1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pengacara Besar Adnan Buyung Nasution

Pagi ini melalui beberapa akun FB kawan, saya ditag berita meninggalnya Adnan Buyung Nasution. Seorang kawan bahkan menulis semoga saya memaafkan Bang Buyung. Oleh: Tri Agus S Siswowiharjo.

“Negeri ini sedih ditinggal oleh seorang pengacara besar bernama Adnan Buyung Nasution"...

Pagi ini melalui beberapa akun FB kawan, saya di-tag berita meninggalnya Adnan Buyung Nasution (ABN). Seorang kawan bahkan menulis semoga saya memaafkan Bang Buyung. Tentu saja antara saya dan ABN telah saling memaafkan. Bahwa pada masa lalu terjadi perbedaan cara melawan rezim itu hal biasa.

Indonesien 70 Jahre - Tri Agus Susanto Siswiharjo EINSCHRÄNKUNG

Tri Agus S Siswowiharjo

Pada 21 Juni 1994, tiga media Tempo, DeTik, dan Editor dibredel pemerintah. Tak seperti pemberangusan media sebelumnya, kali ini masyarakat yang diinisiasi aktivis LSM, wartawan, mahasiswa, kelompok perempuan, seniman dan kelompok pro demokrasi lainnya, melawan pembredelan media tersebut. Sebulan setelah tiga media itu dicabut SIUPPnya terjadi demo dan aksi di berbagai kota, tak hanya Jakarta. Ada aksi yang berujung tindak kekerasan aparat terhadap demonstran misalnya Semsar Siahaan (seniman) dan Kacik (aktivis). Penangkapan karena aksi menentang pembredelan juga dilakukan aparat terhadap WS Rendra dan Beathor Suryadi.

Saya sebagai pemimpin redaksi Kabar dari Pijar (KDP) sebuah media alternatif yang diterbitkan PIJAR Indonesia tiap hari meliput berita rangkaian aksi menentang pembredelan tiga media. Termasuk saya meliput Malam Tirakatan di gedung YLBHI (sekitar 23 atau 24 Juni 1994). KDP esoknya menurunkan berita berjudul “Adnan Buyung Nasution: Negeri ini telah dikacaukan oleh seorang bernama Soeharto”. KDP beredar tak ada masalah. Saya pun beraktifitas lain, termasuk untuk urusan Timor Leste.

Anehnya setahun kemudian, sekitar 9 Februari 1995, saya ditangkap karena menghina presiden dengan alat bukti KDP edisi ABN tadi. Singkat cerita Bang Buyung menjadi saksi yang cukup menentukan. Di depan hakim ABN tak mengakui kalimat itu muncul dari dirinya tetapi ia menghargai apa yang saya tulis. Saat itu salah satu pengacara saya, Bambang Widjojanto, tak maksimal membela saya, mungkin sungkan terhadan ABN. Di kemudian hari mas BW tak diikutsertakan membela saya.

Saya divonis 2 tahun penjara. Saat masih berada di Rutan Salemba saya mendapat kiriman dua bungkus karton susu Sustagen HP dari ABN yang dibawa beberapa kawan termasuk Amir Husin Daulay dan Trimedya Panjaitan. Saat itu saya dengan spontan menulis surat kecil untuk ABN. “Perjuangan pro demokrasi tak memerlukan Sustagen HP tapi konsistensi antara pernyataan dan perbuatan. Surat saya kemudian dihebohkan media, saat itu belum ada media sosial.

Lama saya tak jumpa ABN sejak saya keluar penjara. Baru berjumpa menjelang Soeharto lengser antara 19 atau 20 Mei 1998. Saat itu saya sebagai aktivis Fordem (Forum Demokrasi) yang didirikan Gus Dur, Marsilam Simanjuntak, Rachman Tolleng dan kawan-kawan menyewa kamar dan ruangan di sebuah hotel kecil di Menteng. Ketika rapat yang dihadiri banyak anggota Fordem (minus Gus Dur), hadir juga ABN.

Tiba-tiba Bang Buyung baru sadar kalau saya ada di situ. “Tunggu-tunggu kenapa orang ini ada di sini (sambil menunjuk saya). Gara-gara orang ini, saya ini selalu diserang Hendardi, Rachland, apa salah saya? Sekarang pilih orang ini keluar atau saya yang keluar!” ancam ABN. Rapat hening tak ada yang bicara. Rachman Tolleng mencoba meyakinkan ABN bahwa saat ini jauh lebih penting menjatuhkan Soeharto, bukan urusan yang lain. Tak ada jawaban, ABN terpaksa keluar ruangan. Dan rapat dilanjutkan.

Saat terjadi radikalisme di Indonesia pada 2006 di mana kelompok FPI menyerang berbagai kegiatan aktivis yang menolak RUU Pronografi, ada inisiasi dari Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika mengumpulkan semua aktivis lintas bidang dan lintas generasi. Saya masih ingat pertemuan itu di sebuah hotel di Cikini. Saya bertemu ABN. Kami berpelukan, “Demi melawan redikalisme kita harus bersatu,” kata ABN yang langsung saya amini.

Hubungan kami baik. Jika bertemu pada sebuah acara ya saling bertukar kabar. Paling dia bertanya, bagaimana Pijar bagaimana Amir dll. Sejak kasus pernyataan ABN dalam KDP, saya hanya menganggap ABN pengacara senior, itu saja. Tidak yang lain. Saya menghormatinya sebagai seorang pengacara yang tentu bisa membela siapa saja, termasuk Wiranto dan sederet koruptor.

Kepada Andreas Harsono suatu saat Bang Buyung pernah menyatakan menyesal karena saya masuk penjara.Tak apa-apa Bang Buyung, toh saya juga tak menyesal masuk penjara.

Selamat jalan Bang Buyung. Semoga kiprah besar Anda diteruskan oleh pengacara-pengacara muda. Sesungguhnya, “Negeri ini sedih karena ditinggal oleh seorang pengacara besar bernama Adnan Buyung Nasution”...#gallerybig#

*Tri Agus S Siswowiharjo (TASS), Staf pengajar Prodi Ilmu Komunikasi STPMD "APMD" Yogyakarta