1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pentagon Desak WikiLeaks Hapus Dokumen

Menteri Pertahanan AS desak WikiLeaks kembalikan dokumen rahasia militernya. Sementara WikiLeaks menerbitkan sebuah data terkunci yang disebutnya sebagai asuransi. Sebuah jaminan bagi keamanan para aktivis internet itu?

default

Desakan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat untuk mengembalikan dokumen-dokumen rahasia, tampak seakan dibarengi ancaman. Disebutkan, bila WikiLeaks tak dapat digerakkan untuk secara sukarela mengembalikan seluruh materi rahasia itu, maka terbuka kemungkinan untuk mengambil tindakan terpaksa. Begitu ungkap juru bicara Pentagon, George Morrel, kepada pers hari Kamis (06/08). "Kami meminta mereka untuk melakukan yang betul. Ini merupakan jalan yang terbaik, mengingat kerusakan yang sudah terjadi, dan kami berharap mereka akan memenuhi tuntutan kami."

Dokumen Yang Diterbitkan Mengandung Informasi Sensitif

Morrel menambahkan masih ada sejumlah informasi yang dimiliki oleh para aktifis internet penyelenggara situs WikiLeaks dan Pentagon menginginkan semua data dan copy data itu kembali. Selain itu, diminta juga agar WikiLeaks menghapus semua rekaman dokumen-dokumen tersebut dari komputernya dan tidak lagi menerbitkan data-data Pentagon.

Lebih dari 70 ribu dokumen rahasia militer AS diterbitkan di internet oleh Wikileaks akhir Juli. Setelah informasi panas itu diberitakan sejumlah media AS, dalam waktu singkat hampir seluruh media dunia mengangkat tema tersebut. Disebutkan, data yang bisa diunduh oleh siapa saja itu, mengandung informasi sensitif. Termasuk dugaan mengenai pertemuan langsung dinas intelijen Pakistan dengan anggota Taliban. Selain itu, mengenai upaya menutup-nutupi kematian warga sipil di tangan pasukan internasional. Dokumen itu menyebut sejumlah nama informan Afghanistan, dan karenanya informasi itu juga dianggap membahayakan kehidupan warga lokal.

Menurut juru bicara Pentagon, George Morrel, diterbitkannya dokumen-dokumen itu di situs WikiLeaks telah membahayakan keamanan pasukan AS dan para sekutunya yang selama ini bekerjasama untuk membangun stabilitas dan perdamaian di kawasan itu. Morrel memperingatkan bahwa pembocoran dokumen rahasia yang lebih lanjut hanya akan memperburuk situasi. Namun dikatakannya juga, ia tak yakin WikiLeaks akan mengabaikan peringatannya.

Untuk Membangun Debat Publik

Sementara itu, WikiLeaks telah menaruh sebuah data yang masih terkunci di situsnya. Besaran data yang disebut sebagai asuransi atau jaminan itu mencapai 1,4 Gigabyte. 20 kali lebih besar daripada data sebelumnya yang mengandung 77.000 dokumen rahasia AS. WikiLeaks tidak memberikan informasi mengenai data tersebut. Namun dalam sebuah wawancara, inisiator WikiLeaks, pakar komputer Australia, Julian Assange, mengatakan bahwa lebih baik tidak mengomentari isi dari asuransi tersebut. Kecuali bahwa dalam keadaan terdesak, harus bisa dijamin bahwa catatan-catatan sejarah yang paling penting tidak menghilang begitu saja.

Ditaruhnya data itu di internet, berarti sudah ratusan ribu orang yang telah mengunduhnya dan dalam situasi genting, kunci untuk membukanya akan diterbitkan juga oleh WikiLeaks suatu saat. Menurut Julian Assange yang berusia 39 tahun, publikasi dokumen rahasia itu bertujuan membangun debat publik mengenai perang di Afghanistan serta kejahatan perang yang mungkin terjadi.

Situs WikiLeaks pertama diluncurkan Desember 2006, sebagai dinas intelijen rakyat dunia dan mengundang pemegang informasi mengenai pelanggaran di seluruh dunia untuk melaporkannya secara anonim. WikiLeaks tidak pernah menyebut sumber dokumen-dokumen rahasia itu. Namun militer AS telah menahan seorang analis dinas rahasia militer, Bradley Manning, yang pernah membocorkan viedo mengenai helikopter AS yang menyerang warga sipil di Baghdad, Irak, dan menewaskan belasan orang, termasuk dua jurnalis. Manning yang sebelumnya ditahan di penjara militer AS di Kuwait, kini telah dipindahkan ke penjara di Amerika Serikat.

Edith Koesoemawiria/afp/rtrd/dpad
Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan