1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pembersihan Ranjau Darat di Perbatasan Irak-Iran

Irak meminta masyarakat internasional membantu pembersihan sekitar 20 juta ranjau darat dan bom curah di wilayahnya. Benda berbahaya itu berasal dari berbagai perang.

default

Simbol pembersihan ranjau darat

Ranjau warisan dari perang antara Irak dan Iran, 1980 sampai 1988, saat Irak memasuki Kuwait, kemudian Perang Teluk, 1990/1991 dan perang Irak mulai. Maret 2002. Sekitar 8.000 orang tewas akibat ranjau dan bom curah itu, sekitar seperempat dari jumlah korban itu adalah anak-anak. Hampir 1, 6 juta warga Irak kini hidup di wilayah ranjau yang terutama terletak di Irak utara ,daerah yang mencakup 1730 kilometer. Berkat sebuah proyek internasional dengan dukungan Jerman, para pembersih ranjau kini mulai membersihkan wilayah luas berbahaya pada perbatasan Irak dan Iran.

Shamiran adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Kurdi di Irak Utara, hanya sekitar lima kilometer dari perbatasan ke Iran. Pemandangannya berbukit, di sana-sini kelihatan semak pendek dan agak tandus. Salaam Mohammad dan sejumlah pria lainnya sedang berada di kawasan ranjau yang akan dibersihkan.

Semua penjinak ranjau itu mengenakan helm yang melindungi keseluruhan wajah, sepatu khusus dan pakaian khusus yang melindung bagian tubuh dari leher hingga perut sebelah bawah. Pasak-pasak merah menandai tempat yang dapat diinjak.

Sedangkan lahan lainnya menyimpan munisi dan ranjau yang mematikan: "Selama Perang Teluk 1980 sampai 1988, pasukan Iran hendak merebut wilayah ini, di atas bendungan Darbandikkhan. Bila bendungan itu hancur, Baghdad terkena banjir. Di sini telah terjadi pertempuran hebat."

Salaam Mohammed bekerja untuk MAG, sebuah organisasi kemanusiaan yang sejak lebih dari 20 tahun ini membantu pembersihan dan penjinakan ranjau mematikan yang tersisa dari berbagai perang dan konflik internal. Sejak 1992 MAG juga aktif di wilayah perbatasan Irak-Iran yang tercemar ranjau secara meluas. Awalnya pasukan Irak yang menanam ranjau pada tahun 80-an untuk mencegah masuknya Iran. Atas tekanan AS yang merupakan pelindung etnis Kurdi, pasukan Irak harus mundur dari Irak utara. Namun warisan yang bisa meledak itu ditinggalkan.

Wilayah berbahaya itu semakin parah setelah pagar kawat berduri lenyap untuk kemudian muncul di pasar gelap. Selain itu sulit untuk mengetahui di mana ranjau diletakkan karena pasukan Irak tidak meninggalkan peta peletakkan ranjau puluhan tahun silam.

Komando penjinak berupaya untuk mengangkut ranjau dan munisi yang ditemukan untuk dimusnahkan di tempat lain. Tapi ini tidak selalu bisa. Karena itu apa yang tidak dapat diamankan di tempat lain, diledakkan di lokasi.

Untuk mencegah jatuhnya korban warga desa seminimal mungkin, terutama anak-anak, juga dilancarkan kampanye penerangan secara intensif mengenai risiko ranjau. Di masjid-masjid dijelaskan bahayanya. Di sekolah-sekolah bahkan ada pelajaran khusus mengenai bahaya ranjau.

600 ranjau dan munisi telah dijinakkan tahun ini. Sebuah kawasan sebesar 25 kali lapangan bola dapat digunakan kembali berkat upaya para penjinak ranjau Kurdi di bawah pimpinan pakar internasional. Jerman mendukung pembersihan di lapangan 34. Konsul Jenderal Jerman bagi Irak-Kurdi, Stefan Bantle: "Pemerintah Jerman berminat bahwa Irak dan terutama wilayah Kurdi dapat berkembang secara ekonomi dan sosial dan juga pengungsi yang diusir Saddam Hussein dapat kembali ke desanya. Pembersihan ranjau merupakan persyaratan sangat penting agar perekonomian desa-desa dan distrik kembali dapat berkembang."

Keahlian militer tak pelak lagi merupakan salah satu unsur keberhasilan dalam pembersihan wilayah terkena ranjau di Irak itu. Misalnya Andi yang selama 30 tahun bekerja di angkatan udara Inggris. Kemahirannya untuk mencari dan menjinakkan ranjau digunakannya sejak dua tahun terakhir ini untuk membantu tim MAG. Ia dan juga petugas Kurdi lainnya seperti Salaam bangga telah dapat menekan jatuhnya korban akibat ranjau darat, meskipun imbalan yang mereka terima cukup rendah.

Ulrich Leidholdt/Christa Saloh

Editor: Ayu Purwaningsih