1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Patriot Akan Lindungi Turki

Penempatan sistim pertahanan Patriot Jerman di Turki guna menangkal serangan dari Suriah akan diputuskan oleh parlemen Jerman pekan ini.

„Ini adalah misi yang murni bersifat defensif“, ungkap Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle yang menekankan bahwa tentara Jerman hanya akan berjaga-jaga di Turki. Ia menghindari timbulnya dugaan bahwa tentara Jerman akan terlibat perang di Suriah.

Turki berbatasan 900 kilometer dengan Suriah. Beberapa bulan terakhir keresahan meningkat di kawasan itu. Penempatan sistem pertahanan Patriot di Turki hanya berfungsi pengamanan. “Jerman tidak terlibat dalam rencana apapun yang berurusan dengan intervensi militer di Suriah”, tegas Westerwelle.

Treffen Außen- und Verteidigungsminister der EU

Menlu Guido Westerwelle

Ada sejarah panjang dibalik instalasi sistem penangkal rudal Patriot yang direncanakan awal 2013 di Turki. Berawal Juni lalu, ketika militer Suriah menembak jatuh sebuah pesawat tempur Turki. Pemerintahan di Ankara segera menghubungi NATO untuk berkonsultasi. Ini hak setiap anggota NATO yang merasa wilayahnya terancam. NATO menegaskan solidaritaritasnya kepada Turki. Eskalasi terjadi awal Oktober, ketika sebuah desa perbatasan Turki, Akcakale, ditembaki mortir oleh tentara Suriah dan menewaskan 5 warga sipil. Militer Turki membalas, kemudian meminta bantuan NATO.

Turki merasa terancam

Pada pertemuan di Brussel, Turki menyampaikan keinginan agar penjagaan diperketat sepanjang perbatasan dengan Suriah. 500 ribu tentara Turki sudah menjaga perbatasan itu, namun pemerintah di Ankara menguatirkan arsenal rudal Presiden Bashar al-Assad.

„Ada beberapa ratus rudal berjangkauan 700 kilometer yang bisa tembus ke wilayah Turki“, begitu ungkap Menteri Pertahanan Jerman, Thomas de Maizière. Suriah juga diduga memiliki senjata kimia yang siap pakai. Bila Turki diserang, maka rudal-rudal Suriah bisa ditangkal oleh sistem pertahanan Patriot.

Memang belum ada bukti bahwa tentara Suriah akan menggunakan senjata pembunuhan masal. Namun kini, Presiden Assad tengah mempertahankan kekuasaan politik dan mungkin nyawanya.

Seperti NATO, Jerman tidak ingin terjadi salah sangka di Suriah mengenai penugasan militer Jerman. Pemindahan sistim pertahanan Patriot ke Turki diputuskan oleh Dewan NATO, 4 Desember lalu. "Kami mengingatkan semua yang ingin menyerang Turki agar jangan melakukannya!“, tukas Sekjen NATO, Anders Fogh Rasmussen yang menunjukkan solidaritas pada mitranya.

Perlindungan terhadap serangan Rudal

#bb#

Selain Jerman, Amerika Serikat dan Belanda juga akan menginstalasi sistim pertahanan Patriot di Turki. Ketiga negara ini memiliki teknologi terbaru untuk sistem penangkal rudal  ini. Peralatan teknologi tinggi itu antara lain terbentuk dari radar penjejak untuk kawasan udara, sistem pengamanan dan peluncur untuk menembakkan peluru kendali. Dengan sistem ini, semua rudal balistik dan pesawat yang terbang dalam jarak hingga 68 kilometer dapat ditangkal dengan cepat. Namun, meski sangat canggih, sistim Patriot ini tidak bisa digunakan untuk menangkal tembakan mortir seperti Oktober lalu.

Sebagai bagian dari NATO,  Jerman akan menempatkan dua unit sistem Patriot di Turki. Untuk pengoperasiannya dibutuhkan 170 tentara. Menurut Menteri Pertahanan Jerman, sebagian besar dari 400 orang tentara yang dikerahkan dalam misi ini, berfungsi sebagai tenaga bantuan logistik dan cadangan. Selain itu, Jerman berpartisipasi dalam pengawasan wilayah udara oleh pesawat pengintai AWACS. Misi yang biayanya berkisar 25 juta Euro ini, dibatasi hingga 31 Januari 2014.

Harus Disetujui Parlemen

Sebelum digelarnya debat parlemen, banyak politisi mengutarakan kekuatiran bahwa militer Jerman bisa terperosok ke dalam perang Suriah, seandainya diprovokasi oleh pihak Suriah.

Dengan alasan tersebut politisi partai Hijau, Omid Nouripour meminta agar satuan militer Jerman tidak ditempatkan terlalu dekat dengan perbatasan Turki-Suriah. Sementara partai kiri, Linkspartei menolak keras misi itu. "Mengirim 400 tentara Jerman ke tengah konflik Timur Tengah adalah kegilaan, karena bisa dengan cepat menjadi perang regional", kritik wakil fraksi, Jan van Aken.

Pemerintah Jerman belum mengumumkan di mana persisnya lokasi pasukan Jerman nanti di Turki. Dalam naskah mandatnya tertera tugas untuk "mengamankan kawasan udara Jerman, dan tidak memasuki wilayah udara Suriah". Bagi mayoritas anggota parlemen, rumusan klausa itu cukup jelas, dan persetujuan parlemen Jerman bisa dipastikan.