1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pengungsi: Militer Korut Penyebab Kelaparan

Warga Korut yang tinggal di Korsel menyalahkan program militer Korut sebagai penyebab kemiskinan dan kelaparan. Mereka khawatir warga Korut sendiri tidak akan pernah tahu kegagalan militer negaranya.

Protes warga Korut di Korsel

Protes warga Korut di Korsel

Upaya gagal Korea Utara untuk meluncurkan roket ke udara hari Jumat (13/4) menjadi pertanda bagi para warga yang telah meninggalkan bangsa represif tersebut bahwa tidak ada yang berubah dibawah kepemimpinan Kim Jong Un. Sejumlah pengungsi padahal berharap Kim yang naik tampuk kekuasaan bulan Desember lalu dapat mengangkat standar hidup warga Korea Utara. Antara lain karena Kim pernah menempuh studi di Swiss dan mungkin pernah mempelajari hak asasi manusia.

Tampaknya pupus sudah harapan mereka, ujar Han Gi-hong dari Komite Demokratisasi di Korea Utara, sebuah organisasi yang terdiri dari para pengungsi Korea Utara di Seoul. "Kim Jong Un sama sekali tidak tertarik dengan kehidupan warga. Ia hanya tertarik pada keberlangsungan hidup rezim," tambahnya dalam sebuah konferensi pers hari Jumat.

Rezim Korea Utara terus mengawasi warga

Rezim Korea Utara terus mengawasi warga

Militer menjadi fokus politik

Berbagai kelompok HAM telah lama menuding rezim di Pyongyang lebih memilih program senjata daripada ketersediaan pangan bagi warga. Pada tahun 90-an, bencana kelaparan yang diyakini menewaskan lebih dari satu juta warga Korea Utara menjadi akibat sistem distribusi yang korup dan berakhirnya bantuan dari Uni Soviet. Sejak itu, Korea Utara selalu kekurangan pangan dan tidak mampu menyediakan pangan bagi warga tanpa bantuan donor internasional.

Kelangkaan bahan pangan menjadi alasan mengapa kebanyakan dari 23 ribu warga Korea Utara yang kini tinggal di Korea Selatan memilih meninggalkan tanah kelahiran mereka. Kekhawatiran mereka terhadap sanak saudara yang ditinggalkan terus bertambah setiap kali Korea Utara meregangkan otot-otot militer, seperti rudal jarak jauh dan tes nuklir. Banyak pengungsi yang menilai fokus komunitas internasional terhadap program senjata Korea Utara kerap menyelubungi pelanggaran HAM yang terus berlangsung.

"Program senjata dan krisis pangan jelas berhubungan. Mereka dapat membeli makanan kalau tidak membuat senjata-senjata ini," tegas seorang pengungsi berusia 24 tahun, Park Gun-ah.

Park dan sejumlah pengungsi lainnya mengusung spanduk yang mengutuk rezim Korea Utara. Mereka menyerukan berakhirnya kebijakan yang mendahulukan militer. Han Gi-hong mengambil contoh peluncuran roket hari Jumat. "Biayanya 850 juta Dolar untuk membuat roket ini. Jumlah tersebut dapat digunakan untuk pangan bagi 19 juta warga selama satu tahun," jelasnya.

Kelaparan memaksa ribuan warga Korut mengungsi

Kelaparan memaksa ribuan warga Korut mengungsi

Pembodohan warga Korea Utara

Mesin propaganda Korea Utara menyebut roket Unha-3 sebagai simbol kebangkitan bangsa menuju era kekuatan dan kesejahteraan. Roket yang hancur tak lama setelah diluncurkan ke udara tersebut diproklamirkan membawa satelit cuaca. Rezim di Pyongyang mengundang puluhan jurnalis asing untuk meliput peluncuran. Meski satelit jelas-jelas jatuh ke Laut Kuning, sejumlah pengungsi yakin rezim akan memutarbalikkan fakta mengenai insiden sehingga tetap tampak sebagai sebuah kesuksesan di mata warga Korea Utara.

"Meski Korea Utara mengakui peluncuran roket sebagai sebuah kegagalan, mereka akan mencari penjelasan mengapa gagal, seperti menyalahkannya kepada kekuatan asing," tandas Seo Jae-pyoung yang mengungsi dari Korea Utara sepuluh tahun lalu. "Warga Korea Utara tidak akan memiliki akses terhadap detail apa yang sebenarnya terjadi."

Tidak jelas apakah kegagalan peluncuran roket akan merusak suasana keramaian akhir pekan ini untuk merayakan hari kelahiran Kim Il Sung, kakek pemimpin Korea Utara saat ini yang jika masih hidup genap berusia 100 tahun. Meski dilanda banyak masalah, para pengungsi menilai sebagian besar warga Korea Utara masih mengagumi sosok mendiang Kim yang wafat di tahun 1994. Dan kekaguman mereka terhadap 'Presiden Abadi' tidak sirna begitu saja usai mengungsi.

"Bagi para pengungsi yang belum lama berada di Korea Selatan, masih ada perasaan itu," ungkap Seo. "Namun semakin lama tinggal di sini, semakin banyak mempelajari sejarah yang sebenarnya, perlahan mulai mengerti bahwa Kim Il Sung bukanlah sosok yang kami ketahui."

Jason Strother/Carissa Paramita

Editor: Yuniman Farid

Laporan Pilihan