1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Perancis Harapkan Iklim Politik Lebih Toleran

Kemenangan tokoh sosialis François Hollande dalam pemilu preiden Perancis, terutama disambut warga berlatar belakang migran yang mengharapkan perubahan iklim politik lebih toleran dan adil.

Setelah Francois Mitterand, dengan keunggulan Hollande berarti untuk kedua kalinya dalam sejarah Republik Perancis, seorang tokoh partai sosialis berkuasa di istana Elysée.

Terutama diharapkan, iklim penuh diskriminasi dan ketidak adilan sosial di Perancis akan mengalami perubahan ke arah perbaikan. Namun para pengritik Hollande memperingatkan, para pendukung tokoh sosialis itu dalam waktu dekat akan kecewa.

Bildgalerie Frankreich Wahlen Paris Vorort Siedlung Hochhaus

Kawasan pemukiman warga migran di pinggiran Paris.

Minggu malam di kawasan pemukiman Belleville di pinggiran Paris dekat pemakaman Père Lachaise, kemenangan Holande dalam pemilu presiden disambut meriah. Belleville adalah kawasan pemukiman warga migran dengan kompleks flat-flat bertingkat tinggi dan iklim bertetangga yang khas. Warga di kawasan semacam ini, kebanyakan memilih partai kiri.

Philippe, seorang guru berusia sekitar 40 tahun juga memilih partai sosialis. Bukan hanya karena tergiur janji Francois Hollande, yang menjanjikan akan membuka 60.000 lapangan kerja baru bagi guru, melainkan karena situasi dan iklim politik di bawah presiden sebelumnya, dinilai sudah tidak tertahankan oleh kaum migran.

Politik diskriminasi

Presiden Nicolas Sarkozy mengecam langsung kelompok gypsi, mengolok-olok kaum Muslim dan mengecam para penganggur sebagai penggerogot kinerja sosial.

Puzzlebild Triptychon Frankreich Roma Galeriebild 2

Kaum gypsy yang mengalami diskriminasi

"Saya kini mengharapkan para penanggung jawab politik bereaksi, dengan menyerukan rekonsiliasi antar warga, bukan sebaliknya seperti yang dilakukan selama ini, dengan mendiskriminasi kelompok tertentu", kata Philippe. "Kami tidak mengharapkan masa depan yang gemilang. Tapi, jika minimal dilakukan perbaikan moral kehidupan politik sehari-hari, itu sudah banyak yang dimenangkan", katanya menambahkan.

Banyak pemilih menghadapi situasi seperti yang dihadapi Philippe, dan menyatakan sudah muak dengan iklim diskriminasi dan ketidak adilan. Terutama warga keturunan migran menginginkan iklim lebih toleran dan mulitibudaya. "Semua adalah warga Perancis, yang lain-lain tidak penting", kata Ralia (25) mahasiswi jurusan hukum.

Skeptisme juga muncul

Tapi kemenangan tokoh partai Sosialis, Hollande juga memicu ketakutan dan keraguan. Terutama kelompok manula yang memandang masa depan mereka akan lebih suram.

Frankreich Wahlen 2012 Francois Hollande Wahlsieg

Pendukung Holande rayakan kenenangan.

Patrick seorang pensiunan mengatakan : "Hollande akan dipaksa melaksanakan politik sama seperti yang dilakukan Sarkory. Ia akan menghadapi kesulitan besar. Dalam situasi aktual saat ini, ibaratnya tangannya dibelenggu. Saya ramalkan, kelompok ekstrimis kiri maupun kanan akan menguat dan warga akan kecewa."

Mayoritas warga sudah merasakan dampak krisis ekonomi. Sarkozy, disebut-sebut sejauh ini berhasil mencegah krisis terburuk. Warga yang kritis meragukan, Hollande mampu melakukan perubahan di bidang politik ekonomi.

"Kita akan mengalami situasi seperti Yunani, Spanyol dan Portugal. Hollande, akan membawa kita ke arah kebangkrutan", kata seorang warga yang skeptis.

Tidak terpengaruh skeptisme, para pendukung kelompok kiri datang berbondong bondong ke lapangan Bastille. Yang amat mencolok adalah, banyak warga kulit hitam yang meluapkan perasaan kemenangannya di lapangan tersebut.

Seorang sopir taksi yang biasa mangkal di stasiun kereta api Gare de Lyon mengatakan, kemenangan Hollande akan memaksa Jerman melonggarkan haluan penghematannya. "Jika Perancis dan Jerman bisa berjalan berdampingan, krisis bisa diatasi", katanya optimis.

Sinyal pertama ke arah itu sudah dilontarkan kanselir Angela Merkel, yang langsung mengundang Hollande berkunjung ke Jerman sesaat setelah pengumuman kemenangannya.

Bettina Kaps/Agus Setiawan

Editor : Christa Saloh-Foerster