1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Pekan Hijau ke 75 Dimulai di Berlin

Jum'at (15/01), Pekan Hijau, pameran terbesar dunia di bidang pangan, pertanian dan hortikultura, untuk ke 75 kalinya diselenggarakan di Berlin, diiikuti 1.600 peserta dari 56 negara. Juga digelar sekitar 300 konferensi.

default

Presiden Asosiasi Petani Jerman Bauernpräsident Gerd Sonnleitner (kiri), Christian Göke dari Berlin Messe (tengah) serta Ketua Perhimpunan Industri Pangan Jerman Jürgen Abraham, Rabu (13/01, memotong kue, menandai persiapan pembukaan Pekan Hijau

Pekan Hijau telah berkembang jauh dibandingkan ketika ajang ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1926. Kala itu, even ini hanya merupakan sebuah pameran sampingan dalam rangka pertemuan kelompok pertanian Jerman di musim dingin. Demikian dikatakan, Christian Göke, direktur Berlin Messe, penyelenggara pameran.

Sekarang, Pekan Hijau terutama merupakan pameran konsumen, yang menarik masyarakat. Kali ini, 400 ribu pengunjung diharapkan akan datang. Beragam macam makanan dari seluruh dunia dapat dicicipi. Tapi Pekan Hijau bukan saja ajang untuk mengenal jenis makanan, melainkan juga sebuah forum bagi para ahli. Di akhir pekan, 60 menteri pertanian dari seluruh dunia diharapkan hadir untuk membahas masalah perubahan iklim dan pangan dunia.

Akan hadir juga presiden asosiasi petani Jerman, Gerd Sonnleitner, yang turut berkepentingan akan masalah ini. "Perlindungan iklim merupakan salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi, disamping ketahanan pangan dan pasokan energi. Bidang pertanian termasuk yang paling terpengaruh oleh pemanasan global. Pengaruh pada lahan pertanian, panen, kualitas, penyakit tanaman dan hewan, dan terutama penyimpangan cuaca, telah meningkat dengan sangat cepat. Oleh karena itu, kami para petani memiliki kepentingan besar dalam perlindungan iklim.”

Sektor pertanian menyebabkan sekitar 6 persen emisi gas rumah kaca. Penyebab utamanya adalah pengembangbiakan hewan. Ini karena penggunaan pupuk yang berlebihan bagi tanaman pangan ternak. Ternak sapi menghasilkan gas methan yang berbahaya bagi iklim. Oleh karena itu, organisasi lingkungan menyerukan untuk mengurangi konsumsi daging. Hal ini juga dinyatakan Menteri Pertanian Jerman Ilse Aigner menjelang Natal lalu.

Pernyataan ini langsung mengundang kritik presiden asosiasi petani, Gerd Sonnleitner. "Memang emisi methan dari sapi berbahaya bagi iklim, tapi ini merupakan hal alamiah. Siapa yang karenanya menyarankan untuk tidak mengkonsumsi daging, tidak akan mendapatkan susu yang sehat. Menteri pertanian lupa, sapi, domba dan kambing di wilayah kita merupakan satu-satuanya hewan yang mengubah rumput yang sebelumnya mengikat CO2 dari atmosfer menjadi protein berkualitas tinggi. Saran untuk tidak mengkonsumsi daging merupakan cara yang salah untuk menyelamatkan iklim.“

Apakah karena kritik ini atau bukan, yang pasti Menteri Pertanian Jerman Ilse Aigner tidak akan mengulang pernyataannya. Kini Ilse Aigner mengatakan, kita harus makan makanan yang seimbang dan mengkonsumsi produk musiman dan lokal. Pada akhirnya ini mungkin merupakan kontribusi yang nyata bagi peningkatan perlindungan iklim.

Sabine Kinkartz/Yuniman Farid

Editor: Edith Koesoemawiria