1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Obama Terima Dalai Lama di Bawah Kecaman Cina

Sekalipun Cina berulangkali melayangkan protes, Obama menerima Dalai Lama. Juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs menerangkan, dalam hubungan AS dan Cina tentu ada kesamaan dan perbedaan pandangan dan kepentingan.

default

Pertemuan antara Presiden Barack Obama dan Dalai Lama yang akan berlangsung Kamis (18/02) ini tentu memancing reaksi dari Cina. Pemerintah Amerika Serikat berharap, dampaknya tidak terlalu besar pada hubungan kedua negara. Barack Obama ingin memperlihatkan bahwa ia tetap menjalankan politiknya secara mandiri, dan tidak terpengaruh tekanan dari luar negeri. Belakangan memang banyak muncul kritik di dalam negeri, terutama dari kubu Republik, bahwa Obama terlalu lunak menghadapi Iran atau Cina.

Tahun 2009 lalu, Obama masih menghindari pertemuan dengan Dalai Lama karena tidak ingin ada gangguan dalam agenda kunjungannya ke Cina. Ketika itu, para aktivis dan organisasi hak asasi mengeritik langkah itu. Sikap Obama sekarang disambut berbagai organsaisi hak asasi dan komunitas Tibet di seluruh dunia.

Kalden Lodoe dari komunitas Tibet di Washington menerangkan, ini sebenarnya pertemuan biasa. "Dia bukan presiden Amerika Serikat pertama yang menemui Dalai Lama. Sejak tahun 1990, semua presiden Amerika Serikat bertemu dengan Dalai Lama. Jadi ini sebenarnya pertemuan rutin."

Sekalipun begitu, pertemuan dengan Dalai Lama akan mempersulit posisi Obama yang ingin mendapat dukungan dari Cina dalam beberapa isu global, misalnya dalam sengketa nuklir dengan Iran dan dengan Korea Utara. Apalagi beberapa waktu terakhir, hubungan dengan Cina memang makin renggang. Amerika Serikat mengeritik politik mata uang dan perdagangan yang dijalankan Cina. Sedangkan Cina mengecam penjualan sistem persenjataan Amerika Serikat kepada Taiwan.

Juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs berharap, hubungan dengan Cina cukup kuat menghadapi berbagai pertentangan ini. "Hubungan antara kami sudah cukup matang, sehingga kami bisa bersepakat dalam berbagai isu demi kepentingan bersama. Tapi hubungan kami juga cukup matang untuk menyadari, bahwa dua negara di planet ini tidak bisa selalu sepakat dalam segala isu."

Gedung Putih melakukan beberapa kompromi untuk meredam ketegangan dengan Cina. Secara protokoler, Dalai Lama tidak diterima sebagai seorang pimpinan politik: Jadi pertemuan hari Kamis (18/02) ini tidak dilakukan di ruang kantor resmi Obama di Oval Office. Juga tidak ada konferensi pers bersama usai pertemuan.

Seorang pejabat senior pemerintahan AS menerangkan, reaksi kali ini tidak akan berbeda dari masa lalu. Cina akan melontarkan kritik tajam, namun setelah itu mereka akan bergeser ke aspek lain dan memperluas hubungan dagang.

Hari Rabu (17/02), Cina mengizinkan kapal perang Amerika Serikat Nimitz merapat di ke Hongkong sesuai jadwal. Para pengamat menilai, langkah ini sebagai sinyal meredakan ketegangan. Cina saat ini merupakan kreditor kedua terbesar bagi Amerika Serikat setelah Jepang. Jadi sekalipun banyak perbedaan pandangan, Cina dan Amerika Serikat tetap punya kepentingan besar menjaga hubungannya.

Selain bertemu dengan Presiden Barack Obama di Washington, Dalai Lama juga berbicara dengan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.

HP/ZER/rtr, dpa, afp