1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pelajar Nigeria Tetap Takut Boko Haram

Pemerintah Nigeria menjanjikan perlindungan bagi siswa dari ancaman Boko Haram. Tapi sebelum berhasil memulangkan 200 pelajar perempuan yang diculik 6 bulan lalu, siswa masih tetap ketakutan.

"Permintaan kami hanya satu. Kembalikan anak-anak perempuan kami", ujar Bukky Shonibare, aktivis kelompok "#BringBackOurGirls" sambil berurai air mata. Ia juga menuntut pemerintah melakukan upaya lebih serius, bagi pembebasan siswa yang diculik.

Keputusasaan dan ketidakpastian nampak nyata di kalangan keluarga anak perempuan yang diculik. Tepat enam bulan setelah milisi Islamis Boko Haram menculik 200 anak perempuan dari kota Chibok di utara Nigeria, tidak ada lagi kabar berita anak-anak mereka.

Milisi Islamis Boko Haram juga terus menyasar sekolah dan sarana pendidikan sebagai target teror mereka. Di negara bagian Borno di utara Nigeria, yang menjadi kubu utama milisi radikal itu, sejak 2011 teroris telah membunuh 70 orang guru dan menghancurkan 900 gedung sekolah. Juga penculikan 200 siswa perempuan dari sebuah sekolah di Chibok bukan kasus tunggal, dan menjadi topik kecaman internasional.

Beberapa minggu setelah aksi penculikan, muncul desas-desus, aparat keamanan telah mengetahui lokasi penahanan para pelajar perempuan itu. Tapi pemerintah hingga kini tetap tidak bertindak membebaskan para sandera. Ini makin memicu kemarahan para aktivis "BringBackOurGirls".

Alarm dan lampu

Pemerintahan dari presiden Goodluck Jonathan bereaksi atas kritik internasional yang menuduhnya tidak becus, dengan menggagas "Safe School Initiative" yang biayanya mencapai 100 juta Dolar AS. Tujuannya program adalah pelajar di utara Nigeria kembali dapat pergi ke sekolah tanpa takut serangan teror.

"Programnya antara lain berupa pemasangan sistem alarm dan lampu penerangan lebih baik di sekolah-sekolah", ujar menteri keuangan Ngozi Okonjo-Iweala dalam sebuah wawancara dengan DW. Selain itu, pembangunan sekolah baru akan menggunakan material yang lebih tahan kebakaran. Juga masyarakat desa akan dikutkan dalam program perlindungan.

Salah seorang penggagas program itu, adalah Gordon Brown mantan PM Inggris yang kini menjabat petugas khusus PBB untuk pendidikan. Brown mengatakan awal tahun ini, akan memberi bantuan 10 juta Dolar AS untuk inisiatif keamanan sekolah di Nigeria. Juga kementrian bantuan pembangunan Jerman akan memberi dukungan senilai dua juta Euro.

Skeptisme di kalangan aktivis dan pakar

Namun para aktivis "#BringBackOurGirls" menyangsikan inisiatif tersebut. "Kami tidak bisa membicarakan sebuah inisiatif untuk sekolah lebih aman, selama para siswa perempuan yang diculik di Chibok belum dibebaskan", ujar Bukky Shonibare.

Ia menambahkan: "Anak-anak perempuan tetap ketakutan pergi ke sekolah." Sementara mantan menteri pendidikan Oby Ezekwesili, yang menjadi salah seorang penggegas kampanye "#BringBackOurGirls" mengatakan, bukti terpenting bahwa pelajar Nigeria aman, adalah kembalinya para pelajar dari Chibok yang diculik Boko Haram.

Di salah satu sekolah favorit di kota Mubi, sekitar 100 km di tenggara kota Chibok pemerintah menerapkan tindakan keamanan terbaru. Satpam berseragam kini melakukan patroli di seputar sekolah. Namun tanpa senjata. Sejumlah pelajar meragukan, aksi patroli tanpa senjata itu efektif menjamin keamanan mereka. "Petugas satpam harus dipersenjatai", tuntut para siswa.

Tapi, juga jika pemerintah mengabulkan tuntutan mempersenjatai petugas satpam, banyak yang skeptis petugas pengamanan bisa menjamin perlindungan bagi pelajar. "Kami berada dalam sebuah situasi, dimana milisi bahkan bisa menyerang sebuah pusat pelatihan militer yang menerapkan tindakan keamanan dengan personal terlatih", ujar pakar keamanan Kabiru Adamu dalam wawancara dengan DW.

"Sekolah tidak bisa diamanankan layaknya tangsi militer," tambah dia. Adamu menegaskan, ia tidak berharap banyak inisiatif sekolah aman bisa sukses.

"Seharusnya pemerintah mampu secara efektif memerangi ancaman dari Boko Haram", kata Adamu menambahkan. Tapi melihat realita, semakin sering serangan dilancarkan Boko Haram. Hal itu menunjukkan bahwa pemerintah Nigeria masih sangat jauh dari kemampuan semacam itu, tandas Adamu.