1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Obama: Berhati-hati untuk Optimis

Setelah terhenti hampir dua tahun, Israel dan Palestina ingin kembali bernegosiasi secara langsung. Kamis ini perundingan akan dilangsungkan di Washington. Semalam, pihak-pihak yang terlibat bertemu di Gedung Putih.

default

Presiden Palestina Mahmud Abbas dan PM Israel Benyamin Netanyahu di Ruang Timur, Gedung Putih, di Washington, Rabu (01/09).

Politik Timur Tengah mendominasi Washington, hari-hari ini. Rabu (01/09) Presiden AS Barack Obama bertemu secara terpisah dengan para tamunya, sebelum malamnya menjamu mereka untuk makan bersama.

Pertama pembicaraan dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas, kemudian PM Israel Benjamin Netanyahu. Lalu dengan dua kekuatan kunci regional, Presiden Mesir Husni Mubarak dan Raja Yordania Abdullah II.

Obama menyebut 'awal yang sempurna'. Terkait perundingan langsung Israel-Palestina, ia menyatakan berhati-hati untuk merasa optimis.

"Kedua pihak mengindikasikan perundingan ini bisa diselesaikan dalam satu tahun. Dan saya katakan kepada mereka, kesempatan ini mungkin tidak datang lagi dalam waktu dekat“, kata Obama.

AS akan mendukung perundingan itu sekuat tenaga, namun keberhasilan tetap ada di tangan Israel dan Palestina. Obama mengatakan, ia tidak berilusi bahwa prasangka selama bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu malam.

"Kerja keras baru saja dimulai. Sukses atau gagal, tak bisa diramalkan. Satu hal yang pasti, jika kita tidak berupaya, kita pasti akan gagal. Kalau kedua pihak tidak bersungguh-sungguh dalam perundingan ini, maka konflik yang sudah berlangsung lama akan terus membesar dan menelan generasi berikutnya. Dan ini tidak bisa kita biarkan“, tandas Obama.

Disepakati bahwa hasil yang ingin dicapai dalam perundingan adalah dua negara merdeka. Sebelum itu, status Yerusalem harus diperjelas dan batas negara Palestina harus ditetapkan. Namun, perundingan di Washington dibayangi serangan kelompok radikal Islam Hamas terhadap pemukim Yahudi di Hebron.

Presiden Mahmud Abbas mengutuk serangan itu, yang menewaskan empat warga Yahudi, termasuk seorang wanita hamil. Abbas mengatakan sama sekali tidak menginginkan darah menetes, baik dari pihak Palestina maupun Israel. Ia akan melakukan segalanya agar perundingan berhasil. Abbas juga menegaskan tuntutan agar Israel menghentikan pembangunan pemukiman di wilayah Palestina, sampai perundingan damai selesai.

Jordan's King Abdullah II, Egyptian President Hosni Mubarak, Palestinian President Mahmoud Abbas, Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu and President Barack Obama leave after making remarks on the Middle East peace negotiations in the East Room of the White House in Washington, Wednesday, Sept. 1, 2010. (AP Photo/Charles Dharapak)

Raja Yordania Abdullah II, Presiden Mesir Hosni Mubarak, Presiden Palestina Mahmud Abbas, PM Israel Benyamin Netanyahu dan Presiden AS Barack Obama di Ruang Timur, Gedung Putih, setelah memberi pernyataan tentang negosiasi Timur Tengah di Washington, Rabu (01/09).

Moratorium Israel tentang penghentian pembangunan akan berakhir 26 September. PM Netanyahu tidak menyinggung masalah itu tetapi mengatakan bahwa Israel dan Palestina harus belajar untuk hidup berdampingan satu sama lain.

"Presiden Abbas," kata Netanyahu, "Anda adalah mitra saya dalam perdamaian".

Netanyahu menambahkan, ia datang untuk mencapai kompromi bersejarah, yang memungkinkan rakyat Israel dan Palestina hidup dalam perdamaian, rasa aman dan martabat. Namun kata-kata hangat Netanyahu tidak menyamarkan kekukuhan posisinya.

Menunjuk pada situasi di Libanon dan Gaza, ia bertekad memastikan wilayah yang mereka serahkan tidak berbalik menjadi kantung teror yang menjadikan Israel sebagai sasaran.

Di depan kamera, Abbas dan Netanyahu bertukar senyum dan jabat tangan dalam penampilan yang diharapkan oleh Gedung Putih akan menghalau saling curiga dan kesangsian akan prakarsa Obama.

Namun pembicaraan berat yang sesungguhnya akan dimulai Kamis ini (02/09), ketika kedua pemimpin bertemu di Departemen Luar Negeri di Washington, mengawali perundingan langsung Israel-Palestina, yang pertama setelah 20 bulan. Dan membawa isu-isu yang menggagalkan upaya perdamaian sebelumnya.

Christina Bergmann/ Renata Permadi

Editor : Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan