1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pengaruh Desmond Tutu pada Budaya dan Bahasa Afrika Selatan

7 Oktober 2011, Desmond Tutu berusia genap 80 tahun. Ia dikenal sebagai tokoh Afrika Selatan yang selalu mengutarakan apa yang dipikirkannya.

Nobel Peace Prize laureate and Anglican Archbishop Emeritus Desmond Tutu, celebrates his 78th birthday in Cape Town, South Africa, Wednesday, Oct. 7, 2009. (AP Photo)

Uskup Agung Desmond Tutu merayakan ulang tahun ke-80

Desmond Tutu mempunyai pengaruh besar pada rakyat dan budaya Afrika Selatan. Istilah bangsa pelangi, yang melambangkan keanekaragaman suku Afrika Selatan, berasal darinya. Penulis Antjie Krog memuji Desmond Tutu atas upayanya memberikan rakyat Afrika Selatan sebuah bahasa yang mempersatukan seluruh bangsa. "Kami hidup di sebuah negeri, dimana 90% warganya dipaksa menggunakan sebuah bahasa yang bukan bahasa ibu. Ini berarti, bahwa kami tidak memiliki satu bahasa yang sama untuk menggambarkan apa yang terjadi di negeri kami. Istilah seperti bangsa pelangi sangatlah penting, karena merupakan landasan kebebasan, rasa hormat dan kemanusiaan.

Archbishop Desmond Tutu, left, and President-Elect Nelson Mandela sing songs during a rally held in honor of national Thanksgiving Day in Soweto, Sunday May 8, 1994. The rally, attended by thousands as well as leader of various religions, came on the eve of Mandela inauguration as President. (AP Photo/David Brauchli)

Desmond Tutu (kiri) bernyanyi bersama Nelson Mandela (kanan) di Soweto

Di tahun-tahun pertama demokrasi Afrika Selatan, Nelson Mandela dan Desmond Tutu melakukan hal yang tepat. Keduanya menciptakan kosa kata yang membuat bangsa Afrika Selatan mulai membicarakan tentang apa yang dibutuhkan rakyat“, papar Krog.

Afrika Selatan memiliki sebelas bahasa resmi

Sampai sekarang komunikasi antar suku masih saja merupakan masalah besar. Semakin besar perbedaan bahasanya, semakin besar pula perbedaan budaya antar suku itu. Kata-kata seperti „keajaiban“ dan „manusia luar biasa“ diterapkan oleh Desmond Tutu dalam bahasa sehari-hari dengan sasaran menyatukan rakyat Afrika Selatan. Antjie Krog prihatin, upaya mewujudkan sebuah bahasa persatuan, tidak lagi memainkan peranan penting dalam politik Afrika Selatan.

Antjie Krog menempatkan Desmond Tutu setara dengan Nelson Mandela. Mandela bertanggung-jawab untuk prinsip politik Afrika Selatan, sementara Tutu untuk masalah kemanusiaan. "Dimanapun Tutu berbicara, selalu mengenai amal kebaikan sesama manusia. Bagaimana bersikap sopan dan santun terhadap orang lain. Selama Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika Selatan, 2000 warga memberikan kesaksiannya. Tutu menghadiri sekitar 1500 hearing. Di akhir kesaksian ia menghampiri orangnya dan berterima kasih padanya. Ia menyempatkan diri untuk menyampaikan kata-kata pribadi. Anggota komisi lainnya tidak dapat melakukan hal ini, karena mereka tidak menemukan kata-kata yang tepat. Tutu memberikan orang-orang itu pesan sebagai pegangan", ungkap Antjie Krog.

Desmond Tutu pejuang kemerdekaan Afrika Selatan di zaman apartheid

Uskup Agung Desmond Tutu dapat menggerakkan hati manusia. Ia memainkan peranan kunci dalam perjuangan menentang apartheid. Ketika pejuang kemerdekaan Nelson Mandela mendekam di penjara, Tutu mengambil alih peran utama memerangi segregasi rasial. Sampai sekarang ia tak lelah menghimbau warga Afrika Selatan untuk berdamai dan saling menghormati.

Kerstin Poppendieck/Andriani Nangoy                                                                              Editor: Hendra Pasuhuk