafen einen Mann, der nicht zu seinem Heil gesungen hat. Szene aus der Bonhoeffer-Oper „Vom Ende der Unschuld“. Oper in fünf Bildern nach Motiven aus Leben und Denken Dietrich Bonhöffers Auftragswerk des Kirchentages. Regie: Kirsten Harms, Berlin Copyright: DW/Stefan Dege

Adegan Opera Bonhoeffer pada Evangelischer Kirchentag 2013

Masalah Gereja Tetap

Banyak politik, Banyak budaya, tapi apakah Gereja secara politik masyarakat masih relevan seperti yang ingin ditampilkan di Hamburg? Pakar sosiologi agama Detlef Pollack yakin, terutama wakil-wakil gereja terdahululah "yang merambah tema-tema besar, untuk menjelaskan relevansinya." Orang-orang tidak mengharap dari Gereja pernyataan-pernyataan politis, "melainkan bahwa pesannya disampaikan sesuai jaman dan dengan kehidupan, modern." Selain itu acara yang digelar terutama kebaktian dan pembicaraan tentang iman. Gereja harus ada untuk mereka yang miskin, lemah dan terkucil. "Jika menyangkut bahwa gereja turut campur secara politis," menurut Pollack, "orang-orang lebih mempercayai institusi lainnya, seperti partai dan parlemen lebih daripada Gereja."

Juga di Jerman agama menjadi tema media. Di barat Jerman masih 80 persen orang mejadi anggota gereja, di timur Jerman jauh lebih sedikit. 70-80 persen warga Jerman Barat memegang kekristenan untuk fondasi budaya, di timur hanya separuh dari penduduk. "Masyarakat Jerman tidak berkurang dari jiwa kristiani atau gerejawinya," demikian neraca yang ditarik Pollack, "tapi warga semakin mengambil jarak dari kekristenannya. Dan itulah masalah Gereja."

"Soviel du brauchst" Sebanyak yang Kamu Butuhkan. Inilah moto Pertemuan Gereja Protestan Jerman. Teks itu melukiskan saat-saat dimana bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Tuhan menurunkan hujan roti. Karena roti cepat basi, setiap orang diharap mengambil sebanyak yang mereka butuhkan untuk makan. "Itu adalah kata-kata yang menghibur, bahwa itu akan cukup," kata Ketua Pertemuan Gereja Protestan 2013 Gerhard Robbers. "Dengan percaya kepada Tuhan, dengan inisiatif sudah akan cukup. Tuhan memberi roti (makanan-red) sehari-hari."

Laporan Pilihan