1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pandangan Jerman terhadap AS Berubah

Sebelum Angela Merkel yang terpilih kembali sebagai kanselir berkunjung ke Washington, di Jerman muncul kekecewaan tertentu menyangkut baru politik Amerika Serikat.

default

Kanselir Jerman Angela Merkel bersama Presiden AS Barack Obama di Washington, 3 Nov

Hubungan transatlantik harus berfungsi dalam lingkup sejarah yang sama sekali berbeda dengan masa perang dingin, dengan musuh bersama yang didefinisikan dengan jelas. Demikian penilaian Constanze Stelzenmüller, pakar politik keamanan dan luar negeri pada Yayasan German Marshall di Berlin. "Dewasa ini, lebih sulit bagi Amerika dan Eropa untuk mengidentifikasi mana ancaman dan tantangan yang sama-sama harus ditanggapi. Dan dari kompleksitas masalah, mulai dari krisis keuangan, atom Iran hingga Afghanistan, tampaknya bidang politik menuntut terlalu banyak," lebih lanjut Stelzenmüller.

Sementara tingkat dukungan bagi Obama sekitar 80% lebih tinggi dari pendahulunya Bush, jajak pendapat yang dilakukan Yayasan German Marshall menunjukkan, hanya 13% warga Jerman yang menyetujui rencana Obama menambah pasukan asing ke Afghanistan. Professor Jürgen Wilzewski, pakar politik dan pengamat Amerika di Universitas Kaiserslautern mengatakan, "Presiden Obama, di satu pihak, mendapat Nobel Perdamaian. Di lain pihak, ia kini ingin menggencarkan perang Afghanistan. Di situlah letak wilayah konfliknya."

Setidaknya Eropa dan Amerika mengambil posisi sama dalam perundingan nuklir dengan Iran. Tapi, sejak terungkapnya instalasi pengayaan bawah tanah kedua di Ghom, Iran, para mitra melihat tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali menjatuhkan sanksi baru. Dikatakan Constanze Stelzenmüller.

Terkait soal lingkungan, warga Eropa, terutama rakyat Jerman yang sadar lingkungan, juga kecewa terhadap posisi Obama dalam politik iklim Amerika. Akibat minimnya dukungan di Kongres, AS tampaknya tidak akan menawarkan pembatasan emisi gas rumah kaca global pada KTT iklim di Kopenhagen mendatang. Dengan latar belakang inilah, setahun setelah ia terpilih jadi presiden, citra Obama sebagai penyelamat tercoreng di Jerman. Situasi politik dalam negeri di AS, menimbulkan keraguan. Tidak mudah, juga bagi Obama, untuk memperjuangkan posisinya sendiri.

Namun, menurut Constanze Stelzenmüller dari Yayasan German Marshall, terlalu dini untuk mengubah pandangan tentang Obama sekarang. "Barack Obama menunjukkan dalam pidatonya, juga sejarah hidupnya, bahwa ia luar biasa pintar, cerdas dan serba bisa. Itu bakat luar biasa sebagai politisi. Presiden seperti ini langka. Toh Eropa tertarik untuk bekerjasama dengan pria ini, jadi siapa yang tahu apa yang kelak terjadi?"

Daniel Scheschkewitz/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid