1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Obama Masih Belum Miliki Strategi Tepat untuk Afghanistan

Obama kini sedang menghadapi tugas rumit: strategi apa yang ia harus terapkan di Afghanistan? Diskusi mengenainya sudah berlangsung selama lima minggu. Situasi di Afghanistan maupun di Pakistan saat ini mencemaskan.

default

Presiden AS Barack Obama

Bila Presiden Amerika Serikat Barack Obama ditanya menyoal strateginya di Afghanistan, raut mukanya berubah dan ia menjawab: "Tujuan utama kami tetap sama: menemukan dan menghabisi kelompok Al Qaida dan pendukung radikalnya yang berencana menyerang Amerika Serikat dan sekutunya."

Selain itu, strategi AS bertujuan menstabilkan kawasan, termasuk Pakistan. Tapi Obama bungkam mengenai cara mencapai target ini. Walau Obama berunding dengan penasehat keamanannya di belakang pintu tertutup, para peserta pembicaraan tetap tidak tahu apa yang dipikirkan Obama. Apakah ia siap mengiriman 40.000 atau lebih tentara tamabahan ke Afghanistan, seperti yang disarankan komandan tertinggi AS di Afghanistan, Stanely McChrystal. Atau mungkin ia lebih setuju dengan pendapat Wakil Presiden Joe Biden, yang menolak pengiriman tentara tambahan tapi memilih untuk memerangi Al Qaida secara terarah.

Apakah Obama lebih memilih solusi besar atau kecil? Yang jelas hanya satu hal: Obama tidak mau dipojokkan untuk segera mengambil keputusan. "Saya yakin, proses ini akan tuntas di pekan-pekan mendatang," ujar Obama.

Obama tidak memberikan jawaban yang lebih konkret - walau sejumlah pihak di Washington mulai tak sabar dan mendesak pengambilan keputusan secepat mungkin. Jurnalis Colin Clark mengerti, mengapa Obama tak mau dipojokkan. Clark menulis bagi media online DoDbuzz yang menitikberatkan pada politik keamanan AS.

"Mengingat Obama tidak berpengalaman dalam soal militer dan pendukungnya dari kubu Demokrat dengan tegang menunggu keputusan yang akan diambilnya, memang benar kalau Obama tidak berburu-buru dan mendengarkan semua pihak," demikian Clark.

Strategi untuk Afghanistan harus menjamin keamanan di Afghanistan maupun Pakistan. Di AS banyak pihak kuatir bahwa Pakistan yang memiliki senjata atom tenggelam dalam kekacauan. Masalah lain adalah Obama harus mendapat dukungan bagi strateginya di AS.

Jika Obama memutuskan untuk menambah jumlah pasukan di Afghanistan, ia pasti mendapat dukungan kubu Republik. Sebaliknya, Partai Demokrat tidak setuju untuk mengirim lebih banyak tentara AS ke Afghanistan. Demikian juga mayoritas warga AS. Saat ini 68.000 tentara AS ditempatkan di Afghanistan. Belakangan, jumlah tentara yang tewas di Afghanistan lebih banyak daripada di Irak. Di AS mulai beredar ungkapan bahwa Afghanistan akan menjadi Vietnamnya Obama. Dan tentu Obama tak menginginkan hal ini.

Mungkin solusi terbaik bagi Obama adalah mengambil jalan tengah. Misalnya dengan hanya mengirim 20.000 tentara tambahan ke Afghanistan. Yang jelas, menurut jurnalis Colin Clark, ini berpeluang menjadi keputusan terpenting Presiden Obama dan Menteri Pertahanan Robert Gates selama masa tugas mereka.

Anna Engelke/Ziphora Robina
Editor: Dewi Gunawan-Ladener

Laporan Pilihan