1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pengadilan Militer Terhadap Khadr Digelar di Guantanamo

Pengadilan tersangka teroris Omar Khadr mulai digelar Selasa (10/08) di Guantanamo. Akan ditentukan apakah Khadr akan dihukum penjara seumur hidup. Sedangkan bagi pemerintah AS yang dipertaruhkan adalah kredibilitaasnya.

default

Kamp Guantanamo

Pengadilan militer atas Omar Khadr dengan tuduhan membunuh seorang serdadu Amerika Serikat dengan granat, dibuka hari Selasa (10/08) di kamp Guantanamo. Khadr ditangkap di Afghanistan saat ia berusia 15 tahun. Pada hari pertama pengadilan, ia tampil mengenakan pakaian barat dan berdasi. Sehari sebelumnya, hakim militer Patrick Parrish memutuskan bahwa pernyataan Khadr saat ia diperiksa dalam tahanan militer AS, dapat digunakan dalam pengadilan, meskipun pernyataan itu diberikan dalam kondisi tekanan. Bulan April lalu, agen-agen dan penyidik AS mengaku kepada Parrish bahwa mereka melakukan tekanan terhadap Khadr dengan praktik pemeriksaan seperti, membangunkannya saat ia tidur dan meletakkannya di posisi yang tidak nyaman. Salah seorang yang melakukan interogasi mengakui bahwa ia mengancam akan memperkosa warga Kanada itu .

Pengacara Khadr, Denis Edney telah mengajukan permohonan untuk tidak menggunakan pernyataan kliennya yang diperoleh dengan cara pemeriksaan semacam itu. Keputusan untuk tetap memakai pernyataan itu dianggap Edney sebagai sesuatu yang aib. Hari pertama proses pengadilan di Guantanamo dipergunakan untuk pemilihan anggota dewan hakim dan menuntaskan masalah-masalah lainnya yang berkaitan dengan proses. Vonis diperkirakan paling cepat akan dijatuhkan tiga pekan ke depan.

Ada bukti Khadr bersalah

Jenderal purnawirawan John Altenburg yang bertanggung jawab atas pengadilan militer di Guantanamo semasa pemerintahan George W. Bush yakin, Khadr bersalah. Kepada pemancar TV CNN ia mengatakan: „Ada bukti-bukti bahwa Khadr yang melemparkan granat yang menyebabkan kematian seorang serdadu AS."

Tetapi tuduhan ini disanggah oleh pembela Khadr, Letkol. John Jackson: „Dalam hal ini, bukti-bukti jelas, sangat jelas bahwa Omar Khadr tidak melemparkan granat itu."

Selain tuduhan itu, Khadr juga dituding telah membuat perangkap bom dan mendukung terorisme. Pengadilan Omar Khadr disoroti karena ia baru berusia 15 tahun saat diciduk, jadi menurut Jackson, ia adalah serdadu anak-anak yang karena itu harus mendapat penanganan khusus. Sedangkan salah seorang jaksa penuntut menegaskan bahwa selama proses berlangsung, usia tidak dipersoalkan bila itu menyangkut isu untuk mengungkapkan pelanggaran hukum. Usia baru diperhatikan jika itu menyangkut isu berapa lama hukuman yang akan dijatuhkan.

Seorang anak tidak diadili di pengadilan militer

Pembela Khadr, John Jakcson juga menuding Presiden AS Barack Obama yang pada masa kampanye berjanji untuk menutup Guantanamo setahun setelah memangku jabatan presiden, sebagai masih berpegang teguh pada pengadilan militer yang diberlakukan pemerintah Bush bagi tahanan Guantanamo. Obama dikatakan bertekad, menulis bab sedih selanjutnya dalam buku komisi militer dan celakanya, Presiden Obama mengawalinya dengan kasus serdadu anak-anak.

Pemerintah Obama memang telah mengubah kerangka kerja pengadilan militer. Misalnya, bukti-bukti yang didapatkan melalui penyiksaan, tidak dipergunakan selama proses pengadilan. Tetapi Khadr menyatakan bahwa pengakuannya didapatkan melalui praktik penyiksaan semacam itu.

Sementara itu, utusan khusus PBB bagi anak-anak di wilayah konflik, Radhika Coomaraswamy mengatakan, standar hukum bagi remaja sudah cukup jelas. Anak-anak tidak diadili pada tribunal militer. Namun, perwira militer di dewan hakim tidak melihat adanya masalah dengan mengadili Khadr yang kini berusia 23 tahun.

Ia adalah warga barat terakhir yang masih ditahan di Guantanamo, dan telah menghabiskan lebih dari sepertiga masa kehidupannya hingga kini di kamp tahanan di Kuba itu. Jika terbukti bersalah, Khadr terancam hukuman penjara seumur hidup.

Christa Saloh/afpd/rtre/zpr

Editor: Agus Setiawan