1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Penempatan Militer Jerman di Afghanistan Kembali Disdiskusikan

Sejak pertempuran mematikan di Kunduz Jumat lalu (2/4) yang menewaskan tiga tentara Jerman, diskusi terkait perlengkapan dan pendidikan militer Jerman semakin hebat.

default

Petugas Khusus Pertahanan Jerman Reinhold Robbe laporan tahunannya

Mantan petugas khusus pertahanan Jerman Reinhold Robbe dari Partai Demokrat Sosial (SPD) menghimbau kurangnya pendidikan dan perlengkapan militer Jerman. Ketiga tentara yang tewas adalah anggota pasukan terjun payung dari Seedorf. Beberapa waktu sebelum pasukan itu dikerahkan ke Afghanistan, Robbe sempat mengunjunginya. Dalam wawancara dengan sebuah harian Robbe menceritakan, bahwa dalam kunjungannya itu, pasukan mengeluhkan kurangnya kendaraan untuk melatih situasi seperti pertempuran yang sesungguhnya. Hal ini telah dipaparkan Robbe dalam laporan tahunannya. Ia menyebutkan, bahwa jumlah kendaran lapis baja tipe „Dingo“ dan „Duro“ untuk pendidikan pengemudi kendaraan militer di Jerman kurang.

Politisi lain menekankan tuntutan, bahwa Bundeswehr di Afghanistan memerlukan lebih banyak helikopter tempur dan alat pengintai yang lebih modern. Sedangkan politisi Uni Kristen Demokrat CDU, Ruprecht Polenz tidak dapat memahami tuntutan tersebut. Menurutnya, politik Jerman sepakat, bahwa Bundeswehr di Afghanistan tidak boleh berlagak seakan-akan adalah panglima perang. Dipaparkannya, "saya tidak mengetahui adanya tuntutan konkrit dari Bundeswehr terkait penempatannya di Afghanistan yang tidak diperhatikan. Menurut saya, pendidikan dan perlengkapan tentara kita cukup baik, untuk ditempatkan di Afghanistan. Kalau tidak demikian, hal itu tentu tidak dapat dipertanggungjawabkan.“

Mantan Inspektur Jenderal Harald Kujat mengritik, tentara Jerman di Afghanistan tidak memiliki sistem pengintai modern. Karena itu, mereka terlibat dalam pertempuran berat dengan pemberontak Taliban Jumat lalu (2/4). Kementerian Pertahanan menampik kritikan tersebut dan menyebutkan, bahwa peralatan Bundeswehr cukup lengkap. Dan selama pertempuran, kawasannya dipantau dengan pesawat pengintai.

Inspektur Jenderal Volker Wieker menjelaskan, mengapa pasukan darat tidak mendapat dukungan udara. Ia mengatakan, bahwa saat itu, situasinya mengkhawatirkan. Tentara Jerman dan warga sipil bisa menjadi sasaran. Karena itu, Bundeswehr hanya melakukan penerbangan rendah dan tidak menggunakan senjata. Sejak kasus serangan udara September lalu, Bundeswehr menjadi lebih berhati-hati.

Setiap kali ada tentara Jerman tewas di Afghanistan, strategi militer Jerman yang lebih baik serta kualitas peralatan dan pendidikannya kembali didiskusikan. Dan biasanya yang memberi pendapat adalah kelompok kecil, yang terdiri dari pakar politik dan pensiunan jenderal. Sementara masyarakat luas tidak begitu memperhatikannya.

Kualitas diskusi terkait penempatan tentara Jerman di Afghanistan bertambah, sejak Menteri Pertahanan Karl-Theodor zu Guttenberg mengusulkan pembatasan keterlibatan tentara Jerman dalam perang di Afghanistan. Hal ini memang sudah dilakukan sejak lama oleh Bundeswehr. Dengan pernyataan zu Guttenberg itu muncul pertanyaan, apakah peningkatan jumlah pasukan tempur Bundeswehr yang dilengkapi dengan peralatan yang lebih canggih masih diperlukan untuk mendesak mundur pemberontak Taliban dari Afghanistan utara? Kemungkinan hasil penyelidikan kasus serangan mematikan Jumat lalu (2/4) adalah demikian.

Nina Werkhäuser / Andriani Nangoy

Editor: Asril Ridwan