1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Paus Ijinkan Pemakaian Kondom

Revolusi berlangsung di gereja Katolik. Untuk pertama kalinya Paus Benediktus XVI mengijinkan penggunaan kondom untuk situasi tertentu. Misalnya untuk menghindari bahaya penularan penyakit AIDS.

default

Paus Benediktus XVI

Sebuah perubahan yang berarti bagi gereja Katholik yang hingga saat ini menolak penggunaan kondom. Pernyataan kontroversial ini keluar bersama dengan penerbitan buku dari Sri Paus yang ditulis bersama Peter Seewald Licht der Welt atau Cahaya Dunia.

Sri Paus berbicara blak-blakan tentang penggunaan kondom yang membuat gereja-gereja terkejut dan berdiam. Uskup-uskup dan kardinal-kardinal tidak ingin berkomentar dan merinci pernyataan Sri Paus. Hanya juru bicara Vatikan Federico Lombardi berusaha menjelaskan permasalahan secara tertulis untuk menghindari kesalahpahaman.

Pernyataan Sri Paus ini bukanlah perubahan revolusi. Sri Paus tidak merubah doktrin gereja dan ia tentu saja memandang kondom secara nyata dan moralis bukan sebagai alat pencegahan AIDS. Peryataan Sri Paus telah membuka mata umat Kristiani tentang masalah penggunaan kondom yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai masalah tabu.

"Peranan gereja dan masalah seksualitas selalu menggelitik dan orang belum pernah mendengar pernyataan serupa," begitu kata jurnalis Peter Seewald. Ia mewawancara Paus Benediktus XVI mendetail di awal 2010 tahun. Alhasil dikeluarkan buku berjudul Cahaya Dunia yang diterbitkan resmi hari Selasa (23/11).

Buku ini berisi pandangan-pandangan Sri Paus, menjawab pertanyaan pribadi, yang berkaitan dengan politik gereja dan masalah teologi Katolik. Di dalamnya juga ditanyakan bagaimana sikap gereja Katolik dalam penggunaan kondom yang pada dasarnya bertentangan dengan ajaran agama Katolik.

“Ia mengatakan penggunaan kondom tidak memecahkan permasalahan dan kondom bukan sesuatu yang banal dalam seksualitas. Bagaimanapun juga kedudukan gereja tidaklah berubah,” demikian Seewald, mengenai pernyataan Paus seputar kondom.

Dalam wawancara ini, Sri Paus menekankan penggunaan kondom untuk situasi tertentu diperbolehkan, misalnya untuk menurunkan bahaya penularan AIDS. Ini langkah awal menanggapai masalah seksualitas yang berperikemanusiaan. Ia mencontohkan laki-laki tunasusila yang menggunakan kondom dan punya kesadaran bahwa semua itu tidak dapat diijinkan dan orang tidak dapat melakukannya semaunya sendiri.

Perubahan ini keharusan dan mendesak. Tahun 2009, saat dalam perjalanan ke Afrika, Paus Benediktus XVI berujar, "Orang tidak dapat mengatur masalah AIDS hanya dengan membagikan kondom. Penggunaan kondom membuat permasalahannya menjadi rumit."

Pernyataannya ini membayangi perjalanan Sri Paus ke Afrika. Banyak orang mengkritiknya sebagai orang yang tidak bertanggungjawab dan tidak realistis. Sementara itu gereja Katolik membagikan kondom cuma-cuma di daerah-daerah Afrika dengan penderita terinfeksi HIV tertinggi.

Jika sekarang Sri Paus menyebut penggunaan kondom sebagai pengecualian dan penghindaran pencegahan AIDS, paling tidak Paus Benediktus XVI kembali memadukan ajaran kristiani dengan realitas. Seewald menambahkan, "Paus itu bukanlah orang sembarangan di gereja. Pernyataannya memiliki bobot dan ia di sini memberikan arahan, yang tentu saja diharapkan mendapat banyak sambutan di dalam dan di luar gereja.“

Pembocoran pernyataan justru diungkapkan oleh harian keuskupan Osservatore Romano ke kalangan umum. Koran-koran lainnya mengutip bab-bab lainnya dari buku Licht der Welt atau Cahaya Dunia yang ditulis oleh Sri Paus dan Peter Seewald. Sri Paus juga mengomentari secara kritis kasus Uskup Inggris Richard Williamson, yang dua tahun lalu menyankal terjadinya holocaust. Jika Sri Paus tahu Uskup Williamson menyangkal holocaust, mungkin ia tidak membatalkan pengucilannya. Fakta bahwa Sri Paus dapat mengambil keputusan mengikat dengan satu persyaratan, tidak berarti bahwa Sri Paus dapat selalu melakukan hal yang benar.

Tilmann Kleinjung/Ambar Braselmann/Miranti Hirschmann

Editor: Dyan Kostermans

Laporan Pilihan