1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pengunduran Diri Politisi Jerman Ikuti Ritual Tetap

Awalnya tuduhan dibantah. Lalu muncul fakta baru yang membuahkan pengakuan sebagian. Media meneruskan penyelidikan. Bukti nyata dipublikasikan. Politisi yang terlibat memilih diam, mundur karena tidak ada jalan keluar.

default

Karl Theodor zu Guttenberg melepaskan jabatannya sebagai menteri pertahanan akibat kasus plagiat tesis doktornya

"Hal yang menentukan apakah seorang menteri yang terlibat skandal akan bertahan di jabatannya atau tidak adalah apakah ini akan merugikan dalam pemilu berikut bagi partainya atau tidak. Jika tidak, partai akan selalu mendukung menterinya," demikai dikatakan Michael Philipp.

Pakar sejarah asal Hamburg Michael Philipp menganalisa 250 politisi yang mengundurkan diri dalam 60 tahun sejarah Jerman. Dan ia memastikan, bahwa sebagian besar pengunduran diri datang terlambat dan bukan atas kemauan sendiri. Hanya sedikit yang sadar sendiri dan tidak menyalahkan media atau pihak oposisi, seperti mantan Perdana Menteri Baden Württemberg Hans Filbinger.

Masa lalunya yang terkait dengan NAZI kembali terkuak, saat diketahui bahwa sebagai hakim angkatan laut ia juga menandatangani vonis hukuman mati. Saat itu, tahun 1978, Filbinger mengatakan, "Ini adalah dampak kampanye pembunuhan karakter, yang dalam bentuk ini belum pernah terjadi di Jerman."

Penerusnya, Lothar Späth juga tersandung setelah ia menerima undangan kepala perusahaan untuk ikut serta dalam liburan mewah. Tahun 1991, itu dianggap sebagai uang sogokan terhadap seorang politisi. Setelah 12 tahun mejabat sebagai perdana menteri, Späth mengundurkan diri. "Jika saya tidak memperoleh kesempatan yang adil, maka saya hanya bisa mengambil keputusan yang saya ambil sekarang. Yakni, bahwa setelah 12 tahun bekerja, saya tidak perlu membiarkan keluarga saya melewati ini."

Banyak hal yang dijadikan sebagai alasan pengunduran dalam sejarah pemerintahan Jerman. Seperti sumbangan bagi partai yang tidak tercatat secara benar. Atau menteri perlindungan konsumen yang menggambarkan kualitas daging secara tidak benar pada seorang komisaris Uni Eropa. Dan ada juga yang berani mengungkapkan perbandingan yang kontroversial. Dalam hal ini seorang menteri kehakiman yang membandingkan mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush dengan Adolf Hitler. Atau menteri pertahanan yang tertangkap basah berlibur dengan kekasihnya, saat tentara Jerman berada dalam situasi tertekan di Afghanistan. Dalam setiap kasus tidak ada kesadaran sedang melakukan sesuatu yang salah.

Pakar politik Frank Überall meneliti bagi bukunya 'Endstation Rücktritt' atau "Mengundurkan Diri - Stasiun Terakhir". Ia menemukan beberapa kasus yang aneh, "Misalnya, politisi negara bagian dari Niedersachsen yang memalsukan kartu pers agar memperoleh banyak diskon yang diperuntukkan untuk orang media."

Pengunduran diri tidak hanya terjadi karena kesalahan pribadi. Tetapi juga karena kekecewaan. Horst Köhler meletakkan jabatannya, setelah dalam wawancara mengenai tentara di Afghanistan pendapatnya disalahmengerti oleh publik. "Kritik ini menghilangkan rasa hormat yang dibutuhkan bagi jabatan saya. Karena itu saya mengundurkan diri dari jabatan sebagai Presiden Jerman dengan segera."

Para peneliti yang menyibukkan diri dengan pengunduran diri politisi memastikan bahwa ada satu hal yang sangat jarang terjadi, yaitu,´"Pengunduran diri karena yakin dan mengatakan saya tidak bisa lagi meneruskan politik ini," dikatakan Frank Überall.

Sosok yang termasuk golongan langka ini adalah Henning Voscherau yang mengundurkan diri sebagai walikota Hamburg karena ia hanya menang sangat tipis dalam pemilihan. Dulu ia mengungkapkan sesuatu yang sering dilupakan oleh para politisi Jerman. "Seorang politisi harus tahu, bahwa demokrasi memberikan kekuasaan sementara. Tetapi kekuasaan ini adalah tugas dan tugas yang harus dilakukan untuk rakyat dan bukan kepentingan pribadi."

Wolfgang Dick/Vidi Legowo-Zipperer

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan