1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Penghargaan Bergengsi untuk Liao Yiwu

Liao Yiwu ditekan dan diancam di tanah airnya. Sejak Juli ia hidup sebagai eksil di Jerman. Penganugerahan "Geschwister-Scholl-Preis" ia tanggapi dengan rendah hari.

default

Penyair Cina Liao Yiwu, 16 kali minta ijin rejim untuk bepergian ke luar negeri, hanya sekali diijinkan

Liao Yiwu menulis puisi tentang pembantaian di lapangan Tiananmen dan menyutradari film tentangnya. Untuk itu ia diganjar 4 tahun penjara, tak luput dari penyiksaan. Selepas dari penjara, tekanan dan ancaman tidak menyurutkan Liao untuk menulis tentang kenyataan sehari-hari yang harus dihadapi rakyat Cina. Bulan Juli ia meninggalkan tanah airnya dan hidup sebagai eksil di Jerman.

Senin kemarin, Liao Yiwu menerima "Penghargaan Scholl Bersaudara", untuk bukunya "Untuk satu lagu dan ribuan lainnya". Penghargaan bergengsi dari asosiasi penerbit buku Jerman dan dinas budaya München itu disertai hadiah uang sebesar 10.000 Euro. Liao Yiwu merasa jengah.

"Penghargaan ini dinamai Scholl bersaudara, pahlawan Jerman yang terkenal. Mereka tewas dalam perlawanan terhadap fasisme. Tapi saya masih hidup. Dibandingkan dengan mereka, saya merasa apa yang saya lakukan belum cukup", kata Liao.

Menulis untuk sembuh

Sophie dan Hans Scholl adalah anggota "Mawar Putih", sebuah kelompok yang memimpin perlawanan terhadap rejim Nazi di Universitas München, awal tahun '40-an. Keduanya dihukum mati tahun 1943.

Liao Yiwu

Buku berisi kebrutalan di penjara Cina baru bisa terbit setelah Liao eksil ke Jerman

Liao Yiwu menerbitkan kumpulan laporan tentang lapisan masyarakat paling bawah di Cina tahun 2002. Edisi bahasa Inggris yang terbit tiga tahun kemudian, membuat namanya semakin dikenal publik internasional. Pengalamannya di penjara "Für Ein Lied und tausend Lieder", atau 'untuk satu lagu dan ribuan lainnya', baru dapat ia terbitkan setelah eksil ke Jerman. Aparat Cina selalu mencari-cari alasan untuk mencegah buku itu diterbitkan di luar negeri.

Dua kali polisi menyita naskah buku yang menceritakan kebrutalan di penjara Cina itu. Dua kali pula Liao Yiwu menulisnya dari awal kembali. Ia mengaku hampir putus harapan. Tapi, hanya dengan menulis buku inilah, kata Liao, ia dapat memperoleh kembali harkatnya.

"Kalau saja saya tidak menulis buku ini, maka saya tidak akan bangkit sebagai manusia. Waktu itu saya pikir saya sudah hancur berkeping-keping. Saya harus menuliskan pengalaman ini. Dan itu juga menjadi cara saya untuk menyembuhkan diri", tutur Liao.

Jauh tapi ada

Buku-buku Liao menunjukkan jiwa yang indenden, kata ketua juri, Wolf Dieter Eggert, yang juga ketua asosiasi penerbit buku Jerman. Karya-karya Liao Yiwu cocok untuk memajukan kebebasan masyarakat sipil. Dan karena itu ia pantas mendapat penghargaan Scholl Bersaudara.

Dalam keputusan juri disebutkan, penghargaan bagi Liao Yiwu dikaitkan dengan "harapan, semoga kelak ia dapat kembali ke Cina yang bebas dan demokratis". Liao Yiwu menyimpan harapan serupa.

Ia mengatakan, "Walaupun harus diakui, Cina saat ini tidak berubah ke arah positif, tetapi saya tetap punya harapan. Setiap orang harus jujur pada dirinya sendiri. Walaupun harapan itu sangat jauh, tapi setidaknya tetap ada."

Christoph Ricking/ Renata Permadi

Editor: Hendra Pasuhuk