1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Pameran etnis Dogon di Jerman

Kebudayaan dan peninggalan alami Dogon ini sejak 1989 terdaftar di UNESCO sebagai peninggalan budaya dunia. Kehidupan etnis Dogon dan keseniannya kini dipamerkan di Bonn.

default

Bandiagara adalah nama kota, dan juga nama sebuah kawasan di wilayah Afrika Barat, tepatnya di negara Mali. Mengesankan di sini adalah kawasan perbukitan batu sekitar 200 kilometer dari Bandiagara yang merupakan tanah masyarakat Dogon.

Dengan instalasi patung dari tanah liat merah, serta foto-foto besar berukuran tiga kali 7 meter para pengunjung pameran Dogon di kota Bonn diajak memasuki dunia Dogon di Mali.

Dogon Ausstellung Dogon Trog

Kurator pameran Wolfger Stumpfe menjelaskan, "Kami ingin agar foto-foto ini memberikan gambaran bagaimana proses dibelakang karya-karya yang dipamerkan di sini. Berbeda dengan pameran lain yang mengangkat kesenian Dogon dari sudut pandang sejarah kesenian, kami membangun pameran ini dari segi etnologis. "

Diskusi mengenai benda-benda seni Dogon sudah berlangsung lama. Apakah benda-benda itu merupakan karya seni, peralatan rumah tangga, atau artifak religi, yang memiliki nilai lebih tinggi dari sekedar karya seni. Hingga kini tak ada jawaban pasti. Menurut Stumpfe, semua jawaban betul baginya. Seraya mengingatkan bahwa di Dogon tidak ada konsep karya „seni untuk seni“, Stumpfe bersikeras bahwa ke 270 patung, topeng dan benda yang dipamerkan ini tetap adalah benda seni.

Ukiran pada peralatan sehari-hari ditempatkan disamping topeng-topeng raksasa yang hingga kinipun hanya dipakai untuk tari-tarian ritual. Patung-patung yang memberikan gambaran mengenai dunia tradisional masyarakat Dogon dan mitos-mitosnya.

Dogon Weltkulturerbe aus Afrika

Patung kayu di museum Bonn


Stumpfe menunjukkan sebuah patung pasangan Dogon yang dianggap paling penting dalam sejarah seni rupa Barat. Tuturnya, "Banyak seniman seperti Picasso, Kirchner, Braque terinspirasi oleh karya seni Afrika dan Oceania. Dan pasangan ini menunjukkan mengapa begitu. Selain dibuat sangat geometris, pembuatan tubuhnya seakan berakhir dalam bentuk-bentuk kubus dan segitiga. Inilah yang sangat menarik perhatian pada seniman modern di abad ke 20-an"

Penggambaran pasangan itu sangat tipikal untuk budaya Dogon, yakni dengan kelamin ganda lelaki dan perempuan. Dalam mitologiBarat, ini biasanya ditampilkan pada sosok Hermaphrodit. Sedangkan di Dogon hal ini mengacu pada zaman purba, ketika dipercaya manusia purba memiliki dua kelamin sehingga bisa mereproduksi sendiri. Bagi masyarakat Dogon, garis keturunan nenek moyang secara tradisional masih merupakan hal yang penting.

Mali 2006 Dogon Dorf Mali Land Leute Afrika Alltag

Anak-anak di desa Dogom

Pada dasarnya pameran di Bonn menggunakan kedua titik tolak, sejarah kesenian dan etnologis yang kritis. Ada upaya besar untuk menghindari penonjolan apa yang bisa dianggap sebagai „keanehan“ dalam sebuah budaya lain. Di ruang masuk dipajang sebuah pohon nangka yang merupakan simbol klasik bagi Afrika. Disebelahnya bergantung topeng-topeng Dogon. Kemudian foto-foto berformat besar yang menggambarkan keseharian Dogon masa kini, seperti penari topeng yang berdiri di sebelah seorang anak kecil yang mengenakan T-Shirt bermotif tim sepakbola Jerman. Atau dinding sebuah rumah terlihat sebuah radio transistor yan bergantung, bersebelahan dengan tengkorak kera yang sudah mengering.

Di Bonn yang dimunculkan bukan hanya pandangan orang Barat mengenai Afrika, tapi juga pandangan masyarakat Dogon terhadap Barat. Stumpfe menerangkan, "Kami juga menyiapkan box info dengan sejumlah wawancara 6 pertanyaan yang kami buat di Dogon. Salah satunya adalah bagaimana pendapat mereka tentang pameran Dogon di Bonn, di Jerman?“

Dogon Ausstellung Dogon Trog

Menurut Wolfger Stumpfe, di satu pihak masyarakat Dogon yang menetap di Mali itu bangga. Di pihak lain, banyak yang merasa aneh karena mereka sendiri tak berpeluang untuk melihat pameran ini. Mali merupakan satu diantara sepuluh negara termiskin di dunia. Kepekaan terhadap persoalan ini bisa dibangun apabila masyarakat internasional mengenal permasalahannya, hal yang diusahakan dalam pameran ini.

Pada pameran Dogon di Bonn, pengunjung bisa bermain memainkan gendang, menghirup berbagai esensi rempah yang terdapat di tanah Dogon, menonton film dan secara langsung berbicara, atau tepatnya chatting dengan orang-orang yang menetap di tanah Dogon. Dengan begitu di samping kemungkinan menikmati estetika benda-benda seni , pengunjung bisa lebih mengerti, apa artinya hidup sebagai petani atau pengrajin Dogon.

Günther Birkenstock / Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk