Pembebasan Siswi Chibok: Kesuksesan Dicampur Rasa Tak Sedap | dunia | DW | 09.05.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pembebasan Siswi Chibok: Kesuksesan Dicampur Rasa Tak Sedap

82 lagi siswi Chibok dibebaskan dari cengkeraman Boko Haram di Nigeria, tiga tahun setelah diculik. Ini alasan untuk merasa sukses. Tapi juga jadi petunjuk bahwa teror Boko Haram belum tamat. Perspektif Thomas Mösch.

Nigeria Präsident Muhammadu Buhari und die freigelassenen Chibok-Mädchen in Abuja (Reuters/Presidential Office/B. Omoboriowo)

Presiden Muhammadu Buhari Berbicara dengan para siswi Chibok di Abuja

Sekarang lebih dari separuh siswi yang diculik tiga tahun lalu di Chibok telah bebas. Jumlah seluruhnya lebih dari 270. Ini memang alasan untuk merasa senang karena sukses pemerintah Nigeria di bawah Presiden Muhammadu Buhari. Setelah kampanye Bring Back Our Girls dilancarkan, tinggal 113 siswi dari Chibok masih belum bebas. Saat berusaha membebaskan mereka, Buhari tidak bertumpu pada kekuatan militer, melainkan minta bantuan Palang Merah dan pemerintah Swis. Pembebasan para siswi rupanya sangat penting bagi Buhari, sampai ia bersedia berunding dengan teroris. Akibatnya Boko Haram juga untung, karena sejumlah anggotanya dibebaskan sebagai penukar pembebasan para siswi.

Inilah rasa tak sedap yang menyertai kesuksesan pembebasan para siswi, karena perundingan dan kesepakatan menunjukkan Boko Haram tidak sepenuhnya terpukul. Setidaknya tangan kelompok teror yang membekap para siswi mampu melindungi diri dari aksi militer.

Siswi Chibok sangat "berharga"

Selain itu, faktor-faktor sekitar pembebasan menunjukkan, status prominen para siswi jadi berkat sekaligus kutukan. Kampanye nasional dan internasional menyebut penculikan para siswi tahun 2014 sebagai simbol kegagalan pemerintah Nigeria. Peristiwa itu juga mengarahkan mata dunia kepada konflik di bagian timur laut Nigeria yang sebelumnya tak diperhatikan.

Moesch Thomas Kommentarbild App

Thomas Mösch

Saat penculikan ratusan perempuan dan anak perempuan lain tidak mendapat banyak perhatian, para siswi Chibok begitu berharganya sampai para teroris dan pemerintah tidak mau mengambil risiko membahayakan hidup mereka. Bagi para penculik, para siswi ibaratnya jaminan hidup, karena tidak ada yang mau menyerang markas teroris, kalau siswi Chibok juga bisa ikut tewas. Itu juga diakui pemerintah serta militer. Di lain pihak, ketenaran mereka juga jadi kutukan, sedikitnya bagi 21 siswi yang dibebaskan tahun lalu lewat aksi serupa. Mereka tidak boleh pulang ke desanya, karena pemerintah khawatir, teroris akan menculik mereka kembali.

Jadi bagaimana seterusnya? Apakah perundingan, yang rupanya berjalan, bisa digunakan untuk mengakhiri teror sepenuhnya? Tampaknya militer sudah melakukan segalanya yang bisa mereka lakukan. Boko Haram sudah terdesak tapi masih bisa melancarkan serangan terarah, dan menyebabkan seluruh kawasan tidak aman.

Penyebab teror tetap ada

Sekarang yang juga penting adalah menangani penyebab teror. Salah satunya, kemiskinan di kawasan timur laut yang sangat mencekik, bahkan untuk standar Nigeria. Dalam hal ini, masyarakat internasional juga bisa menolong, misalnya dengan mendukung aparat pemerintah yang jujur, yang jumlahnya hanya sedikit, untuk memerangi kemiskinan terutama untuk membangun kembali sektor pendidikan yang amburadul.

Tekanan politik juga penting. Presiden Buhari berjanji, di bawah pimpinannya aparat keamanan akan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kemajuan ada, namun langkah brutal terhadap minoritas Syiah akhir 2015, yang sampai sekarang belum ditindak lanjuti oleh pemerintah, hanya salah satu contoh, bahwa pemerintahan di bawah Buhari masih harus lebih aktif lagi.

Masalah korupsi, di mana Buhari benar-benar memberikan perhatian, juga tetap sama. Laporan korupsi dana untuk menolong korban Boko Haram menunjukkan jalan menuju sukses masih panjang.

Penulis: Thomas Mösch (ml/as)

Laporan Pilihan