1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Obligasi Perusahaan Versus Pinjaman Bank

Krisis perbankan mendorong perusahaan-perusahaan skala menengah untuk berpikir ulang mengenai sumber modal. Semakin banyak perusahaan yang memilih obligasi perusahaan sebagai alternatif dari pinjaman bank.

--- DW-Grafik: Per Sander 2011_08_19_krise_aktienmarkt.psd

Pertimbangan baru perusahaan dalam krisis perbankan

Perusahaan keluarga Reiff yang memproduksi roda dan ban berusaha mengalahkan pesaing dengan menerbitkan obligasi. Perusahaan yang bermarkas di Baden-Württemberg tersebut menjual obligasi bernilai 30 juta Euro. CEO Eberhard Reiff menjelaskan: "Ini berarti pembeli obligasi memberi dana bagi perusahaan. Jelas kami harus membayar bunga dan mengembalikan modal dalam 5 tahun. Tapi investor tidak punya pengaruh terhadap tata kelola perusahaan. Tidak seperti bank."

Dengan memilih pinjaman bank, otomatis bank menjadi kreditor utama bagi perusahaan. Jenis sekuritas yang juga berarti ketergantungan besar terhadap situasi ekonomi sektor perbankan. Terutama di tengah krisis finansial, semakin banyak perusahaan yang enggan mendekati bank. Hal ini dikemukakan direktur utama Bursa Efek Düsseldorf, Dirk Elberskirch: "Pinjaman bank mempersulit perluasan pinjaman atau mendapatkan komitmen baru. Banyak perusahaan yang kecewa dengan bank akhir-akhir ini dan berupaya mencari kemandirian dalam hal permodalan melalui utang. Publik bisa menjadi jawaban."

Pasar publik sangat diminati hingga Bursa Efek Stuttgart tahun lalu membuka segmen terpisah bagi pinjaman skala menengah. Langkah yang diikuti bursa efek lainnya. Hanya di Düsseldorf, obligasi perusahaan yang terkumpul dalam periode April hingga Juli bernilai 170 juta Euro. Di seluruh dunia, dalam 12 bulan terakhir ada 33 perusahaan di pasar terbuka yang mengumpulkan hampir 2 miliar Euro.

Skala perusahaan yang menerbitkan obligasi tentu berperan besar. Obligasi perusahaan hanya bisa dijual oleh perusahaan yang memiliki angka penjualan sedikitnya 50 juta Euro per tahun. Perusahaan itu juga harus melewati masa persiapan selama 4 hingga 6 bulan untuk membuat sebuah prospektus yang menjadi gabungan profil perusahaan dengan laporan tahunan sehingga memberi gambaran mengenai obligasi yang ditawarkan ke publik. Kewajiban hukum sangat diperlukan menurut Tobias Gressinger, seorang pengacara di biro C'M'S': "Daftarnya harus lengkap dan sesuai, serta melewati prosedur persetujuan Otoritas Pengawasan Finansial Jerman (BaFin)."

Untuk bisa memasuki pasar modal, sebuah perusahaan juga harus memiliki peringkat kredit. Ralf Garrn dari lembaga pemeringkat Euler Hermes yang khusus menangani penilaian perusahaan memaparkan: "Kami menilai perusahaan pertama-tama dengan memahami model bisnisnya, kemudian melihat resiko bisnis perusahaan, arus dana yang dibutuhkan perusahaan dalam segmen pasar tertentu. Akhirnya resiko yang timbul dari segmen ini yang berkaitan dengan contohnya situasi pasar yang memburuk, pendapatan yang terus berkurang, dan sebagainya."

Wakil dari lembaga pemeringkat kredit akan mengawasi perusahaan selama 2 hari, lalu berurusan dengan penilaian selama sebulan. Proses yang akan diulangi setiap tahun karena peringkat kredit harus terus diperbaharui. Semua itu belum ada apa-apanya dibanding apa yang menanti. Kembali Dirk Elberskirch dari Bursa Efek Düsseldorf: "Dengan sekali pembiayaan, perusahaan mengharapkan tingkat suku bunga antara 3 hingga 5 persen dari nilai obligasi. Belum lagi ditambah bunga tahunan yang harus dibayar."

Namun saat ini tingkat suku bunga obligasi perusahaan saat ini bergerak antara 7 hingga 8 persen. Ikut campurnya investor swasta pun mendorong obligasi perusahaan skala menengah dibuka dengan satuan 1.000 Euro. Status obligasi perusahaan sebagai pilihan yang aman dapat benar-benar menciptakan tren peminjaman korporat.

Setidaknya perusahaan keluarga Reiff berupaya merebut hati para investor dengan menjanjikan tingkat suku bunga di level 7 persen per tahun. Level yang dipatok stabil bahkan di tengah ekonomi sulit. "Kami memprediksi perlambatan dan bukan resesi. Perekonomian yang sebenarnya jauh lebih kuat dari yang orang-orang bayangkan."

Pertaruhan yang sama tetap berlaku bagi para investor. Karena semakin tinggi tingkat suku bunga yang dijanjikan, semakin tinggi juga resiko perusahaan bangkrut. Jadi obligasi perusahaan tidak bisa dibilang aman, lebih tepat jika disebut sebagai obligasi beresiko.

Zhang Danhong/Carissa Paramita

Editor: Edith Koesoemawiria