1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Penyalahgunaan Kekuatan Gambar oleh Pemerintah

Bagaimana gambar dapat digunakan untuk memanipulasi orang, sudah kita ketahui selambatnya sejak Perang Irak yang terakhir. Kekuatan gambar. Itu sudah digunakan oleh banyak pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu.

default

Gambar simbol: juru foto

Insiden terakhir yang menunjukkan kekuatan gambar terjadi saat perundingan langsung untuk perdamaian Timur Tengah berlangsung di AS awal September. Koran Mesir "Al Ahram" menampilkan foto yang dibuat di Washington, yang menunjukkan lima pria sedang melangkah di atas karpet merah.

Memalsukan Posisi

PM Israel Benyamin Netanyahu, Presiden Mahmud Abbas, Raja Yordania Abdullah II, Presiden AS Barack Obama, dan paling depan, dengan penuh martabat, Presiden Mesir Hosni Mubarak yang berusia 82 tahun. Yang dimanipulasi dalam foto ini adalah posisi Obama dan Mubarak. Sebenarnya, Presiden AS yang berjalan paling depan, sedangkan Mubarak berada di kiri belakang. Mengapa koran yang bersifat setengah resmi itu memanipulasi foto tersebut?

Fotomontage Ägypten Mubarak Obama Screenshot Al Ahram

Foto hasil manipulasi yang digunakan harian Al Ahram. Mubarak berjalan paling depan, dan dibelakangnya, Barack Obama.

Rainer Sollich pemimpin redaksi Arab Deutsche Welle menjelaskan, "Tahun depan di Mesir akan diadakan pemilu. Sampai sekarang belum jelas, apakah Mubarak atau anaknya yang akan mencalonkan diri. Yang jelas, harus ditunjukkan kepada oposisi dan seluruh rakyat Mesir, bahwa presiden kita benar-benar orang penting. Jadi ia berada di depan. Bahkan Obama dan Netanyahu berada di belakangnya."

Manipulasi untuk Kampanye

Jadi manipulasi adalah bagian dari kampanye. Mubarak senang menampilkan diri sebagai pemimpin, dan ini hanya tampak sebagai kampanye media yang tidak merugikan siapapun. Ini juga cara yang kerap dipakai Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Fotomontage Ägypten Mubarak Obama ORIGINAL

Foto yang sebenarnya. Obama melangkah paling depan, sementara Mubarak melangkah di kiri belakang.

Demikian dikatakan Jamsheed Faroughi dari redaksi Farsi, Deutsche Welle, "Orang bisa melihat bagaimana Ahmadinejad berdiri di mimbar pidato. Kemudian, ketika juru kamera menunjukkan orang-orang yang katanya sedang mendengar pidatonya, Ahmadinejad tampak sebagai penonton di barisan pertama. Itu kerap terjadi di Iran. Orang berusaha memanipulasi gambar untuk menunjukkan dukungan massa bagi presiden."

Memalsukan Neda

Manipulasi seperti ini tentu tidak akan diakui oleh pemerintah Iran. Sebaliknya, mereka tidak pernah lelah mendiskreditkan pihak oposisi. Ketika "Revolusi Hijau" berlangsung tahun lalu, dan foto-foto mahasiswi bernama Neda yang terbunuh dalam demonstrasi menyebar ke seluruh dunia, Teheran berkeras, ini semua hasil manipulasi. Bahkan pemerintah menampilkan seorang perempuan muda bernama sama untuk membuktikan bahwa Neda masih hidup. Tetapi saksi mata, dokter serta anggota keluarga Neda membenarkan terjadinya insiden yang menyedihkan tersebut.

Neda Agha-Soltan

Neda Agha-Soltan yang tewas dalam demonstrasi di Teheran tahun 2009.

Bagaimana gambar dapat memanipulasi secara langsung juga dapat dilihat tiga tahun lalu di Rusia. Alexander Kynew dari organisasi non pemerintah "Golos", yang berarti "suara", mengatakan dalam wawancara dengan Deutschen Welle, adanya manipulasi selama pemilu Duma tahun 2007.

Memanipulasi Pemilu

Menurutnya, warga dipaksa untuk memberikan suara. Untuk membuktikan kehadiran mereka, atasan memaksa mereka untuk memfoto kertas suara dengan telefon seluler. Ini jelas pelanggaran prinsip bebas dan rahasia, demikian ditambahkan Kynew.

Siapa yang tidak membuat foto terancam kehilangan pekerjaan. Oleh sebab itu, kejadian seperti itu hanya dipublikasikan warga lewat internet dan tidak diketahui pemerintah. Gambar memanipulasi pemilu, baik berupa foto Mubarak di koran Mesir maupun foto dengan telefon seluler di Rusia.

Tobias Oelmeier / Marjory Linardy

Editor: Agus Setiawan