Pasukan Rusia Diperintahkan Kembali ke Barak | dunia | DW | 29.04.2014
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pasukan Rusia Diperintahkan Kembali ke Barak

Rusia mengakhiri manuver militer di perbatasan Ukraina dan memerintahkan pasukannya kembali ke barak. AS dan Uni Eropa memperluas sanksi terhadap pejabat dan perusahaan Rusia.

Menteri pertahanan Rusia Sergei Shoigu (gambar atas, tengah) dalam percakapan telepon dengan menteri pertahanan AS Chuck Hagel mengatakan, pasukan Rusia sudah mengakhiri manuver militer dan akan kembali ke barak.

"Rusia terpaksa menggelar manuver militer besar-besaran, menghadapi kemungkinan bahwa militer Ukraina akan melakukan operasi terhadap penduduk sipil", demikian dikatakan dalam sebuah pernyataan kementerian pertahanan Rusia.

Selanjutnya disebutkan, "setelah otoritas Ukraina menyatakan tidak akan mengerahkan militer menghadapi penduduk sipil, pasukan Rusia akan kembali ke baraknya."

Washington mengatakan, Sergei Shoigu juga menyampaikan kepada Hagel bahwa Moskow tidak bermaksud melakukan invasi militer ke Ukraina.

Namun pemerintah AS menerangkan, situasi di Ukraina masih tetap tegang. AS menuntut Rusia agar mengakhiri "kegiatan destabilisasi di Ukraina" dan memperingatkan, jika Rusia melanjutkan agresinya, negara itu akan menghadapi tekanan diplomatik dan ekonomi yang lebih besar.

AS dan Uni Eropa perluas sanksi

AS memperluas sanksi larangan visa dan pembekuan rekening bank terhadap tujuh pejabat Rusia dan 17 perusahaan yang dekat dengan Presiden Vladimir Putin. Sementara Uni Eropa menambah 17 nama dalam daftar pejabat yang terkena sanksi. Seluruhnya ada 48 nama yang masuk dalam daftar hitam Uni Eropa.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov menerangkan di Moskow, akan ada "jawaban menyakitkan" dari pemerintah Rusia terhadap sanksi-sanksi baru Amerika dan Eropa. Namun ia tidak menjelaskan apa langkah yang akan diambil Rusia.

AS antara lain menjatuhkan sanksi terhadap Igor Sechin, Direktur Utama perusahaan minyak Rusia Rosneft dan sekutu dekat Putin. Selain itu, AS melarang ekspor teknologi tinggi ke Rusia. Tapi perusahaan Gazprom, yang menyalurkan gas ke banyak negara Eropa, belum terkena sanksi.

Gazprom menerangkan hari Selasa (29/04), sanksi ekonomi terhadap Rusia akan punya dampak buruk terhadap pemasokan gas ke Eropa. Gazprom juga khawatir, kepercayaan investor terhadap perusahaan Rusia secara umum akan memburuk.

Separatis tahan pengamat dan jurnalis

Situasi di Ukraina makin tegang, setelah kelompok bersenjata menyerang kantor polisi dan menduduki balai kota Kostyantynivka. Kota itu berpenduduk sekitar 80.000 orang dan terletak antara Slavyansk dan Donetsk.

Sementara kelompok separatis di Slavyansk masih menahan sekitar 40 orang sandera, diantaranya tujuh pengamat militer OSCE dan seoang jurnalis AS. Pemimpin separatis Ponomaryov mengatakan ia hanya akan membebaskan para sandera jika ditukar dengan anggota separatis yang ditahan pemerintah Ukraina.

Walikota Kharkiv masih berada dalam keadaan kritis di rumah sakit, setelah ia ditembak oleh pelaku tak dikenal hari Senin (28/04), ketika sedang berolahraga pagi. Di kota Donetsk, beberapa orang luka-luka setelah terjadi bentrokan antara demonstran pro Rusia dan pro Kiev.

hp/ab (afp, rtr, dpa)

Laporan Pilihan