1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pasien HIV di India Tolak FTA dengan Uni Eropa

Aturan hak cipta perusahan farmasi Eropa, bisa mematikan persaingan bebas. Tahun lalu kiriman obat generik dari India ke Brazil disita di pelabuhan Uni Eropa. Jelang Perjanjian Perdagangan Bebas, rakyat India protes

default

„Hai Hai FTA“ – Tolak Perjanjian Perdagangan Bebas! Begitu teriak sekitar 3000 demonstran di New Delhi minggu lalu. Rencana perjanjian perdagangan bebas antara Uni Eropa dan India itu tak hanya membuat mereka marah, tapi juga ketakutan. Pasalnya, beberapa paragraf dalam kesepakatan itu bisa berdampak fatal. Misalnya bagi mereka yang berpenyakit kanker atau juga orang yang seperti Naresh Yadav, terinfeksi virus HIV.

Yadav mengatakan, "Konsekuensi akhirnya itu kita bakal mati, karena harga untuk obat-obatan itu akan melonjak. Lalu pemerintah tidak akan memberikan layanan gratis lagi dan para pasien yang harus membeli obatnya sendiri akan kesulitan, karena harganya tidak terjangkau lagi.“

India bangga akan julukannya sebagai "Apotik bagi Rakyat Miskin". Julukan yang didapat karena India memproduksi obat-obat generik, produk tanpa label, untuk berbagai penyakit yang bisa dijual sampai 99% lebih murah dari aslinya. Bagi pasien AIDS seperti Naresh tersedianya obat-obatan ini menentukan hidup matinya. Namun perusahaan Eropa yang memproduksi obat-obatan yang asli, menentangnya.

Pejabat khusus PBB untuk Kesehatan, Anand Grover melihat ancaman bagi rakyat di negara berkembang apabila Uni Eropa mendesakkan penerapan aturan hak cipta perusahaan farmasi Eropa. Tandasnya, "Apabila mereka berhasil memasukkan paragraf itu, maka di masa depan kita hanya bisa mendapatkan obat-obatan yang mahal. Tidak saja pasien di India yang terancam, tapi juga masyarakat di banyak negara, karena India memproduksi 90 persen dari semua obat-obatan yang dibutuhkan oleh negara berkembang.“

Menurut Grover, kesepakatan itu pada kenyataannya akan menghambat persaingan bebas. Menunjuk pada pertumbuhan ekonomi India, ia menekankan bahwa India akan sulit berkembang tanpa industri farmasi.

Juga organisasi Dokter Tanpa Batas melihat ketimpangan dalam posisi Uni Eropa, perlindungan industri framasi Eropa dilakukan dengan mengorbankan perusahaan India. Menurut organisasi ini, hal tersebut akan merugikan jutaan pasien di seluruh dunia yang membutuhkan obat-obatan murah untuk mengatasi AIDS, TBC atau tuberkulosa dan malaria. Karenanya organisasi Dokter Tanpa Batas meminta agar pemerintah India memikirkan kembali posisinya.

Paul Cawthorne dari Dokter Tanpa Batas mengatakan, "Kami berusaha menyampaikan bahwa ini adalah keputusan pemerintah India. Mereka bisa mengatakan Ya atau Tidak. Dan kami meminta, agar mereka mengatakan tidak.“

Sementara tuntutan demo di New Delhi gamblang menyerukan agar pemerintah India tidak mempertaruhkan nyawa rakyat dan menolak kesepakatan perdagangan bebas ini.

Kai Küstner / Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk