1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pertaruhan Eropa di Benua Hitam

Uni Eropa mengirimkan 50 Perwira militer dan polisi ke Niger untuk membantu perang melawan teror. Misi damai ini diharapkan bisa menghadang geliat radikalisme Islam yang mulai menyebar di jantung Afrika

Gettyimages. TO GO WITH AFP STORY BY BOUREIMA HAMA Niger gendarmes patrol in Ingall, northern Niger, on September 25, 2010. After the kidnapping of seven expatriates in mid-September, Niger has beefed up its military presence in the north, but one of the world's poorest countries faces a huge challenge tackling Al-Qaeda. The mining town of Arlit - where Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM) on September 16 kidnapped five French nationals, a Madagascan and a Togolese - is now under tight military surveillance, residents said. AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO (Photo credit should read ISSOUF SANOGO/AFP/Getty Images)

Polisi Niger berpatroli di Ingall

Seragam yang sudah disiapkan sejak jauh hari itu masih tersimpan rapih di dalam koper. Tidak seorangpun anggota tim konsultan keamanan Uni Eropa akan mengenakannya dalam perjalanan menuju Niamey.

Kepada negara-negara anggota, Brussel Juli lalu menyatakan baru akan menentukan apakah tim tersebut menggunakan seragam resmi atau cuma berpakaian layaknya warga sipil biasa, setelah mereka tiba di lapangan.

Permasalahan sepele ini justru menunjukkan betapa peliknya Misi Perdamaian Uni Eropa di kawasan Sahel, Afrika. Sekitar 50 perwira kepolisian dan militer akan menjadi bagian dari misi bertajuk European Union Capacity Buliding (EUCAP) ini.

Tim ini nantinya dipimpin oleh seorang perwira dari kepolisian Spanyol, Guardia Civil. "Sebuah misi damai," kata Jurubicara Uni Eropa, Michael Mann. "Kami tidak mengirimkan orang yang memanggul senjata dan berperang."

Memanggul senjata boleh jadi tidak, tapi sebagian perwira yang dikirimkan oleh Uni Eropa ke Niger itu akan bekerja sebagai konsultan militer.

Pasalnya perang melawan Teror di wilayah Sahel tidak lagi bercorak damai yang paling banter cuma menggandeng tenaga kepolisian. Saat ini militer sudah mulai turun tangan. Peluru dan kucuran darah tidak bisa lagi dihindari.

Di utara Mali kelompok militan Islam sudah mengontrol wilayah seluas Perancis. Kelompok yang menamakan diri Anshar al-Din dan Gerakan Kesatuan dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO) itu menebar aksi teror dengan senjata dan memaksakan pelaksanaan hukum Islam. Sebagian menduga kedua kelompok tersebut semakin dekat dengan Al-Qaida Maghreb.

Afrika kini ibaratnya menjadi ladang emas buat organisasi teror tersbebut. Menurut data statistik yang dikeluarkan pemerintah AS, trend serangan teror meningkat pesat di benua hitam, sebanyak nyaris 1000 serangan setiap harinya.

Sebab itu pula Niger menjadi pertaruhan terbesar Eropa setelah Afghanistan. "Pemerintah Nigeria meminta apakah kami bisa mengirimkan tenaga ahli, " kata Michael Mann. "Kami akan mendidik aparat keamanan, agar mereka dapat memperbaiki situasi keamanan dan memerangi terror." Untuk itu Uni Eropa menyediakan dana sebesar 8,7 juta Euro di tahun pertama.

Terutama Mali, Mauritania dan Niger yang carut marut oleh bencana kekeringan, kelaparan dan melemahnya institusi pemerintahan merupakan risiko terbesar terjangkiti gejala radikalisme, kata Amelia Hadfield, pengamat Sahel dan professor di Universitas Brussels. "Ini adalah negara-negara terancam gagal yang tidak mampu mengurus penduduknya sendiri."

Sebab itulah Uni Eropa menghidupkan misi damai di Sahel sebagai langkah prefentif melawan teror. Selain perwira polisi dan militer, Brussel juga mengirimkan konsultan politik dan pakar hukum. Misi ini berangkat dari keyakinan bahwa teror tidak cuma dilawan dengan militer, melainkan juga dengan membangun negara hukum.

Meski terdengar meyakinkan, paradigma serupa belum berhasil menjauhkan Afghanistan dari tindak kekerasan.

rzn/afp/ap/rtr