1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Oposisi Suriah Bersedia Berunding

Kelompok oposisi terbesar Suriah, hari Senin menyatakan bersedia menghadiri pembicaraan damai dengan syarat Presiden Bashar al-Assad menyerahkan kekuasaan dan dikeluarkan dari proses transisi.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah dua hari pertemuan di Istanbul, Koalisi Nasional mengatakan akan ambil bagian dalam pembicaraan damai di Jenewa “atas dasar pemindahan kekuasaan secara penuh.“

Mereka juga menetapkan “bahwa Bashar al-Assad dan para pihak yang tangannya berlumur darah orang Suriah" tidak boleh punya peran dalam fase transisi dan masa depan Suriah.

Langkah besar

Menanggapi pernyataan itu, Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry mengatakan, keputusan yang diambil oposisi untuk ambil bagian dalam pembicaraan damai akan menjadi sebuah ”langkah besar.“

Para tokoh oposisi Suriah sejak lama mengatakan bahwa Assad tidak boleh punya peran dalam proses transisi politik, dan berkeras agar dia mundur dari jabatannya.

Tapi pemerintah Suriah, sambil mengekspresikan keinginannya untuk menghadiri konferensi Jenewa, berkeras bahwa pengunduran Assad dari kekuasaan tidak menjadi bagian dari diskusi.

Pernyataan yang dikeluarkan Majelis Umum Koalisi, juga menyerukan pembentukan koridor bagi bantuan kemanusiaan dan pembebasan para tahanan.

“Koalisi juga mensyaratkan bahwa sebelum konferensi, konvoi bantuan dari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan lain diberi izin untuk mengakeses wilayah-wilayah yang dikepung (pemerintah),“ demikian isi pernyataan oposisi.

Mereka juga menuntut “pembebasan para tahanan, khususnya perempuan dan anak-anak“, tanpa menyediakan keterangan lebih lanjut mengenai permintaan tersebut.

Komunitas internasional yang dipimpin Amerika dan Rusia, selama berbulan-bulan berusaha membujuk semua pihak yang bertikai untuk menghadiri konferensi perdamaian Suriah di Jenewa. Tapi usulan itu maju mundur, terutama karena keengganan para pihak terkait untuk mencari titik temu. Salah satu anggota koalisi kunci telah mengancam akan meninggalkan kelompok, jika menghadiri konferensi damai.

Konflik Sunni-Syiah Ancam Dunia

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengingatkan bahwa ketegangan antara Sunni dan Syiah adalah ancaman terbesar bagi perdamaian dunia saat ini.

Ia menyebut meningkatnya perang saudara yang bersifat sektarian di Suriah telah menarik dukungan berbagai kekuatan regional dengan pemerintah Syiah Iran yang mendukung Presiden Bashar al-Assad berhadapan dengan para pemberontak yang didukung negara-negara Sunni di Teluk, dan juga khususnya Turki. Konflik itu terancam merembet ke negara-negara yang selama ini terbelah antara Sunni dan Syiah seperti Libanon dan Irak.

Ketegangan sektarian adalah “ancaman keamanan paling serius tidak hanya bagi wilayah tapi juga dunia secara keseluruhan“, kata Menlu Iran dalam wawancara dengan BBC.

“Saya pikir kita perlu datang dengan pemahaman bahwa konflik sektarian yang memecah dunia Islam adalah sebuah ancaman bagi kita semua.“

“Saya pikir kita semua,“ kata dia,“tanpa pandang perbedaan kita dalam soal Suriah, perlu bekerja bersama memecahkan masalah sektarian ini.”

Namun, Menlu Iran itu, tanpa menyebut secara langsung, menuduh para pemimpin Sunni Arab telah “mengipas-ngipasi api” kekerasan sektarian.

“Bisnis menakut-nakuti ini telah menjadi kebiasaan,“ kata Menteri Luar Negeri Iran tersebut.

ab/hp (afp,ap,rtr)

Laporan Pilihan