1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Partai Seks Australia Koalisi Dengan Partai Ganja

29 Juni 2016

Dalam pemilu Australia, Partai Seks beraliansi dengan Partai Ganja. Partai-partai kecil ikut bersaing dalam mengimbangi kekuatan besar Partai Buruh dan Partai Liberal.

https://p.dw.com/p/1JFMF
Wahlen in Australien
Foto: Robert Gray/Getty Images

Pemilih Australia yang kecewa dengan dominasi dua partai besar alias duopoly, Partai Liberal dan Partai Buruh memiliki banyak pilihan dalam pemilu yang berlangsung hari Sabtu (02/07), yang diikuti lebih dari 50 partai-partai kecil.

Sementara Partai Liberal yang diketuai Malcolm Turnbull atau Partai Buruh yang dipimpin Bill Shorten dipastikan akan masuk dalam pemerintahan, maka aliansi partai–partai kecil bisa mengimbangi kekuasaan lewat parlemen dan senat.

Ini berarti suara partai-partai kecil bisa ikut menentukan kebijakan, jika pemerintah dan oposisi berbeda pendapat, Masalah perbedaan pendapat sengit ini telah menyulut rasa frustrasi pemerintah Liberal saat ini.

Partai-partai kecil menjanjikan berbagai alternatif meskipun mereka beroperasi dengan hanya sedikit uang.

Partai Hijau misalnya, yang merupakan partai kecil tradisional paling kuat, dan Partai Sentris Nick Xenophon Team – yang dinamai sesuasi pendirinya, bisa jadi mendapatkan paling tidak dua atau tiga kursi di parlemen.

Partai Seks beraliansi dengan Partai Ganja

Partai Seks Australia (ASXP) yang didirikan pada tahun 2009 sebagai respon terhadap meningkatnya intervensi pemerintah atas kebebasan hak sipil warga dewasa, kini memiliki 6.000 anggota.

Meski namanya partai seks, visi dan misi partai ini bukan berkaitan dengan hal yang mesum. Kebijakan partai ini antara lain mengadvokasi dekriminalisasi pekerja seks dan bantuan darurat bagi warga yang sekarat.

Dalam upaya untuk meningkatkan peluangnya, baru-baru ini Partai Seks Australia mengumumkan aliansinya dengan Partai Penghentian Pelarangan Mariyuana (Hemp), dan menjalankan "tiket bersama" di semua negara bagian dan wilayah kecuali di New South Wales dan Victoria.

Fiona Patten, anggola Partai Seks yang duduk di di majelis tinggi negara bagian Victoria, mengatakan partainya terutama hendak menarik suara dari kaum muda. Tapi realitanya dukungan terhadap partai ini telah meningkat di kalangan generasi baby boomers, atau mereka yang lahir pada periode kemapanan ekonomi sesudah Perang Dunia II, yakni antara tahun 1946-1964.

"Itu karena kami juga punya sikap yang sangat tegas atas kebijakan euthanasia. Boleh dibilang, saya banyak didekati oleh orang-orang berusia 80-an yang mengatakan: Saya memberikan suara untuk Partai Seks," kata Patten. "Dan mereka juga orang-orang yang ingin mengakses ganja untuk kebutuhan medis."

Uniknya partai-partai kecil ini

Pada tahun 2013 partai-parta kecil ini berhasil meraup 15 persen suara. Pakar politik Universitas Monash Nick Economou mengakui "pilihan yang ada tidak pernah lebih besar". Ditambahkannya, “Memang benar ada sedikit pergeseran agak jauh dari partai-partai besar, tapi di sisi lain ada peningkatan besar dalam jumlah partai," katanya.

Partai Penggemar Motor Australia memiliki agenda sendiri yang unik. Mereka tidak hanya fokus pada masalah otomotif, tapi juga pelestarian nilai-nilai keluarga serta mendorong pemberdayaan komunitas.

Hebatnya, dalam pemilu terakhir pada tahun 2013 salah satu kandidatnya Ricky Muir, yang sanasekali tidak memiliki pengalaman politik, memenangkan kursi Senat. Saat itu partai ini beraliansi dengan Partai Persatuan Palmer untuk meraih kursi di majelis tinggi.

"Membenahi politik membuatku gila," tandas Muir, yang lebih nyaman dengan celana jeans dan sweater kupluk-nya ketimbang memakai jas.

Partai-partai kecil lainnya yang maju dalam pemilu kali ini di antaranya: Partai Energi Terbarukan, Partai Hak Perokok, Aliansi Sosialis dan Partai Anti-Pedofilia Australia.

Meningkatkan demokrasi

Mungkin yang paling 'ganjil‘ adalah Partai Flux, yang tidak memiliki kebijakan dan program. Menggunakan aplikasi Upgrade Democracy, anggota-anggota bisa memilih "ya" atau "tidak" atas setiap kebijakan parlemen melalui aplikasi Flux, yang akan menginstruksikan senator partai tersebut dalam mengambil keputusan.

"Flux app ini bisa digunakan untuk meningkatkan demokrasi Australia, merintis sistem voting real-time yang memberikan suara langsung ke parlemen," demikian dijelaskan Partai Flux pada halaman Facebook-nya.

Memilih dalam pemilu merupakan kewajiban di Australia bagi semua yang telah memasuki usia hak memilih. Jumlah pemilih tidak pernah jatuh di bawah 90 persen sejak kebijakan wajib memilih disahkan pada tahun 1924.

Pemilu kali ini akan menentukan partai mana yang akan memperoleh kesempatan menyodorkan perdana nama menteri. Selain itu pemilu ini juga akan menentukan komposisi di parlemen dan senat.

ap/as (afp)