1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Penggunaan Narkoba di Afghanistan Meningkat Drastis

Afghanistan pasca Taliban masih tetap merupakan pemasok utama bahan dasar opium. Demikian menurut studi baru PBB. Selanjutnya disimpulkan bahwa konsumsi opium di Afghanistan sendiri juga meningkat secara dramatis.

default

Panen opium di Afghanistan

Semakin banyak orang Afghanistan menjadi pengguna barang-barang ilegal, ujar Sarah Waller yang bertugas di kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi urusan narkoba dan kejahatan: "Hasil penelitian yang kami peroleh mengejutkan dan mengherankan. Kami menyimpulkan adanya peningkatan pemakaian heroin yang mencapai 140 persen dibandingkan dengan hasil studi tahun 2005."

Sebuah penelitian serupa juga pernah dilaksanakan lima tahun lalu di negeri yang terpuruk oleh perang itu. Hasil penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan menunjukkan bahwa secara keseluruhan, jumlah pecandu narkoba di Afghanistan berlipat ganda bila dibandingkan dengan di negara lain di dunia. Robert Watkins, wakil utusan khusus Sekretaris Jenderal PBB menyimpulkan bahwa delapan persen dari warga Afghanistan terlibat dalam permasalahan ini, terutama kaum pria muda.

Watkins kemudian membeberkan sebuah informasi yang mengejutkan dan sangat mengkhawatirkan, yaitu bahwa separuh dari pecandu opium di Afghanistan menggunakan barang terlarang itu sejak masa kecil mereka: "Orangtua yang tidak punya uang untuk mendapatkan obat-obatan, menggunakan narkotik bagi anak-anaknya untuk mengurangi rasa sakit atau tidak enak badan yang disebabkan oleh sebuah penyakit. Dengan begitu mereka menimbulkan ketergantungan terhadap obat terlarang itu."

Sejak bertahun-tahun Afghanistan tak pelak lagi merupakan juara dunia dalam penanaman opium yang dijadikan bahan baku bagi heroin. Pasukan internasional belakangan ini meningkatkan upaya penumpasan pedagang narkoba dan penghancuran pabrik yang memproduksi narkoba. Namun acap kali mereka membiarkan begitu saja ladang-ladang tanaman opium yang berbunga subur karena khawatir, para petani kecil dan masyarakat akan menimbulkan kerusuhan akibat marah besar.

Di samping itu juga dipertanyakan apakah aparat keamanan Afghanistan akan mampu mengatasi masalah ini: "Yang sangat mengkhawatirkan kami adalah bahwa tingkat pemakaian narkoba di kalangan polisi sangat tinggi. Tergantung dari provinsi, hasil studi menunjukkan bahwa 12 hingga 41 persen polisi yang direkrut, menurut hasil test, positif kecanduan narkoba dalam bentuk yang bervariasi. Kami tidak hanya merasa khawatir terhadap orang-orang ini, tetapi juga terhadap keamanan seluruh bangsa ini."

Permasalahan ini memang sangat pelik apalagi mengingat bahwa pembangunan kepolisian Afghanistan merupakan sebuah persyaratan penting agar pasukan internasional pada suatu saat dapat meninggalkan negeri itu. Tetapi justru di sinilah letak permasalahan dari negara yang menderita trauma akibat perang, yaitu keamanan tidak terjamin di banyak tempat di Afghanistan, namun narkoba dijamin cukup gampang diperoleh.

Kai Küstner/Christa Saloh

Editor: Asril Ridwan