1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pakistan Rawan bagi Pekerja Amal Barat

Kalangan pengamat menilai penembakan pekerja amal asal Swedia di Lahore sebagai wujud intoleransi dan sentimen anti-Barat yang terus berkembang di Pakistan.

Bargeeta Almby, seorang pekerja amal Kristen berusia 72 tahun asal Swedia, sedang dalam perjalanan pulang hari Senin (03/12/12) saat diserang sekelompok bersenjata di Lahore, sebuah kota di bagian timur Pakistan. Dokter mengatakan Almby ditembak di bagian dada dan saat ini berada di rumah sakit dan masih belum sadar.

"Sebuah peluru bersarang di dadanya. Kami segera merawatnya dan kini keadaannya membaik," jelas Ali Usman, salah seorang dokter yang menangani Almby. Namun laporan terakhir mengindikasikan bahwa Almby masih berada dalam kondisi kritis.

Polisi Pakistan meyakini, serangan terhadap Almby bukanlah 'kejahatan jalanan' karena para pelaku tidak mencoba untuk mengambil barang-barang Almby. "Penyelidikan awal kami menunjukkan fakta bahwa serangan tidak dimaksudkan untuk mengambil uang atau barang berharga lainnya dari Almby," tukas polisi senior Owais Malik, kepada DW. Ia kemudian menambahkan bahwa hingga kini polisi belum berhasil menemukan para pelaku.

Pekerja amal Kristen di Pakistan mendoakan kesembuhan Almby

Pekerja amal Kristen di Pakistan mendoakan kesembuhan Almby

Ini bukan kali pertama seorang warga negara Barat menjadi target serangan di Pakistan. Bulan Agustus tahun lalu, seorang pekerja amal berusia 71 tahun asal Amerika Serikat, Warren Weinstein, diculik dari kediamannya di Lahore dan hingga kini masih belum diketahui keberadaannya. Bulan April, seorang Muslim asal Inggris yang bekerja untuk Palang Merah diculik di sebuah kota di bagian barat daya Pakistan, Quetta, dan kemudian tewas dipancung.

Pemerintah Pakistan menuding Al-Qaeda dan organisasi-organisasi Islamis terlarang lainnya atas berbagai serangan terhadap pekerja amal Barat.

Badan amal membatasi layanan

Almby adalah direktur pelaksana bagi Majelis Injil Sepenuh di Pakistan, sebuah organisasi amal Kristen yang dibentuk di Amerika Serikat. Layanan organisasi tersebut di Pakistan termasuk sebuah institut pelatihan teknis, pusat literasi dewasa dan panti asuhan. Almby juga bekerja sebagai guru dan telah tinggal di Pakistan selama 38 tahun. Ia juga mampu berbicara Urdu dengan lancar.

"Almby tidak memiliki musuh," ujar Liaquat Qaiser, juru bicara Majelis Injil Sepenuh kepada DW. "Tampaknya serangan terhadap Almby merupakan wujud intoleransi dan ekstremisme yang terus meningkat di Pakistan. Satu-satunya 'kesalahan' Almby adalah ia berkulit putih, dan di Pakistan ia dipandang sebagai musuh."

Peter Jacob, direktur eksekutif Komisi Nasional untuk Keadilan dan Perdamaian Gereja Katolik di Pakistan, menilai, rangkaian serangan terhadap pekerja amal asing akan mengurungkan niat mereka untuk datang dan bekerja di Pakistan.

"Sejumlah organisasi amal telah menghentikan operasi mereka di Pakistan ataupun membatasi layanan mereka," ungkap Jacob. "Ini hanya akan mengisolasi Pakistan dari komunitas internasional."

Kalangan liberal di Pakistan menilai pemerintah mereka terlalu 'lunak' terhadap Islamis

Kalangan liberal di Pakistan menilai pemerintah mereka terlalu 'lunak' terhadap Islamis

Sentimen anti-Barat

Sentimen anti-Barat, terutama sentimen anti-Amerika, bukan sesuatu yang asing di Republik Islam Pakistan. Umumnya warga tidak dapat membedakan antara warga negara Amerika Serikat dengan warga negara-negara Barat lainnya. Bagi ekstremis Islam, semua warga Barat adalah kafir atau 'infidel' yang berkonspirasi melawan Islam dan Pakistan, setidaknya menurut kaum analis liberal.

"Kaum ekstremis tidak mengerti bahwa tidak semua warga Barat mendukung kebijakan Amerika Serikat. Kita seharusnya tahu setidaknya siapa yang melayani Pakistan dan siapa yang melawan Pakistan," tegas Zohra Yusuf, anggota dewan Komisi HAM Pakistan dalam sebuah wawancara dengan DW.

Menurut Yusuf, jumlah serangan terhadap warga asing terus meningkat di provinsi Punjab yang dulunya menjadi wilayah pilihan sebagian besar LSM internasional dan organisasi amal untuk berkantor. Kini pemerintah Pakistan melarang warga asing untuk tinggal dan bepergian ke provinsi Khyber Pakhtunkhwa di bagian barat laut Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan, karena alasan keamanan. Yusuf mendesak pemerintah Pakistan untuk menjamin keselamatan pekerja asing di Pakistan.

Laporan Pilihan