1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Perempuan Tunisia Rindukan Musim Semi

Perempuan Tunisia sudah maju, sukses, dan bangga terhadap haknya. Mereka bergabung dalam revolusi. Namun demokratisasi di Tunisia belum berjalan seperti yang diharapkan.

Saat Presiden Ben Ali melarikan diri ke luar negeri pada tanggal 14 Januari 2011, ribuan perempuan dan laki-laki Tunisia turun ke jalan menentang rezim Ben Ali. Keterlibatan perempuan dalam revolusi di Tunisia sama sekali tidak diperdebatkan, karena memang hak perempuan Tunisia diakui sejak tahun 1950an, saat negeri itu merdeka.

Kaum perempuan di sana bangga pada haknya itu. Namun setahun setelah revolusi, banyak perempuan Tunisia yang cemas. Salma, seorang penerjemah dari Tunis, khawatir, kaum Islamis mengubah wajah masyarakat.

"Saya tidak ingin ada orang yang memaksakan saya. Kalau saya suatu hari ingin mengenakan kerudung atau bahkan burka, maka tidak ada yang berhak memaksakannya. Atau kalau saya ingin berpesta,  minum alkohol, dan punya pacar. Tidak boleh ada yang ikut campur. Mentalitasnya harus diubah. Tapi sekarang kecenderungannya begitu," katanya.

Kecenderungannya Mengarah ke Ekstremisme

Demonstrasi menuntut persamaan hak bagi kaum perempuan

Demonstrasi menuntut persamaan hak bagi kaum perempuan

Memang Partai Ennahdha yang berhaluan Islamis, dan sedang memerintah, selalu menegaskan bahwa mereka tidak akan mengutak-utik hak perempuan. Namun banyak perempuan Tunisia menuding Ennahdha punya lidah bercabang dan tidak tegas menindak kecenderungan ekstremisme.

Misalnya yang terjadi akhir tahun lalu di Fakultas Ilmu Humaniora Universitas Damaskus. Sekelompok pendukung salafi menuntut pembangunan tempat ibadah di aula universitas dan memaksa hanya perempuan bercadar yang boleh mengikuti ujian. Hingga kini, masalah itu belum selesai.

Dosen bernama Rafiqa menjelaskan, "Ini merupakan masalah yang diangkat untuk mengalihkan pertanyaan sebenarnya, seperti masalah pembangunan politik dan ekonomi. Kami sebenarnya punya hal lebih penting yang harus dilakukan. Kami harus bekerja memajukan negara ini. Demokrasi bukan berarti setiap orang boleh melakukan apa saja yang diinginkannya."

Menurutnya, jika pemakaian niqab atau kerudung bercadar diizinkan di universitas, nanti akan ada pemisahan bus untuk laki-laki dan perempuan, dan akhirnya Universitas yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. “Kami ingin maju, bukan mundur,” tegas Rafiqa.

Perempuan Tunisia Harapkan Peluang Lebih Besar

Perempuan Tunisia bahu-membahu dengan laki-laki memperjuangkan demokrasi

Perempuan Tunisia bahu-membahu dengan laki-laki memperjuangkan demokrasi

Setahun setelah revolusi, banyak perempuan Tunisia yang merasa haknya terancam. Padahal, mereka berharap akan mendapat peluang lebih besar di lapangan pekerjaan atau politik.  Dalam pemilihan umum Oktober tahun lalu, daftar kandidat anggota parlemen, dipenuhi oleh mayoritas laki-laki.

Bagi banyak perempuan Tunisia, revolusi merupakan awal. Kini saatnya mereka harus berjuang. Perempuan Tunisia berharap, demokratisasi memberikan lebih banyak kemudahan bagi kaum perempuan.

Sarah Mersch/Luky Setyarini

Editor: Andy Budiman