1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Pengungsi Afghanistan Yang Terlupakan - Dari Rimba Calais ke Jalanan Kota Paris

Banyak pengungsi Afghanistan, yang sebelumnya tinggal di Rimba Calais, kini menetap di Paris. Di ibukota Perancis ini, mereka tinggal di sepanjang kanal. Hidup mereka tergantung pada bantuan organisasi kemanusiaan.

default

Empat remaja asal Afghanistan ditampung sementara oleh satu organisasi kemanusiaan, setelah kamp pengungsi Calais dibongkar

Bulan September 2009, polisi Perancis mengosongkan kamp pengungsi di Calais. Diantara para pengungsi terdapat sejumlah pengungsi dari Afganistan. Menteri Urusan Imigran Perancis Eric Besson waktu itu mengatakan, "Kami tidak menghendaki ditangkapnya sebanyak mungkin pendatang gelap di pagi buta. Melainkan kami hendak menghancurkan dalang penyeludupan manusia."

Setelah kamp pengungsi dikosongkan, polisi mengangkutnya kebagian selatan Perancis. Tapi kemudian sebagian besar diantaranya datang ke Paris, dan kembali ke Calais. Sekarang, mereka ditangani oleh organisasi bantuan "Salam", Sylvie Copyans dari organisasi bantuan itu mengungkapkan, "Yang terjadi adalah sebaliknya. Para pengungsi tersebut beralih ke pusat kota. Mereka menunggu makan siang dan makan malam. Mereka menginginkan secepat mungkin dapat diselundupkan untuk memasuki Inggris."

Polisi Perancis tidak hanya memporakperandakan kamp tempat mereka tinggal, melainkan juga sejumlah rumah kosong, yang sebelumnya dihuni oleh pengungsi asal Afganistan. Mereka yang putus asa tidak dapat memasuki Inggris, berdatangan ke Paris.

Ratusan orang tidur di sebuah taman di dekat sebuah stasiun kereta api, sampai polisi mengusir mereka. Ketika musim dingin seperti saat ini, para pengungsi itu tinggal di kolong jembatan dan di tenda-tenda darurat yang didirikan organisasi bantuan. Untuk sekedar menghangatkan tubuh, warga yang tinggal di sekitarnya menyumbangkan kayu untuk dibakar. Sementara untuk sarapan dan makan malam disediakan oleh organisasi sosial, yang menangani tuna wisma.

Ali Rheza, seorang pengungsi asal Afganistan mengungkapkan, "Saya delapan bulan hidup di kolong jembatan. Tidak begitu buruk. Saya sabar menghadapinya. Memang terkadang terasa benar-benar dingin. Saya punya dua kantong tidur dan tenda.Tapi yah masih tetap terasa dingin. Mau apa lagi, saya terpaksa menjalaninya."

Ali Rheza adalah seorang pengungsi Afganistan yang mengajukan permohonan suaka di Perancis. Sebetulnya ia harus tinggal di Yunani. Terutama Jerman dan Perancis hendak menerapkan ketentuan Uni Eropa, bahwa seorang pengungsi ditampung di negara pertama yang terikat perjanjian Schengen, yang dimasukinya. Perancis dengan segala cara berusaha untuk memindahkannya ke Yunani, yang mana negara tersebut juga menangani pengungsi.

Tapi Ali Rheza tetap bersikeras untuk tetap tinggal di Perancis. "Mereka datang ke sini untuk sekedar mendapatkan makanan dan menyambung hidup. Sama dengan saya, mereka tidak ingin mati dalam peperangan, baik oleh Taliban maupun Amerika."

Sekarang Ali Rheza mengikuti kursus Bahasa Perancis dan untuk pertama kalinya memiliki tempat tinggal. Dan sejumlah besar pengungsi Afganistan lainnya di Perancis, juga mengharapkan untuk dapat mengikuti jejak Ali Rheza.

Johannes Duchrow/Asril Ridwan

Editor. Luky Setyarini