1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pertarungan Arab Saudi Dengan Iran Menjelang Sidang OPEC

Arab Saudi terlibat debat sengit dengan Iran menjelang sidang OPEC soal politik minyak. Para produsen minyak khawatir Arab Saudi akan membanjiri pasar dan menekan harga terus merendah.

Wakil Arab Saudi mengatakan hari Kamis (02/06) di Wina, pihaknya tidak akan membanjiri pasar minyak dengan produksi berlebihan, seandainya perundingan OPEC gagal lagi.

Produsen minyak terbesar dunia ini ingin agar produksi minyak mentah dibatasi, sehingga harga minyak dunia bisa ditahan tinggi dan stabil. Semntara Iran menuntut agar produksi minyak secara bertahap di bebaskan.

Ketegangan antara Arab Saudi dan Iran sudah berlangsung sejak akhir tahun lalu, ketika sidang OPEC gagal menyepakati target dan kuota produksi. Arab Saudi bersaing dengan Iran tidak hanya di sektor minyak, tapi juga di politik kawasan. Arab Saudi misalnya mendukung kubu pemberontak di Suriah, sementara Iran mendukung penguasa Bashar al Assad.

OPEC Treffen in Wien

Sidang OPEC di Wina, Juli 2015

Beberapa sumber OPEC mengatakan, Arab Saudi dan negara-negara sekutunya di Kawasan Teluk ingin tetap ada sistem kuota untuk membatasi produksi minyak dan emnopang harga minyak yang cenderung terus turun.

Kegagalan mencapai kesepakatan di Wina, Austria, dikhawatirkan akan membangkitkan lagi 'perang minyak' di pasar internasional, ketika setiap negara produsen melempar minyak ke pasaran tanpa koordinasi, sehingga penawaran menjadi berlebihan dan harga terus anjlok.

Kami akan sangat hati-hati dan memastikan tidak akan terjadi syok di pasar manapun", kata Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih kepada wartawan.

"Kami akan bertindak penuh tanggung jawab, tetapi kami juga akan mengantisipasi," kata Falih ketika ditanya apakah Arab Saudi bisa membanjiri pasar dengan minyaknya. Dia menambahkan, pihaknya siap mendengarkan suara Iran di meja perundingan.

Saudi-Arabien Erdölraffinerie

Kilang minyak di Arab Saudi, produsen minyak terbesar dunia

Bulan April lalu, Arab Saudi menyatakan siap membekukan produksi minyaknya pada tingkat yang sekarang, hanya jika Iran juga membekukan produksi minyaknya.

Kalangan pengamat menilai, jika tercapai kesepakatan antara Riyadh dan Teheran di Wina, itu saja sudah merupakan kejutan besar. Iran menuntut hak untuk bisa meningkatkan produksi minyaknya, terutama setelah sanksi ekonomi negara-negara Barat sudah diakhiri.

Menteri Minyak Iran, Bijan Zanganeh menjelaskan, negaranya menuntut kuota yang layak. "Tanpa kuota, OPEC tidak akan bisa mengendalikan apa-apa," katanya kepada wartawan. Dia bersikeras Teheran pantas mendapat kuota sampai 14,5 persen dari produksi OPEC secara keseluruhan.

Sidang OPEC di Wina juga akan memilih Sekretaris Jendral yang baru. Tiga nama disebut-sebut punya peluang baik: Ali Rodriguez Araque dari Venezuela, Mohammed Barkindo dari Nigeria dan Mahendra Siregar dari Indonesia.

hp/yf (afp, rtr, ap)

Laporan Pilihan