1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Perebutan Kekuasaan di Ukraina Berlanjut

Tepat lima tahun silam, 21 November 2004, Revolusi Oranye dimulai di Lapangan Majdan, Kiev.

default

Pendukung Viktor Yushchenko berdemonstrasi di depan gedung parlemen di Kiev, 1 Desember 2004. (AP Photo/Oded Balilty)

Penampilan PM Julia Timoschenko akhir Oktober lalu berjalan sempurna. Hari itu partainya secara resmi memilih ia sebagai kandidat untuk berlaga dalam pemilihan presiden, Januari 2010. Bukan di ruang aula saat kongres partai, tetapi di hadapan ribuan orang di Majdan, lapangan kemerdekaan di ibukota Ukraina, Kiev. Di tempat inilah Revolusi Oranye dimulai, lima tahun silam.

Timoschenko mengatakan, "Saya katakan pada Anda, hari ini saya bersama-sama Anda melawan tsunami sesungguhnya yang menghalangi setiap langkah kita. Memang ada kesulitan sementara. Tapi yang penting, kita bertekad mengatasinya. Dengan keyakinan penuh saya katakan pada Anda, tidak ada satupun gagasan kita yang hilang."

Orang yang ia lawan adalah Presiden Viktor Yushchenko. Pria yang bersama ia berjuang demi demokrasi dan perubahan radikal di Ukraina, lima tahun lalu.

Peristiwanya dimulai 21 November 2004, malam hari, seusai penutupan TPS. Menurut perkiraan awal, Viktor Juschtschenko akan menang mutlak dalam pemilu presiden putaran penentuan itu. Para pengikutnya berkumpul di Majdan, siap merayakan kemenangan.

Tapi situasi berubah. Malam itu Komisi Pemilu mengumumkan kemenangan mengejutkan Viktor Yanukovitsch, PM Ukraina yang diunggulkan Presiden saat itu, Kutschma.

Yushchenko menyerukan kepada para pendukungnya untuk tidak meninggalkan lapangan Madjan. Perayaan kemenangan diubah menjadi aksi protes. Larut malam, penguasa mengerahkan tentara dan aparat kemanan.

Tapi para demonstran di Madjan tidak gentar. Mereka membangun tenda-tenda, menuntut keadilan. Mereka ingin sistim yang lama dihapuskan dan menuntut awal baru yang demokratis, yang mengusung warna partai Yushchenko yaitu oranye.

Julia Timoschenko menyerukan mogok massal. Para pemrotes tetap tenang tetapi gigih. Pihak lawan, Kutschma und Janukovitsch, bersikap sama. Lima hari kemudian mediator internasional campur tangan. Perundingan berlangsung antara Kutschma, Yushchenko dan Yanukovitch, namun tak ada hasil.

Yushchenko dan Timoschenko, yang pelan-pelan menjadi figur simbol oposisi, menaruh harapan pada Mahkamah Agung. Para hakim menanggapi serius 1000 kasus pengaduan dan menyatakan pemilu penentuan tidak sah. Sorak sorai para pendukung Oranye mengiringi keputusan pelaksanaan pemilu baru.

Ketika Yushchenko diumumkan sebagai pemenang pemilu 26 Desember, kelegaan melingkupi Ukraina. Para pemrotes di lapangan Madjan lelah, tetapi puas. Seorang demonstran emgnatakan, "Apa yang terjadi di sini ajaib sekali, proses demokrasi tidak bisa lagi dihentikan."

Euforia semacam ini tak banyak dirasakan sekarang. Ikon perlawanan diyakini telah berubah menjadi tipikal penguasa. Suatu hal yang dengan senang hati dibahas Yanukovitch, pihak yang dikalahkan dalam Revolusi Oranye. Iamengatakan,

"Tidak ada satupun program yang dijanjikan kaum Oranye yang terealisasi. Tidak ada satupun janji mereka yang berpura-pura sebagai demokrat ini, dipenuhi. Mereka merusak demokrasi, lebih dari pemimpin lainnya.“

Tetapi, Yanukovitch sendiri, kini sebagai pemimpin oposisi, memiliki andil besar dalam krisis politik dan struktural yang berkepanjangan di Ukraina.

Ketiga tokoh yang menguasai panggung politik Ukraina saat ini, Yanukovitch, Timoschenko, dan Yushchenko, akan tetap berjuang memperebutkan kekuasaan. Mungkin sampai rakyat muak dan kembali berkumpul di lapangan kemerdekaan, Majdan.

Christina Nagel/ Renata Permadi

Editor : Luky Setyarini