Pemanasan Global Picu Badai Makin Sering | Iptek | DW | 09.05.2016
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Pemanasan Global Picu Badai Makin Sering

Pemanasan global yang memicu lumernya es kutub dan pemanasan air laut picu kenaikan muka air laut dan suhu laut. Permukaan laut yang makin panas picu makin seringnya badai dengan kekuatan makin hebat.

Tonton video 04:09

Pemanasan Global Picu Badai Makin Sering dan Kuat

Pemanasan global memicu terus naiknya muka air laut rata-rata 3 milimeter per tahun. Di satu sisi, kenaikan muka air laut itu akibat lumernya lapisan es di kutub. Dan di sisi lain, dampak pemuaian air laut akibat naikkya suhu. Terutama negara kepulauan seperti Indonesia dan Bangladesh yang terancam fenomena ini.

Sejauh ini, ada anggapan bahwa naiknya muka air laut, hanya dipicu lumernya lapisan es di kutub. Tapi, dampak pemuaian air laut di samudra antara benua, jauh lebih besar ketimbang perhitungan sebelumnya.

Prof. Jürgen Kusche dari Institut Geodesi dan Geoinformasi di Bonn menjelaskan : Kami memonitor 12 tahun terakhir ini. Dalam kurun waktu ini air laut naik 3 milimeter pertahun.

Dulu, diduga seperempatnya dipicu pemuaian air laut yang suhunya naik. Tapi belakangan kami menyimpulkan, bahwa kontribusi pemuaian air laut mencapai 50 persen."

Menghitung efek pemanasan via satelit

Tim peneliti dari Universitas Bonn menghitung berdasarkan data terbaru dari satelit. Efek pemanasan dalam 12 tahun terakhir, ternyata dua kali lebih tinggi dari perkiraan semula. Penghitungan menggunakan proses yang didukung satelit, mampu melacak rinci pemuaian air laut.

Pertanyaannya: jika pemuaian air laut kontribusinya lebih besar pada kenaikan muka air laut, apakah berarti 12 tahun terakhir volume es yang lumer lebih sedikit? Logika ini muncul, karena kenaikan muka air laut tetap konstan pada level 3 milimeter per tahun.

ISS Hurricane Joaquin Atlantik

Taufan Joaquin di atas Atlantik diamati dari stasiun angkasa luar ISS.

Namun hitungannya tidak begitu. Sebab samudra juga menyerap panas dalam jumlah besar. Dr.-Ing. Roelof Rietbroek dari Institut Geodesi dan Geoinformasi di Bonn menjelaskan lebih lanjut: “Artinya, samudra suhunya lebih panas dari perkiraan. Ini menarik, karena samudra yang lebih panas, adalah sumber badai. Kita bisa meramal, samudra yang lebih panas, akan lebih sering memicu badai lebih kuat.“

Seiring naiknya suhu air laut, makin banyak panas dilepas dalam bentuk uap air. Sebuah suntikan energi untuk atmosfir. Ini memicu munculnya siklon, dibarengi hujan lebat dan banjir. Pasalnya uap air kembali ke bumi berupa hujan.

Intensitas badai makin meningkat

Makin tajam perbedaan suhu, maka badai juga akan makin kuat. Para ilmuwan memperingatkan, akibat perubahan iklim, fenomena cuaca ekstrim juga akan makin sering melanda. Kerugian akibat badai dan banjir, akan berlipat dua hingga tahun 2100.

Kawasan pesisir Asia Selatan yang terutama akan dilanda fenomena ini. Muka air laut naik lebih cepat di India dan Bangladesh. Hingga akhir abad ke 21 ini, sedikitnya 500 juta orang di seluruh dunia, akan menderita dampak naiknya muka air laut.

“Kita perlu beragam strategi. Ada kawasan yang bisa melakukan adaptasi, dengan mempertinggi tanggul. Ada juga kawasan yang harus ditinggalkan. Kita harus mengkaji kawasan per kawasan, untuk menghitung ongkosnya. Kita harus memikirkannya dari sekarang", papar Prof. Jürgen Kusche lebih lanjut.

Kenaikan terus menerus muka air laut kini sudah tidak bisa direm lagi. Jika membangun tanggul terlalu mahal, warga harus diberi stimulasi agar meninggalkan kawasan yang akan tenggelam. Baik lewat pemberian pekerjaan maupun rumah baru di daratan yang jauh dari kawasan pantai.

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait