1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Obat Cacing Anjing Ampuh untuk Anak-Anak

Periset di Swiss menemukan zat baru yang membunuh cacing parasit pada anak-anak. Namun zat ini tak bisa dibilang baru. Dokter hewan bertahun-tahun menggunakannya untuk mengatasi cacing pada anjing.

Cacing cambuk dikenal sebagai cacing parasit yang hidup dalam usus besar. Anak-anak kerap cacingan setelah bermain di tanah yang kotor. Tidak tersedianya toilet dan air bersih juga membantu penyebaran cacing ini di negara-negara berkembang.

Kini para periset dari Institut Tropis dan Kesehatan Publik di Basel, Swiss, telah menemukan obat yang efektif. Mereka merawat anak-anak sekolah di Pemba, Tanzania, dengan oxanthel pamoate - sebuah komponen aktif yang mengobati anjing cacingan di beberapa negara.

Setelah minum satu tablet, 31 persen anak-anak yang terinfeksi dinyatakan sembuh.

"Jumlahnya tidak terdengar hebat, tapi juga lebih baik dibandingkan hasil yang didapat dari obat standar," ujar Benjamin Speich, pimpinan studi tersebut, kepada DW.

Lebih baik dari obat di pasaran

Albendazole dan mebendazole adalah obat-obatan standar yang dipakai untuk mengatasi cacingan pada anak-anak sekolah di banyak negara Afrika.

Obat-obatan tadi ampuh mengatasi cacing tambang dan cacing gelang, namun tidak terlalu efektif untuk cacing cambuk. Speich dan timnya menemukan bahwa albendazole menyembuhkan 2,6 persen kasus infeksi cacing cambuk. Dan hanya mengurangi jumlah telur cacing pada tinja anak-anak hingga 45 persen. Jumlah telur turun sampai 96 persen apabila diminum berbarengan dengan oxanthel pamoate - yang juga digunakan untuk merawat anjing cacingan.

Namun hingga oxanthel pamoate disetujui untuk mengatasi cacing cambuk pada manusia, uji klinis dengan kelompok tes yang lebih besar masih harus dilalui. Para peneliti juga harus mencari tahu dosis yang tepat.

Mungkin tak cukup menguntungkan

Sementara, siapapun yang ingin mengobati cacingan dengan oxanthel pamoate harus pergi ke Filipina - satu-satunya negara di dunia yang mengesahkan penggunaan pada manusia. Sekelompok periset telah sukses mengetes obat ini pada manusia di tahun 70-an. Namun studi itu sudah terlupakan.

"Infeksi cacing umumnya muncul pada warga miskin. Industri farmasi jelas tidak tertarik untuk mengembangkan obat untuk melawan penyakit ini," kata Speich.

Merawat hewan mungkin lebih menguntungkan. Hewan ternak berpotensi minim daging saat terinfeksi cacing. Bahkan, banyak obat yang merawat cacing parasit berasal dari dunia kedokteran hewan, menurut Speich.

"Adalah sebuah pengecualian"

Rolf Hömke dari asosiasi Jerman untuk perusahaan farmasi berbasis riset menyadari adanya kasus lain di mana sebuah obat pertama-tama digunakan pada hewan dan baru kemudian juga terbukti efektif bagi manusia. Salah satunya adalah obat penyakit lain akibat cacing, yakni Onchocerciasis atau river blindness.

"Namun kasus seperti ini adalah sebuah pengecualian," jelasnya. Seringkali, justru sebaliknya.

Selama bertahun-tahun, dokter telah memakai telmisartan untuk mengatasi hipertensi. Dan baru sekarang obat tersebut boleh digunakan untuk merawat kucing dengan gagal ginjal.

Namun lebih sering lagi, perusahaan farmasi mengembangkan obat bagi hewan dan manusia pada saat yang bersamaan.

"Uji klinis amatlah mahal," lanjutnya. Sehingga perusahaan farmasi tidak akan menghemat uang apabila mengembangkan obat untuk hewan terlebih dahulu dan baru kemudian disesuaikan untuk penggunaan pada manusia. Uji klinis harus mulai dari awal kalau obat itu ingin digunakan pada spesies lain.

Laporan Pilihan