1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pasar Hamburg 2017 Boyong Superman is Dead

Dari tanggal 9 sampai 10 September 2017 untuk kelima kalinya digelar festival budaya Indonesia Pasar Hamburg. Yang tampil beragam, dari musisi, seniman, sastrawan sampai filsuf.

Kali ini, festival budaya Indonesia yang terbesar di Jerman ini digelar di gedung pekan raya Hamburg Messe. Penyelenggara mengharapkan kehadiran sampai 10 ribu pengunjung. Sejak berminggu-minggu, plakat Pasar Hamburg sudah disebar ke seluruh kota.

Yang tampil di dua panggung terpisah pasar Hamburg beragam. Ada kelompok musik Superman is Dead dari Bali, Brightsize Trio Band dari Yogyakarta, Suarasama dari Medan. Di panggung diskusi tampil filsuf Romo Magnis Suseso dan penulis perempuan Okky Madasari.

"Kami sejak awal memang ingin menunjukkan keberagaman Indonesia. Dari budaya, kuliner, gagasan dan pemikiran,” kata inisiator Pasar Hamburg Juli Biesterfeld. Konsep yang tampaknya berhasil. Karena pengunjung yang berdatangan selama dua hari tampak puas dengan acara-acara yang ditampilkan.

Indonesisches Kulturfestival Pasar Hamburg 2017 (DW/H.Pasuhuk)

Diskusi podium dengan Romo Magnis Susesno dan Okky Madasari

Romo Magnis Suseso dan Okky Madasari berbicara mengenai perkembangan aktual di Indonesia, terutama soal bahaya intoleransi, korupsi dan keadilan sosial, dimoderasi oleh wartawan senior Radio Bremen Silke Behl yang fasih berbahasa Indonesia. Martina Heischke membantu sebagai penerjemah Indonesia-Jerman.

Menurut Romo Magnis, ada ancaman intoleransi yang berbahaya bagi masa depan Indonesia.

"Diskriminasi dan kekerasan terhadap kelompok-kelompok minoritas seperti Syiah dan Ahmadiyah di indonesia adalah ancaman besar bagi mas depan Indonesia. Ini harus dicegah.”

"Bagaimanapun, kita sepakat sejak masa kemerdekaan dan setelah reformasi untuk tidak membentuk negara Islam. Dan kesepakatan ini dibuat dengan tokoh-tokoh Islam arus utama, baik setelah kemerdekaan, maupun setelah reformasi. Jadi hal itu sudah jelas adalah tekad bangsa Indonesia”, tambahnya.

Indonesisches Kulturfestival Pasar Hamburg 2017 (DW/H.Pasuhuk)

Romo Magnis (kanan) dengan inisiator Pasar Hamburg Juli Juli Biesterfeld (kanan)

Okky Madasari menekankan pentingnya menyoroti sila Keadilan Sosial, yang menurut dia sampai kini seperti dilupakan.

"Keadilan sosial dan kemanusiaan adalah bagian sangat penting dari Pancasila. Itu yang harus diperjuangkan, dan akan saya perjuangkan dalam kapasitas saya”, tandas Okky.

Kedua panelis sepakat, salah satu masalagh utama Indonesia adalah korupsi yang merajalela. Bagaimana mungkin bicara tentang keadilan sosial, jika ratusan triliun uang rakyat masuk ke kantong para koruptor.

Indonesisches Kulturfestival Pasar Hamburg 2017 (DW/H.Pasuhuk)

Pengunjung bersantai sambil menikmati sajian tarian, mode show dan musik

Salah satu kelemahan utama diskursus politik di Indonesia tentang demokrasi dan keadilan sosial, kata Magnis Suseno, adalah hilangnya wacana kiri. Wacana itu hilang karena penindasan selama era Suharto dan berlanjut hingga saat ini. Tanpa wacana kiri, tidak mungkin mengembangkan diskursus mengenai solidaritas dan keadilan sosial.

„Kita hanya memiliki diskursus kanan, yang sekarang makin sempit menjadi diskursus agama", kata Romo Magnis.

Menjelang sore hari, panggung utama menjadi ajang musik yang digandrungi para pengunjung muda. Brightsize Trio Band dari Jogja menghentak dengan lengkingan gitar dan tempo cepat yang mereka mainkan. Kemudian, Superman Is Dead menggebrak panggung dengan gaya mereka yang menggebu-gebu namun bisa juga mendadak syahdu.

Indonesisches Kulturfestival Pasar Hamburg 2017 (DW/H.Pasuhuk)

Macam-macam makanan Indonesia tersedia di "warung makan"

Juli Biesterfeld merasa cukup puas dengan konsep dan lokasi Pasar Hamburg saat ini, dan berjanji akan terus memperbaiki performa timnya, betapa besarpun kendalanya sebagai penyelenggara.

„Banyak sekali yang terlibat dan membantu penyelenggaraan Pasar Hamburg ini. Dari mahasiswa, masyarakat Indonesia, para sponsor, dan pihak Konsulat Jendral RI di Hamburg dan KBRI di Berlin. Memang masih banyak yang harus dibenahi dalam bidang organisasi. Tapi semangat kerjasama dan solidaritasnya sungguh luar biasa. Dan mengharukan", kata Juli. Tahun depan, Pasar Hamburg akan menyoroti dunia film dan sinema.